Bupati Natuna, Cen Sui Lan, saat meninjau kegiatan normalisasi di Desa Sebadai Ulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Rabu (17/6/2026). (Foto: nang)
NATUNA (marwahkepri.com) – Langit mendung dan hujan deras selama bertahun-tahun bukan sekadar perubahan cuaca bagi warga Desa Sebadai Ulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut. Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, kecemasan selalu menyelimuti masyarakat. Sungai yang membelah permukiman kerap meluap, menggenangi rumah-rumah warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kini, perlahan rasa cemas itu mulai berganti menjadi harapan.
Rabu (17/6/2026), Bupati Natuna Cen Sui Lan bersama Wakil Bupati Jarmin Sidik dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Agus Supardi turun langsung meninjau pelaksanaan normalisasi sungai yang selama ini menjadi harapan masyarakat.
Di tepi alur sungai yang kini tampak lebih lebar dan lebih dalam, rombongan pemerintah daerah memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan lapangan, tetapi menjadi bukti bahwa aspirasi masyarakat ditindaklanjuti melalui langkah nyata.
Upaya tersebut berawal dari usulan Pemerintah Kabupaten Natuna kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS). Menindaklanjuti permohonan tersebut, BWSS mengerahkan alat berat untuk melakukan normalisasi pada sungai yang selama ini menjadi titik rawan banjir.
“Kehadiran kami hari ini untuk melihat langsung progres pekerjaan yang telah dilakukan BWSS atas permintaan pemerintah daerah. Pelebaran dan pendalaman alur sungai ini dilakukan agar masyarakat tidak lagi terdampak banjir,” ujar Bupati Natuna, Cen Sui Lan.
Menurut Cen, penanganan banjir menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Pada tahun ini, terdapat empat lokasi yang mendapatkan program normalisasi atau pendalaman alur sungai, yakni Sebadai Ulu, Limau Manis, Batu Hitam, dan Jalan Sihotang.
“Saya tidak ingin ada lagi masyarakat Natuna yang terdampak banjir. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Setelah dinormalisasi, sungai harus dijaga dan dirawat. Mari ajak warga bergotong royong membersihkan rumput dan tanaman yang dapat menghambat aliran air,” pesannya.
Kepala Desa Sebadai Ulu, Darmawan, mengatakan normalisasi sungai di wilayahnya dilakukan sepanjang kurang lebih enam kilometer. Sementara itu, di kawasan Limau Manis, pekerjaan serupa dilaksanakan sepanjang sekitar dua kilometer. Program tersebut telah berjalan sejak April 2026.
Ia mengungkapkan, sejak alat berat mulai bekerja memperlebar dan memperdalam alur sungai, perubahan mulai dirasakan masyarakat. Air yang sebelumnya mudah meluap kini mengalir lebih lancar menuju muara.
“Sejak dilakukan normalisasi, belum ada lagi kejadian banjir meskipun hujan turun. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Bupati Natuna yang telah merespons cepat keluhan masyarakat terkait banjir yang kerap terjadi saat musim hujan. Terima kasih juga kepada BWSS yang telah membantu merealisasikan pekerjaan ini,” ujar Darmawan.
Bagi masyarakat Sebadai Ulu, normalisasi sungai bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur. Program ini menjadi ikhtiar menghadirkan rasa aman bagi warga yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman banjir.
Di wilayah kepulauan seperti Natuna, sungai yang terawat bukan hanya menjadi saluran air, tetapi juga penopang kehidupan masyarakat. Kini, ketika awan kembali menggantung di langit Sebadai Ulu, warga memiliki harapan baru. Aliran sungai yang telah dinormalisasi diharapkan mampu mengurangi risiko banjir, sehingga kekhawatiran yang dahulu selalu datang bersama musim hujan perlahan dapat menjadi bagian dari masa lalu. MK-nang
Redaktur: Munawir Sani
