e90b6990-1da0-422e-b1e9-8027957dd75e

Suasana rapat koordinasi (rakor) pengendalian inflasi daerah yang digelar oleh Pemda Natuna, pada Selasa, 14 April 2026, bertempat di ruang rapat lantai II kantor Bupati. (Foto: nang)

‎NATUNA (marwahkepri.com) – Harga kebutuhan pokok (primer) di kabupaten Natuna, hingga sekarang masih sangat bergantung pada distribusi kapal.

Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi (rakor) pengendalian inflasi daerah yang digelar oleh Pemda Natuna, pada Selasa, 14 April 2026, bertempat di ruang rapat lantai II kantor Bupati.

‎Kepala Disperindagkopum sekaligus menjabat Asisten II, Marwan Syaputra, mengatakan, hasil survei bersama Satgas Polres Natuna bahwa fluktuasi harga sangat dipengaruhi kedatangan kapal.

‎Menurutnya, ketika kapal logistik bersandar, harga sembako cenderung turun. Namun saat kapal terlambat atau belum tiba, harga langsung merangkak naik.

‎”Bahkan bisa mencapai kenaikan rata-rata Rp 2.000 per kilogram untuk komoditas seperti beras, minyak goreng, cabai, dan bawang,” ungkapnya.

‎Persoalan ini kata dia bukan hal baru, tetapi menjadi semakin terasa ketika operasi pasar dilakukan. Angka yang mungkin tampak kecil di kota besar, namun cukup signifikan bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Sementara itu, Bupati Natuna Cen Sui Lan, meminta kepada stakeholder terkait agar mengidentifikasi segala persoalan dan memberikan solusi konkrit yang dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.

Baca Juga:  Anggaran BP Batam 2027 sebesar Rp 2,44 Triliun, Fokus Pengembangan Investasi Inklusif dan Kawasan

‎”Persoalan-persoalan yang ada ini harus diidentifikasi serta mencari solusi terbaik demi kepentingan masyarakat kita,” ujarnya.

Rakor dihadiri berbagai kepala Organiasi Pemerintah Daerah (OPD), Perwakilan Bank Indonesia, Perwakilan Pertamina, hingga stakeholder lainnya. MK-nang

Redaktur: Munawir Sani