Kim Yo Jong (Foto: Jorge Silva/Pool Photo via AP, File)
Pernyataan tersebut disampaikan Kim Yo Jong pada Senin (27/7/2026) sebagai respons atas pernyataan ASEAN dalam pertemuan tahunan di Filipina yang menyampaikan keprihatinan terhadap perkembangan program senjata nuklir dan rudal Korea Utara serta mendorong dialog damai untuk mewujudkan Semenanjung Korea yang bebas senjata nuklir.
Dikutip dari media pemerintah Korea Utara, KCNA, Kim Yo Jong menilai seruan tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini.
“Merupakan kegagalan dalam pemikiran dan logika strategis serta manifestasi dari mimpi liar yang bodoh dan konyol untuk masih berpegang pada denuklirisasi Semenanjung Korea yang telah kehilangan maknanya secara konseptual dan praktis,” ujarnya.
Ia juga menuding ASEAN mengikuti narasi Amerika Serikat dan memperingatkan agar forum kawasan tersebut tidak dijadikan corong kepentingan Washington.
Menurut Kim Yo Jong, forum ASEAN seharusnya tidak disalahgunakan untuk menggaungkan agenda denuklirisasi yang dinilai hanya menguntungkan Amerika Serikat.
Sejumlah pengamat menilai kecaman langsung Korea Utara terhadap ASEAN merupakan hal yang jarang terjadi. Peneliti Program Arsitektur Keamanan Regional di S. Rajaratnam School of International Studies, Sarah Teo, menyebut pernyataan Kim Yo Jong menjadi teguran yang cukup langka karena secara langsung menyasar ASEAN.
Sementara itu, peneliti Asia Timur Hoo Chiew-Ping menilai sikap keras Pyongyang semakin menguat sejak 2023 ketika Korea Utara secara resmi memasukkan status negara bersenjata nuklir ke dalam konstitusinya.
Menurutnya, tanggapan Kim Yo Jong merupakan sinyal bahwa Korea Utara memandang seruan denuklirisasi dari ASEAN sebagai keberpihakan terhadap narasi Barat dibanding menghormati kedaulatan negaranya.
Sebelumnya, Kim Yo Jong juga sempat mengecam negara-negara G7 yang menyerukan penghentian program nuklir Korea Utara. Ia bahkan memperingatkan bahwa setiap pihak yang mencoba mengganggu kepentingan inti negaranya akan menghadapi konsekuensi serius.
Pemerintah Korea Utara hingga kini tetap menegaskan bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan hak kedaulatan negara yang tidak dapat dinegosiasikan. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
