kisah-35-tahun-linux-dari-iseng-kini-kuasai-80-persen-dunia-pnu

Proyek iseng mahasiswa Finlandia ini sekarang jadi tulang punggung internet dan hampir 4 miliar ponsel Android. Foto: ist

JAKARTA (marwahkepri.com) – Linus Torvalds baru berusia 21 tahun ketika menulis sebuah pesan singkat di forum Usenet comp.os.minix pada 25 Agustus 1991.

Dalam pesan tersebut, Torvalds mengatakan dirinya sedang mengembangkan sebuah sistem operasi gratis untuk komputer berbasis prosesor 386 dan 486.

Ia bahkan menyebut proyek tersebut hanya sebagai hobi dan tidak akan menjadi sistem operasi besar seperti GNU.

Namun, perkiraan Torvalds ternyata jauh meleset.

Proyek yang dimulai dari kamar seorang mahasiswa di Finlandia tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu fondasi terpenting dalam dunia komputasi modern.

Linux kini telah berusia 35 tahun dan digunakan di berbagai perangkat serta infrastruktur teknologi di seluruh dunia.

Hampir Bernama Freax

Sistem operasi tersebut awalnya nyaris tidak menggunakan nama Linux.

Torvalds sempat menggunakan nama Freax, gabungan dari kata “free”, “freak”, dan huruf “x” yang merujuk pada Unix.

Namun, Ari Lemmke, rekan Torvalds yang mengelola server FTP FUNET tempat kode Linux diunggah, tidak menyukai nama tersebut.

Ia kemudian mengganti nama folder tempat kode itu disimpan menjadi Linux.

Nama tersebut akhirnya bertahan hingga sekarang.

Rilis publik pertama Linux, versi 0.01, muncul pada 17 September 1991.

Menariknya, tidak ada pengumuman resmi mengenai tanggal rilis tersebut. Informasi tersebut diketahui kemudian berdasarkan jejak waktu file dalam arsip tar yang masih tersimpan.

Linux Pertama Kali Berjalan di Komputer Teman

Ada fakta menarik dalam sejarah awal Linux.

Komputer pertama yang benar-benar menjalankan Linux bukan milik Torvalds, melainkan komputer sahabatnya, Lars Wirzenius.

Saat itu komputer Torvalds sendiri masih dipenuhi Minix, sistem operasi pendidikan yang menjadi lingkungan awal pengembangan Linux.

Wirzenius kemudian mengenang momen tersebut dengan santai. Ketika Torvalds sibuk memasang Linux di komputernya, Wirzenius justru memilih tidur siang.

Dari titik tersebut, Linux berkembang dengan cepat.

Pada akhir 1991, Torvalds mulai menambahkan fitur paging ke disk. Nomor versi Linux kemudian melonjak dari 0.03 pada November 1991 menjadi 0.12 pada Januari 1992.

Baca Juga:  Apple Targetkan Kuasai Pasar HP Lipat Lewat iPhone Ultra Berharga Rp54 Juta

Perkembangan tersebut menjadi tanda bahwa Linux mulai memiliki kemampuan yang semakin jauh dibandingkan Minix.

Pada musim panas 1992, X Window System juga sudah dapat berjalan di atas Linux.

Torvalds kemudian menilai Linux mulai terasa seperti sistem yang berbeda dibandingkan Minix yang sebelumnya ia gunakan.

Kode Linux Sempat Hanya 93 KB

Salah satu kontributor awal Linux adalah Theodore “Ted” Ts’o, yang mulai menggunakan Linux pada September 1991.

Saat itu, koneksi internet antara Finlandia dan Amerika Serikat masih sangat terbatas, dengan kecepatan sekitar 64 Kbps.

Beruntung, ukuran kode sumber Linux versi 0.11 hanya sekitar 93 KB.

Ukuran yang sangat kecil untuk ukuran sekarang tersebut membuat Linux tetap relatif mudah didistribusikan melalui internet pada masa itu.

Ts’o kemudian mendirikan salah satu mirror server Linux pertama di Amerika Utara, tsx-11.mit.edu, menggunakan komputer VAXstation 3100 miliknya.

Server tersebut terhubung melalui jaringan microwave 10 megabit milik MIT yang menghubungkan sejumlah institusi di kawasan Boston.

Lisensi GPL Jadi Titik Penting

Awal 1992 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Linux.

Torvalds memindahkan lisensi Linux ke GNU General Public License (GPL) versi 2.

Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan Linux dikembangkan dan didistribusikan secara luas oleh komunitas.

Pengembangan Linux pun tidak lagi hanya bergantung pada Torvalds.

Kontributor dari berbagai negara mulai ikut memperbaiki, mengembangkan, dan menambahkan kemampuan baru ke dalam kernel Linux.

Konferensi publik mengenai Linux kemudian digelar pada musim gugur 1993 di ajang NLUUG, Ede, Belanda.

Presentasi Torvalds bahkan dipenuhi penonton. Sejumlah peserta dari sesi lain memilih berpindah ruangan untuk mendengarkan langsung pembuat Linux tersebut.

Dari BitKeeper hingga Lahirnya Git

Perjalanan Linux juga melahirkan salah satu perangkat lunak yang kini sangat penting bagi dunia pemrograman, yakni Git.

Baca Juga:  Huawei Pura 90s Pro Series Meluncur Global, Hadirkan 5G, eSIM, dan Kirin 9030S

Dalam perkembangan Linux, Torvalds sempat menggunakan BitKeeper sebagai sistem pengelolaan kode.

Namun, setelah itu ia menciptakan Git sebagai sistem kontrol versi yang digunakan untuk mengelola pengembangan kernel Linux.

Bagi Torvalds, menciptakan Git menjadi salah satu momen penting dalam kariernya sebagai programmer.

Git kemudian berkembang jauh melampaui kebutuhan pengembangan Linux dan kini menjadi salah satu sistem kontrol versi paling populer di dunia.

Linux Kini Ada di Mana-mana

Tiga puluh lima tahun setelah pesan sederhana Torvalds di Usenet, Linux telah menjadi bagian penting dari infrastruktur teknologi global.

Linux digunakan secara luas pada server web, cloud computing, superkomputer, perangkat embedded, router, perangkat otomotif hingga konsol game.

Mayoritas superkomputer yang masuk daftar TOP500 juga menggunakan sistem operasi berbasis Linux.

Android pun menggunakan kernel Linux sebagai salah satu fondasi utamanya.

Bahkan Microsoft Azure, layanan cloud milik Microsoft, kini menyediakan Linux sebagai salah satu pilihan sistem operasi utama bagi penggunanya.

Windows masih mendominasi komputer desktop dan laptop konsumen. Namun, ketika berbicara mengenai server, cloud, superkomputer, perangkat mobile, dan berbagai infrastruktur teknologi lainnya, Linux memiliki posisi yang sangat kuat.

Torvalds Masih Aktif

Torvalds kini tidak lagi mengembangkan Linux seorang diri seperti pada 1991.

Pengembangan kernel Linux melibatkan ratusan maintainer dan ribuan kontributor dari seluruh dunia.

Meski usianya telah mencapai 56 tahun, Torvalds masih aktif mengawasi perkembangan Linux.

Beberapa tahun lalu, ketika ditanya mengenai rencana pensiun, ia mengatakan masih menikmati pekerjaannya dan belum memiliki alasan untuk berhenti.

Kini, 35 tahun setelah proyek “hobi” tersebut dimulai, Linux justru menjadi salah satu fondasi utama dunia digital.

Sebuah proyek yang awalnya dibuat untuk komputer 386 dan 486 ternyata berkembang menjadi sistem yang menjalankan sebagian besar infrastruktur teknologi yang digunakan manusia setiap hari. MK-sindo

Redaktur : Munawir Sani