images (2)

China vs Philipina. (f: net)

BEIJING (marwahkepri.com) – Ketegangan hubungan China dan Filipina kembali meningkat. Kali ini, Beijing menuding sejumlah politikus Filipina menghalangi Menteri Pertahanan China menghadiri pertemuan ASEAN Defence Ministers’ Meeting-Plus (ADMM-Plus) ke-13 di Filipina.

Tuduhan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional China, Zhang Xiaogang, saat menanggapi pertanyaan mengenai ketidakhadiran Menteri Pertahanan China dalam pertemuan tersebut.

Dilansir Xinhua, Jumat (30/10/2026), China hanya mengirimkan atase pertahanan sebagai perwakilan dalam agenda yang berlangsung di Cebu, Filipina, pada Kamis (29/10/2026).

Zhang menilai tindakan sejumlah pihak di Filipina telah melanggar prinsip dan semangat kerja sama yang selama ini dijunjung dalam mekanisme ASEAN.

“Langkah-langkah semacam itu secara serius melanggar prinsip ASEAN mengenai konsensus melalui konsultasi dan bertentangan dengan semangat terbuka serta inklusif dari ADMM-Plus. Tindakan tersebut tidak sesuai dengan protokol diplomatik dasar dan merusak hak-hak sah China sebagai anggota mekanisme tersebut,” ujarnya.

Meski menyampaikan keberatan, Zhang menyebut keputusan China tetap mengirimkan perwakilan menunjukkan dukungan Beijing terhadap sentralitas ASEAN.

Baca Juga:  Anggota Parlemen Malaysia Sentil Prabowo Pakai Bahasa Jawa soal Kabut Asap: Jangan Jadi Bahan Guyonan!

Menurutnya, langkah tersebut sekaligus mencerminkan tanggung jawab China dalam menjaga kerja sama pertahanan dan keamanan kawasan.

Ketegangan Laut China Selatan Jadi Pemicu

Tudingan terbaru ini menambah panjang daftar perselisihan antara China dan Filipina. Hubungan kedua negara memang terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir, terutama akibat sengketa wilayah di Laut China Selatan.

Manila semakin memperkuat kerja sama militernya dengan Amerika Serikat untuk mempertegas klaim wilayahnya. Di sisi lain, kapal penjaga pantai China dan Filipina beberapa kali terlibat ketegangan di perairan yang menjadi sengketa kedua negara.

Situasi semakin memanas setelah Duta Besar China untuk Filipina, Jing Quan, melontarkan pernyataan kontroversial mengenai kemungkinan penggunaan kekuatan dalam konflik dengan Manila.

Dalam pernyataannya, Jing mengatakan China bisa memenangkan konflik dengan mudah jika memilih menggunakan kekuatan. Namun, dia menegaskan Beijing tidak berniat menempuh jalan tersebut karena menginginkan perdamaian.

Pernyataan itu langsung mendapat respons dari pemerintah Filipina. Sekretaris Urusan Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro, memanggil Jing Quan untuk menyampaikan keberatan keras.

Baca Juga:  Ironis! Suara Asli Dikira AI, Aktor Voice Over China Sampai Rekam Video untuk Buktikan Dirinya Manusia

Lazaro menilai pernyataan sang duta besar mengandung ancaman penggunaan kekuatan terhadap Filipina.

Kontroversi tersebut bahkan mendorong sejumlah senator Filipina mempertimbangkan untuk menetapkan Jing sebagai persona non grata, atau orang yang tidak diinginkan di negara tersebut.

Menanggapi perkembangan itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan Beijing menentang tindakan sejumlah pihak di Filipina yang dinilai terus mengangkat isu-isu terkait China dan merusak hubungan bilateral.

Dengan munculnya tudingan terkait kehadiran Menteri Pertahanan China dalam ADMM-Plus, hubungan kedua negara kembali menghadapi ujian. Ketegangan ini juga menjadi perhatian karena berlangsung di tengah upaya ASEAN mempertahankan kerja sama pertahanan dan stabilitas keamanan kawasan. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani