Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong berbicara saat konferensi pers bersama Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

JAKARTA (marwahkepri.com) – Keputusan Indonesia mengurangi pasokan ekspor gas bumi ke Singapura mendapat respons langsung dari Perdana Menteri Lawrence Wong. Pemerintah Singapura menyatakan akan melindungi kepentingannya berdasarkan kontrak komersial yang telah disepakati, sekaligus memperkuat upaya mencari sumber energi alternatif.

Rencana pengurangan pasokan gas tersebut sebelumnya disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada 21 Oktober 2026. Pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk menghentikan atau tidak memperpanjang kontrak ekspor gas dengan negara tetangga demi mengutamakan kebutuhan energi dalam negeri.

Bahlil menegaskan, pemenuhan kebutuhan domestik menjadi prioritas pemerintah di tengah kebutuhan energi nasional yang terus berkembang.

“Jadi, kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,” ujar Bahlil usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta.

Sebagian Pasokan Gas Dialihkan ke Batam

Kebijakan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengalihan sebagian pasokan gas yang sebelumnya dikirim ke Singapura untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga:  Sambut HUT ke-54 Basarnas, Kantor SAR Natuna Ziarah ke TMP Ranai

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, pada Sabtu (24/10/2026) menyampaikan bahwa gas dari Natuna akan dialihkan untuk kebutuhan pembangkit listrik di dalam negeri.

Pengalihan dilakukan melalui jalur pipa WNTS–Pulau Pemping–Batam dengan volume 15 juta standar kaki kubik per hari atau MMSCFD.

“Mulai hari ini, pasokan gas ke Singapura dialihkan ke dalam negeri dari Natuna ke PLN Batam melalui Pipa WNTS-Pulau Pemping-Batam sebesar 15 juta standar kaki kubik,” kata Djoko.

Selain itu, pemerintah juga mengurangi pasokan gas dari Sumatra yang selama ini dikirim ke Singapura melalui Pipa Transgasindo (TGI) sebesar 16 MMSCFD.

Gas dari Sumatra tersebut sebelumnya menjadi bagian dari pasokan untuk kebutuhan energi, termasuk pembangkit listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra. Pemerintah menyatakan pengalihan pasokan dilakukan untuk memperkuat ketersediaan energi di dalam negeri.

Lawrence Wong Minta Komitmen Kontrak Dihormati

Menanggapi keputusan Indonesia, Lawrence Wong meminta seluruh pihak tetap menghormati kewajiban dalam kontrak komersial yang telah disepakati.

Baca Juga:  Pemerintah Gelontorkan Rp 55 Triliun untuk THR ASN, Jaga Daya Beli Jelang Lebaran

Pernyataan tersebut disampaikan Wong saat menghadiri konferensi Partai Aksi Rakyat (PAP), Minggu (25/10/2026).

“Kami berharap semua pihak menghormati komitmen mereka. Importir gas ke Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut,” kata Wong.

Ia menjelaskan, Singapura telah mengantisipasi risiko gangguan pasokan dengan membangun terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Keberadaan terminal tersebut memungkinkan Singapura mengimpor gas dari berbagai negara melalui kapal, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan gas melalui jaringan pipa.

Meski demikian, Wong mengakui gas alam masih menjadi sumber penting bagi pembangkit listrik Singapura. Sebagian besar kebutuhan gas negara tersebut selama ini dipenuhi melalui impor, termasuk dari Indonesia.

Singapura Serius Kaji Penggunaan Energi Nuklir

Di tengah ketidakpastian pasokan energi, Wong mengatakan pemerintah Singapura perlu mempertimbangkan sumber energi lain di luar gas alam untuk menjaga keamanan pasokan listrik.

Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah pemanfaatan energi nuklir.

“Kita juga perlu sumber energi yang lebih bersih untuk menyediakan listrik yang andal sepanjang waktu. Itulah sebabnya, kita serius mengkaji potensi energi nuklir,” ungkap Wong.

Baca Juga:  Anggota Parlemen Malaysia Sentil Prabowo Pakai Bahasa Jawa soal Kabut Asap: Jangan Jadi Bahan Guyonan!

Namun, ia mengakui rencana penggunaan energi nuklir menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Kondisi Singapura sebagai negara kecil dengan wilayah terbatas dan kepadatan penduduk tinggi membuat aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama.

Karena itu, pemerintah Singapura akan mengkaji secara cermat risiko, dampak, serta berbagai pilihan teknologi sebelum mengambil keputusan.

Wong juga menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat dalam pembahasan kebijakan energi tersebut.

Langkah ini menunjukkan Singapura tengah berupaya memperluas pilihan sumber energi untuk menjaga keandalan listrik, di tengah kebutuhan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan gas dari jaringan pipa negara lain. MK-cnn

Redaktur : Munawir Sani