WhatsApp Image 2026-10-16 at 08.30.50

Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEBM), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), melaksanakan kegiatan Mangrove Carbon Offset melalui penanaman 300 bibit mangrove di Senggarang Besar, Kota Tanjungpinang, Kamis (15/10/2026). (Foto: YR)

TANJUNGPINANG (marwahkepri. com) – Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEBM), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), melaksanakan kegiatan Mangrove Carbon Offset melalui penanaman 300 bibit mangrove di Senggarang Besar, Kota Tanjungpinang, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan yang melibatkan 129 mahasiswa ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Maritim sekaligus upaya menumbuhkan kepedulian terhadap perubahan iklim dan pengembangan ekonomi biru (blue economy).

Kegiatan yang dilaksanakan menjelang peringatan International Day of Climate Action pada 24 Oktober tersebut merupakan bentuk integrasi pembelajaran akademik dengan aksi nyata pelestarian lingkungan pesisir. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep ekonomi dan bisnis maritim di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam memahami peran ekosistem mangrove bagi lingkungan dan masyarakat.

Penanaman mangrove ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEB11103) yang diampu oleh empat dosen, yaitu Prof. Agung Dhamar Syakti, Mirza Ayunda Pratiwi, S.E., M.Sc., Henky Irawan, S.Pi., M.P., M.Sc., dan Ahmad Bima Mahendra, S.M., M.M.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Senggarang dan Mangrove Information Training Centre (MITC) UMRAH. Sebanyak 300 bibit mangrove yang ditanam merupakan hasil pembibitan warga melalui Pokdarwis Senggarang, sehingga kegiatan ini sekaligus memperlihatkan peran masyarakat lokal dalam mendukung keberlanjutan upaya rehabilitasi ekosistem pesisir.

Sebelum mengikuti penanaman di lapangan, mahasiswa diperkenalkan pada konsep carbon offset atau kompensasi karbon melalui penggunaan aplikasi kalkulator karbon mangrove. Pendekatan ini menjadi bagian dari pembelajaran untuk mengenalkan hubungan antara aktivitas manusia, jejak karbon, dan peran ekosistem mangrove dalam penyerapan karbon.

Dosen pengampu mata kuliah, Henky Irawan, S.Pi., M.P., M.Sc., menjelaskan bahwa mahasiswa telah diarahkan untuk menggunakan kalkulator tersebut sebagai sarana memahami konsep karbon dan kontribusi mangrove terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.

Mahasiswa dapat mengakses aplikasi melalui tautan https://rhizophora-carbon-offset-calculator.onhercules.app/

Penggunaan kalkulator ini memberikan pengalaman belajar yang menghubungkan pemahaman konseptual dengan pemanfaatan teknologi digital untuk isu lingkungan.

Baca Juga:  Empat Tersangka di Kasus Penganiayaan Calon LC Dwi Putri Segera Disidang

Mahasiswa diajak melihat bahwa teknologi digital tidak hanya digunakan untuk kegiatan bisnis dan pemasaran, tetapi juga dapat mendukung edukasi lingkungan, pengukuran dampak, serta pengembangan inisiatif keberlanjutan.

Dalam pelaksanaannya, penanaman dilakukan dengan pengaturan formasi bagi 129 mahasiswa agar kegiatan berlangsung secara tertib, serentak, dan terkoordinasi.

Melalui proses tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya kerja sama, pengelolaan kegiatan, dan keterlibatan berbagai pihak dalam aksi pelestarian lingkungan.

Koordinator Program Studi Bisnis Digital UMRAH, Mirza Ayunda Pratiwi, S.E., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dengan memanfaatkan lingkungan dan masyarakat sebagai ruang belajar nyata atau living lab.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong mahasiswa Bisnis Digital untuk belajar tidak hanya dari laboratorium komputer, tetapi juga dari lingkungan dan masyarakat secara langsung. Mahasiswa dapat memahami persoalan lingkungan, merasakan pengalaman berkontribusi bagi kelestarian alam, serta melihat bagaimana aktivitas pelestarian dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Mirza, pembelajaran lapangan menjadi sarana untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Isu perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan membutuhkan perhatian berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia menambahkan bahwa ekosistem mangrove memiliki nilai ekologis sekaligus potensi untuk mendukung pengembangan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal, seperti edukasi lingkungan, ekowisata, dan usaha berbasis blue economy.

“Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis. Melalui kegiatan ini, kami berharap tumbuh inspirasi untuk membangun usaha yang inovatif, memiliki nilai ekonomi, dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.

Melalui pendekatan living lab, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan cara pandang bahwa kompetensi bisnis digital dapat diterapkan untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi, inovasi model bisnis, dan pengembangan potensi ekonomi maritim Kepulauan Riau.

Lurah Senggarang Besar yang turut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada UMRAH, khususnya Program Studi Bisnis Digital, atas kontribusinya dalam mendukung pelestarian lingkungan di wilayah Senggarang.

Baca Juga:  Wujudkan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani, Lapas Batam Terima Evaluasi Inspektorat Kemenimipas

Ia berharap kegiatan penanaman mangrove dan pengabdian kepada masyarakat dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan dosen, mahasiswa, pemerintah setempat, serta masyarakat.

Keterlibatan Pokdarwis Senggarang menjadi bagian penting dalam kegiatan ini, terutama melalui penyediaan bibit mangrove hasil pembibitan warga. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian ekosistem pesisir memerlukan partisipasi aktif masyarakat, dukungan perguruan tinggi, dan keterlibatan pemerintah setempat.

Selain memberikan kontribusi bagi lingkungan, kolaborasi ini juga membuka ruang untuk mengenali potensi lokal yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kegiatan edukasi, wisata berbasis alam, dan pengembangan usaha masyarakat yang memperhatikan kelestarian ekosistem pesisir.

Dengan demikian, kegiatan Mangrove Carbon Offset tidak hanya menjadi aktivitas penanaman, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai pentingnya keberlanjutan lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.

Kegiatan Mangrove Carbon Offset sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama:
SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim, melalui edukasi mengenai jejak karbon, mitigasi perubahan iklim, dan aksi lingkungan.
SDG 14 – Ekosistem Lautan, melalui dukungan terhadap pelestarian ekosistem pesisir dan mangrove.
SDG 15 – Ekosistem Daratan, melalui kontribusi terhadap perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

agi Program Studi Bisnis Digital FEBM UMRAH, kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan karakteristik pembelajaran yang berorientasi pada potensi maritim Kepulauan Riau. Mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan kompetensi bisnis digital dengan pemahaman mengenai lingkungan, kebutuhan masyarakat, dan peluang usaha berkelanjutan.

Penanaman 300 bibit mangrove di Senggarang Besar menjadi wujud kolaborasi pendidikan, aksi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Lebih dari sekadar kegiatan penanaman, kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis blue economy yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Prodi Bisnis Digital UMRAH: belajar dari alam, berkolaborasi dengan masyarakat, dan berkontribusi bagi masa depan maritim yang berkelanjutan. (YR)

Redaktur: Munawir Sani