kylian-mbappe-minta-maaf-atas-pernyataannya-ke-masyarakat-china

Kylian Mbappe menjadi sorotan setelah pernyataannya mengenai pendiri Republik Rakyat China, Mao Zedong, menuai reaksi dari Beijing. (f: gettyimages)

PARIS (marwahkepri.com) – Politikus Prancis Marine Tondelier membela kapten tim nasional sepak bola Prancis, Kylian Mbappe, di tengah kontroversi komentarnya mengenai pendiri Republik Rakyat China, Mao Zedong.

Tondelier menilai Mbappe tidak keliru ketika menyebut Mao sebagai seorang diktator. Menurutnya, pernyataan tersebut didasarkan pada fakta sejarah, bukan sekadar pendapat pribadi.

” Kylian Mbappe sepenuhnya benar untuk menyebut Mao Zedong sebagai seorang diktator,” tulis Tondelier dalam unggahan di media sosial X, seperti dilansir AFP, Kamis (29/10/2026).

Ketua Partai Ekologi Prancis yang juga disebut-sebut sebagai calon presiden dalam pemilu 2027 itu menyinggung besarnya jumlah korban jiwa selama pemerintahan Mao serta karakter totaliter rezim yang dipimpinnya.

“Puluhan juta kematian yang menjadi tanggung jawab Mao, juga sifat totaliter dari rezimnya, telah dikonfirmasi oleh semua sejarawan,” ujarnya.

Tondelier menegaskan, Mbappe bukan sekadar menyampaikan opini, melainkan mengungkapkan fakta sejarah yang telah banyak dibahas oleh para sejarawan.

Dia juga mengingatkan pentingnya mempertahankan fakta di tengah meningkatnya tekanan terhadap kebebasan berpendapat.

Baca Juga:  Messi Tak Kuasa Menahan Air Mata Setelah Argentina Singkirkan Mesir

“Di era ketika sains ditantang setiap hari oleh para pendukung otoritarianisme, menegaskan kembali fakta-fakta yang sudah mapan bukanlah hal yang sia-sia,” tulisnya.

Tondelier turut mengkritik sikap yang dinilainya terlalu mengalah terhadap tekanan ekonomi dari China. Menurutnya, sikap semacam itu justru menunjukkan kelemahan.

Mbappe dan Real Madrid Sudah Minta Maaf

Kontroversi bermula dari potongan video wawancara Mbappe yang beredar di media sosial. Dalam video tersebut, pemain Real Madrid itu mengaku terhibur dengan meme internet yang menampilkan wajahnya hasil editan pada tubuh seseorang yang disebutnya mirip diktator China.

Sosok yang dimaksud adalah Mao Zedong, pemimpin Partai Komunis China yang mendirikan Republik Rakyat China pada 1949.

Komentar Mbappe kemudian memicu reaksi keras dari Beijing. Pemain tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan mengakui komentarnya kurang bijaksana.

Real Madrid kemudian ikut menyampaikan permintaan maaf kepada pihak China. Federasi sepak bola Spanyol, La Liga, juga mengambil langkah serupa.

Meski demikian, dampak kontroversi terus berlanjut. Sejumlah sponsor asal China dilaporkan memutuskan hubungan dengan Mbappe. Selain itu, stasiun televisi pemerintah China menangguhkan penayangan pertandingan dari kompetisi kasta tertinggi sepak bola Spanyol.

Baca Juga:  Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Disebut Resmi Menikah, Pamer Cincin di Instagram

Sementara itu, sejumlah politikus Prancis lainnya memilih tidak ikut terseret dalam perdebatan tersebut.

Pernyataan Tondelier berpotensi kembali memanaskan polemik yang kini tidak hanya menyangkut dunia sepak bola, tetapi juga menyentuh isu sejarah, kebebasan berpendapat, dan hubungan ekonomi dengan China. MK-mun

Redaktur : Munawir Sani