Ilustrasi. Raksasa teknologi AS, termasuk Nvidia dan Microsoft, dukung model AI terbuka. (Foto: istockphoto/WANAN YOSSINGKUM)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Sejumlah perusahaan teknologi terbesar Amerika Serikat (AS), seperti Nvidia, Microsoft, Meta, IBM, dan sejumlah perusahaan lainnya, menyatakan dukungan terhadap pengembangan model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berbasis open source atau sumber terbuka.
Dukungan tersebut disampaikan melalui surat terbuka kepada anggota parlemen Amerika Serikat di tengah perdebatan mengenai regulasi model AI terbuka yang dinilai lebih sulit dikendalikan dibanding model tertutup yang dikembangkan perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic.
Surat yang diunggah di platform X itu ditandatangani sekitar dua lusin perusahaan teknologi dan organisasi pendukung pengembangan AI.
CEO Nvidia, Jensen Huang, yang baru membuat akun X, menjadikan surat tersebut sebagai unggahan pertamanya sekaligus mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru membatasi pengembangan AI open source.
“AI akan mentransformasi setiap industri, menjadi pendorong bagi setiap perusahaan, dan dikembangkan oleh setiap negara. Model terbuka memperkuat keamanan dan siberkeamanan, mempercepat inovasi dan penyebarannya, serta mendukung kedaulatan,” tulis Huang.
Ia menegaskan dunia membutuhkan keberadaan model AI terbuka maupun model tertutup secara bersamaan.
“Dunia membutuhkan baik model tertutup terdepan maupun model terbuka terdepan,” ujarnya.
Khawatir Inovasi Keluar dari Amerika
Dalam surat tersebut, perusahaan-perusahaan teknologi mengingatkan bahwa pembatasan terhadap AI open source justru berpotensi menghambat inovasi dan membuat pengembangan teknologi berpindah ke luar Amerika Serikat.
“Pembuat kebijakan harus menghindari pembatasan dini terhadap model terbuka yang menghambat persaingan atau mendorong inovasi ke luar negeri,” demikian isi surat tersebut.
Dinilai Lebih Murah dan Fleksibel
Salah satu alasan utama perusahaan teknologi mendukung model AI terbuka adalah efisiensi biaya.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah petinggi industri teknologi menilai model AI tertutup memiliki biaya penggunaan yang relatif tinggi.
CEO Microsoft bersama perusahaan teknologi pertahanan Palantir Technologies sebelumnya menyebut model AI terbuka yang dapat dijalankan langsung di pusat data milik pelanggan mampu menekan biaya operasional.
Selain itu, perusahaan juga menyoroti berbagai pembatasan penggunaan yang diterapkan OpenAI maupun Anthropic terhadap model AI mereka.
Hugging Face Gunakan Model AI China
Platform pengembangan AI Hugging Face mengungkapkan pihaknya bahkan harus menggunakan model AI terbuka asal China untuk mempertahankan sistem keamanan mereka.
Menurut perusahaan tersebut, model AI tertutup memiliki sejumlah pembatasan yang menyulitkan penggunaannya dalam riset maupun pekerjaan keamanan siber.
Pemerintah AS Khawatir Soal Keamanan
Di sisi lain, sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat mulai menyoroti risiko keamanan dari model AI yang dapat dimodifikasi secara bebas.
Setelah muncul kasus penyalahgunaan model AI dalam serangan siber, beberapa anggota parlemen mengusulkan kewajiban penerapan kill switch atau tombol pemutus pada model AI tertentu.
Pemerintahan Presiden Donald Trump juga disebut tengah mempertimbangkan pemberian sanksi terhadap pengembang model AI terbuka asal China atas dugaan pencurian teknologi AI milik perusahaan Amerika Serikat.
Transparansi Dinilai Lebih Aman
Meski mengakui adanya risiko pencurian teknologi, perusahaan-perusahaan teknologi menilai solusi terbaik bukanlah membatasi AI open source secara menyeluruh.
Mereka menilai persoalan tersebut seharusnya ditangani melalui regulasi hukum dan mekanisme komersial yang lebih spesifik.
“Model tertutup tidak secara inheren aman. Model tersebut dapat ditembus, disalahgunakan, atau gagal dengan cara yang tidak dapat dideteksi pihak luar,” tulis para penandatangan surat.
Menurut mereka, model AI berbobot terbuka memungkinkan komunitas peneliti dan pengembang melakukan audit terhadap sistem, menemukan celah keamanan, membangun perlindungan baru, serta terus memperbaiki teknologi secara kolaboratif dari waktu ke waktu. MK-cnn
Redaktur : Munawir Sani
