Indoneisa masuk El Nino

Ilustrasi Elnino. (f: net)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Ancaman Super El Nino pada 2026 diperkirakan jauh lebih serius dari sekadar cuaca panas dan kekeringan. Fenomena iklim tersebut berpotensi memicu hampir 900.000 kematian tambahan di seluruh dunia dalam kurun waktu 10 bulan akibat paparan panas ekstrem.

Proyeksi tersebut disampaikan para ilmuwan melalui El Nino Heat Mortality Tracker, platform yang dikembangkan Climate Impact Lab dari Universitas Chicago untuk memperkirakan dampak El Nino terhadap angka kematian akibat suhu panas di berbagai negara.

Dilansir dari The Independent, Kamis (29/10/2026), para peneliti memperkirakan fenomena El Nino telah menyebabkan sekitar 484.500 kematian tambahan terkait panas selama Juni hingga September 2026.

Jumlah tersebut diperkirakan masih meningkat. Dalam enam bulan berikutnya, sekitar 372.900 kematian tambahan diproyeksikan terjadi akibat paparan suhu ekstrem.

El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Ketika intensitasnya sangat kuat, fenomena ini dapat memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai belahan dunia.

Indonesia Masuk Lima Negara dengan Risiko Kematian Tertinggi

Peta El Nino Heat Mortality Tracker menunjukkan sejumlah negara diperkirakan menghadapi risiko kematian tambahan tertinggi akibat panas ekstrem dalam enam bulan mendatang.

Nigeria berada di posisi teratas dengan proyeksi lebih dari 56.000 kematian tambahan. India menyusul dengan perkiraan sekitar 55.000 kematian.

Indonesia juga masuk dalam lima besar negara yang diperkirakan mengalami dampak paling besar. Climate Impact Lab memproyeksikan sekitar 29.300 kematian tambahan akibat panas ekstrem di Tanah Air dalam enam bulan ke depan.

Baca Juga:  Prabowo Dorong NTT Perbanyak Pusat Pembibitan, Penghijauan Diminta Jadi Solusi Atasi Kekeringan

Secara keseluruhan, China, Nigeria, dan India diperkirakan menyumbang lebih dari sepertiga total kematian yang berkaitan dengan El Nino.

Berikut daftar negara dengan proyeksi kematian tambahan tertinggi selama periode Juni 2026 hingga Maret 2027 berdasarkan data Climate Impact Lab:

  1. India: 160.000 kematian, termasuk 55.200 dalam enam bulan ke depan.
  2. China: 85.400 kematian, termasuk proyeksi minus 240 dalam enam bulan ke depan.
  3. Nigeria: 69.700 kematian, termasuk 56.100 dalam enam bulan ke depan.
  4. Sudan: 53.200 kematian, termasuk 14.700 dalam enam bulan ke depan.
  5. Indonesia: 49.500 kematian, termasuk 29.300 dalam enam bulan ke depan.
  6. Brasil: 26.700 kematian, termasuk 19.500 dalam enam bulan ke depan.
  7. Republik Demokratik Kongo: 24.700 kematian, termasuk 11.300 dalam enam bulan ke depan.
  8. Bangladesh: 18.400 kematian, termasuk 6.700 dalam enam bulan ke depan.
  9. Vietnam: 18.100 kematian, termasuk 8.300 dalam enam bulan ke depan.
  10. Chad: 17.000 kematian, termasuk 17.300 dalam enam bulan ke depan.

Ilmuwan Ingatkan Pemerintah Perlu Bersiap

Salah satu pendiri Climate Impact Lab, Michael Greenstone, mengatakan penelitian tersebut memanfaatkan kemampuan peramalan untuk mengidentifikasi wilayah yang paling berisiko mengalami dampak mematikan akibat gelombang panas.

Menurutnya, informasi tersebut penting agar pemerintah dan para pembuat kebijakan dapat mengambil langkah pencegahan sebelum dampak panas ekstrem menimbulkan lebih banyak korban.

“Penelitian kami memanfaatkan kemampuan peramalan baru untuk menjawab salah satu pertanyaan paling mendesak yang kita hadapi: di mana gelombang panas ekstrem kemungkinan akan merenggut nyawa?” kata Greenstone.

Baca Juga:  Indonesia Beli Rudal BrahMos Rp10,2 Triliun dari India, Perkuat Pertahanan Maritim

Ia menambahkan, hasil pemantauan tersebut memungkinkan wilayah dengan risiko tertinggi dikenali lebih awal sehingga langkah perlindungan masyarakat dapat segera disiapkan.

“Ini berarti kita dapat mengidentifikasi di mana orang menghadapi risiko terbesar dan memberi para pembuat keputusan kesempatan untuk bertindak sebelum nyawa melayang. Tracker menyediakan informasi ini untuk Super El Nino yang sedang kita alami saat ini,” ujarnya.

Proyeksi terbaru juga mengalami peningkatan cukup tajam dibandingkan laporan yang diterbitkan pada September 2026. Kenaikan tersebut terjadi setelah sejumlah negara mencatat suhu yang jauh lebih tinggi daripada perkiraan selama musim panas tahun ini.

“Dua bulan tersebut ternyata jauh lebih hangat dari yang diperkirakan,” demikian keterangan dalam laporan tersebut.

Laporan itu turut mencatat Agustus 2026 sebagai Agustus terpanas sepanjang sejarah pengamatan, sedangkan September menjadi September terpanas kedua.

Indonesia Terancam Kekeringan dan Karhutla

Super El Nino tidak hanya meningkatkan suhu, tetapi juga dapat mengubah pola curah hujan di berbagai kawasan dunia.

El Nino umumnya muncul dalam siklus dua hingga tujuh tahun. Sementara itu, istilah Super El Nino digunakan untuk menggambarkan fase El Nino dengan intensitas sangat kuat yang relatif lebih jarang terjadi.

Di Amerika Serikat, sebagian wilayah Amerika Selatan, dan Eropa, El Nino biasanya berkaitan dengan kondisi yang lebih basah serta peningkatan aktivitas badai pada musim gugur dan musim dingin.

Sebaliknya, Australia, Indonesia, dan sebagian Asia Selatan berisiko mengalami musim kering yang lebih panjang.

Baca Juga:  Polsek Bunguran Timur Gencarkan Patroli Cegah Karhutla di Natuna

Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat meningkatkan ancaman kekeringan, terutama di wilayah yang rentan mengalami kekurangan air. Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga berpotensi meningkat.

Jika kebakaran meluas, asap yang dihasilkan dapat memicu kabut asap, menurunkan kualitas udara, serta mengganggu kesehatan masyarakat.

Dampak serupa pernah terjadi pada musim kebakaran hutan yang berkaitan dengan El Nino. Kabut asap tidak hanya memengaruhi kualitas udara di Indonesia, tetapi juga dapat menyebar hingga negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Perubahan Iklim Memperparah Panas Ekstrem

Selain perubahan pola hujan, El Nino dapat mendorong kenaikan suhu global. Fenomena ini terjadi ketika panas yang tersimpan di lautan dilepaskan ke atmosfer sehingga ikut meningkatkan suhu permukaan Bumi.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa suhu ekstrem yang terjadi pada 2026 tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan El Nino.

Perubahan iklim akibat aktivitas manusia juga berperan besar dalam meningkatkan suhu global dan memperparah gelombang panas.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat banyak wilayah mengalami suhu yang memecahkan rekor selama 2026. Agustus tahun ini bahkan disebut sebagai Agustus terpanas sepanjang sejarah pengamatan.

Para ahli menjelaskan bahwa pemanasan global turut memperburuk kondisi tersebut. Sementara itu, dampak El Nino biasanya mencapai intensitas terkuat pada akhir musim gugur hingga musim dingin.

Kombinasi El Nino dan pemanasan global pun menjadi tantangan serius bagi berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi panas ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan. MK-komp

Redaktur : Munawir Sani