Peluncuran buku biografi berjudul Ketika Langkah Menjadi Sejarah: 70 Tahun Huzrin Hood, Jumat (30/10/2026) malam. F-Istimewa
Oleh Muhammad Natsir Tahar*
Ada api yang tak pernah padam di balik timbunan sekam. Ia menyala diam-diam, merembes perlahan, hingga suatu ketika ia meledak seperti supernova. Inilah kisah tentang api itu.
Di sebuah kampung kecil bernama Sungai Ungar, di tepian selat yang airnya tak pernah benar-benar tenang, seorang anak lelaki lahir ke dunia. Dunia yang tiba-tiba tidak ramah. Dolar yang dulu mengalir deras dari Singapura telah digantikan oleh rupiah yang sakit-sakitan. Konfrontasi dengan Malaysia menghilangkan kemewahan, mengubah kampung halamannya menjadi miskin, dan di dalam tudung saji, emaknya hanya menyisakan ikan asin yang dibakar di atas tutup periuk. Dalam sekam kemiskinan dan ketidakpastian itu, api takdirnya mulai menyala, samar, tapi tidak pernah padam. Anak itu belajar sejak dini bahwa perut boleh lapar, tetapi hati tidak boleh kehilangan arah.
Siapa yang menyangka bahwa budak yang berjualan es kantong itu, kelak akan mengubah peta Indonesia? Siapa yang menduga bahwa seorang guru agama yang gagal menyelesaikan kuliah di IAIN Pekanbaru karena tidak punya biaya, akan menjadi lokomotif lahirnya Provinsi Kepulauan Riau? Nyala kecil dalam sekam kampung itu diam-diam membakar hambatan, merambat dari dapur asap ke ruang-ruang kekuasaan. Anak yang dulu melewati kuburan dengan radio keras-keras untuk mengusir ketakutannya sendiri, tumbuh menjadi lelaki yang berani berdiri sendirian di tengah demonstran bersenjata parang, dengan hanya bermodalkan semboyan Merah Putih dan keyakinan bahwa keadilan harus ditegakkan meski membayar mahal.
Søren Kierkegaard, pernah mengatakan: “Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” Hanya ketika menengok ke belakang, seorang pejuang bisa memahami mengapa ia harus melewati semua kepahitan itu. Dan Huzrin Hood menjalani hidupnya ke depan tanpa pernah bertanya, “Mengapa aku?” Ia hanya bertanya, “Apa yang harus aku perbuat?” Seperti bara yang tak memilih di mana ia diletakkan, di atas lilin atau di dalam sekam, ia hanya terus menyala.
Ia memilih untuk menjadi panglima bagi sebuah perjuangan yang tidak menjanjikan keabadian. Ia memilih menjadi batu loncatan bagi lahirnya sebuah provinsi, meskipun batu itu kemudian diinjak-injak dan ditinggalkan. Ia memilih menjadi tumbal. Karl Marx, dalam salah satu tulisannya yang paling pedih, mengingatkan: “Mereka yang membuat revolusi setengah-setengah hanya mempersiapkan kuburan mereka sendiri.” Huzrin tidak membuat revolusi setengah-setengah. Ia masuk ke medan perang tanpa pelindung kepala, tanpa tameng. Ia adalah bara yang tak kenal kompromi dengan sekam.
Ia berbicara di hadapan para jenderal dan menteri. Ia melobi Madam Ho Ching di Singapura. Ia mengirim surat ke Mahkamah Agung. Ia memimpin shalat di masjid Sultan Riau bersama Gus Dur. Ia juga menerima pisau yang diacungkan di hotel Batam, bom molotov yang disiapkan di Lagoi, dan vonis penjara yang membuatnya tertunduk lesu di Sukamiskin.
Dalam pandangan filsuf Yunani, Epictetus, yang hidup dalam perbudakan namun merdeka jiwanya: “Bukan hal-hal yang terjadi pada diri kita yang membuat kita menderita, melainkan tanggapan kita terhadap hal-hal itu.” Huzrin tidak pernah menjawab fitnah dengan fitnah, penjara dengan dendam. Ia menjawab dengan ketenangan. Di dalam sel, ia menjadi imam. Di dalam tembok, ia menjadi penasihat. Ia bergaul dengan narapidana lain, mendengarkan cerita mereka, mengajarkan mereka bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan. Ia membaca, menulis, dan merenung. Ia keluar tanpa kepahitan. Ia keluar sebagai orang yang sama yang dulu masuk: seorang pejuang yang tidak pernah kehilangan arah.
Setiap pejuang besar setidaknya memikul tiga beban: pengkhianatan, fitnah, dan keterasingan. Huzrin mengalami semuanya sekaligus. Ia dikhianati oleh orang-orang yang duduk semeja dengannya di BP3KR. Ia difitnah dengan tuduhan korupsi yang kemudian menyusut hingga menjadi angka yang kecil, hanya karena ia tidak sempat memahami administrasi keuangan dengan sempurna. Ia juga diasingkan, bukan hanya oleh teman seperjuangan yang lebih memilih bertiarap, melainkan juga oleh sistem yang memenjarakannya sementara provinsi yang ia lahirkan dirayakan di luar sana.
Namun ia tidak pernah mengeluh. Albert Camus, sang absurd, menulis: “Di tengah musim dingin, aku akhirnya menemukan bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” Huzrin mengalami musim dingin yang panjang: penjara, penyakit, perpisahan dengan keluarga, penghinaan. Namun di dalam dadanya tetap menyala musim panas yang tidak pernah mati. Ia tersenyum ketika mendengar bahwa provinsi Kepri akhirnya diresmikan, meskipun ia mengetahuinya dari teman yang menjenguk di balik jeruji. Itulah api dalam sekam: ia tak perlu sorak sorai untuk terus bernyala.
Ia juga mengajarkan pelajaran paling sulit: bahwa perjuangan tidak selalu berakhir dengan kemenangan pribadi. Kadang kemenangan justru terletak pada kemampuan untuk terus tersenyum ketika orang-orang yang kau perjuangkan melupakan jasamu. Filsuf Cina kuno, Lao Tzu, berkata: “Air yang lembut dapat menembus batu yang keras. Bukan karena kekuatan, tetapi karena ketekunannya.” Huzrin adalah air. Tapi juga api. Air yang mengalir, nyala yang diam-diam membakar. Ia tidak pernah memukul dengan kekerasan. Ia merembes, mengalir, menyusup melalui celah-celah birokrasi dan intrik. Ia tidak melawan arus, ia menjadi arus itu sendiri.
Buku ini bukanlah monumen untuk mengabadikan seorang pahlawan. Huzrin tidak pernah mengaku pahlawan. Ia hanya mengatakan bahwa ia melakukan apa yang harus dilakukan. Ketika ditanya mengapa ia rela menanggung risiko sebesar itu, jawabnya sederhana: “Karena saya melihat rakyat kepulauan ini lelah. Mereka sudah cukup lama menunggu.” Di balik kesederhanaan itu, tersimpan bara yang membakar ketidakadilan tanpa suara.
Dalam konteks ini, kita diingatkan pada pemikiran Hannah Arendt tentang banality of evil: kebanalan kejahatan di mana orang biasa melakukan kekejaman karena mengikuti aturan tanpa bertanya. Sebaliknya, Huzrin menunjukkan extraordinary of good, ia melakukan kebaikan luar biasa karena melanggar aturan yang tidak adil. Ia melompati prosedur yang dibuat untuk menghambat. Ia membuka poros Tanjungpinang-Jakarta ketika Pekanbaru terus menutup pintu. Ia tidak pernah meminta izin untuk berbuat benar. Ia hanya berbuat benar, lalu meminta maaf jika perlu. Itulah keberanian api: membakar tanpa meminta izin terlebih dulu.
Friedrich Nietzsche, pernah mengingatkan: “Hal yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat.” Huzrin tidak mati oleh fitnah, tidak mati oleh penjara, tidak mati oleh pengkhianatan. Ia justru menjadi lebih utuh. Ia menjadi lebih bijak. Ia menjadi lebih rendah hati. Dan ketika banyak orang khawatir ia akan kembali sebagai pendekar yang haus balas dendam, ia pulang sebagai kakek yang ingin memangku cucu-cucunya. Api dalam sekam tidak pernah dendam. Ia hanya menyala, dan dengan menyala, ia mengubah segala sesuatu di sekitarnya.
Kisah ini dimulai dari sebuah sungai kecil di Tanjungbatu, dan sempat terdampar di sel penjara Sukamiskin, Bandung. Namun tidak berakhir di situ. Seperti sungai yang terus mengalir ke laut, perjuangan Huzrin tidak pernah usai. Seperti api yang tak pernah padam, ia terus mencari oksigen baru. Ia menjadi pemangku adat Kerajaan Bentan, menghidupkan kembali budaya Melayu yang hampir punah, menjadi jembatan antara keraton-keraton Nusantara, dan berbisik kepada generasi muda bahwa sejarah bukan hanya milik masa lalu, melainkan juga bahan bakar untuk melompat ke masa depan.
Buku ini kami persembahkan untuk mereka yang masih percaya bahwa satu orang bisa membuat perubahan, meskipun perubahan itu mungkin tidak akan ia nikmati sepenuhnya. Untuk mereka yang rela menanggung sendiri, agar orang lain tidak perlu menanggung. Karena pada akhirnya, sebagaimana kata penyair Kahlil Gibran: “Kegembiraan dan dukacita adalah saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan. Mereka datang bersama. Ketika salah satu duduk bersama di mejamu, ingatlah bahwa yang lain sedang tertidur di atas ranjangmu.”
Selamat membaca perjalanan seorang anak kampung yang memilih menjadi api, padahal ia bisa saja memilih menjadi abu. Yang memilih menyala dalam sekam, diam-diam, tanpa pernah minta ditaburi minyak. Yang takdirnya bukan untuk bersinar di atas panggung, melainkan membakar jalan bagi mereka yang datang kemudian.
“Biarlah aku yang menanggung sendiri,” katanya.
Dan kita hanya bisa mengangguk hormat. Karena api seperti itu jarang lahir dua kali. Dan jika pun lahir, ia takkan pernah mengumumkan kedatangannya. Ia hanya menyala. Diam-diam. Dan membakar sekam. Sampai habis. ~
Muhammad Natsir Tahar_Writerpreneur, Penulis Biografi Ketika Langkah Menjadi Sejarah: 70 Tahun Huzrin Hood
