Foto: Citra satelit memperlihatkan jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi yang membentang melintasi Semenanjung Arab, setelah serangan yang hancur, Jumat (11/9/2026). (Vantor/Handout via REUTERS) Baca artikel CNBC Indonesia "Makkah Kena Alarm Perang, Saudi Jadi Titik Panas Baru di Timteng" selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260916053443-4-768215/makkah-kena-alarm-perang-saudi-jadi-titik-panas-baru-di-timteng Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com/
RIYADH (marwahkepri.com) – Arab Saudi mengeluarkan peringatan keamanan di sejumlah wilayah, termasuk Kota Suci Makkah dan Jeddah, pada Selasa (15/9/2026). Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Peringatan keamanan itu dicabut dalam waktu singkat. Saat pertama kali dikeluarkan, otoritas Saudi belum menyampaikan apakah terdapat proyektil yang berhasil mencapai wilayah negara tersebut maupun siapa yang bertanggung jawab atas ancaman tersebut.
Peringatan di Makkah menjadi perhatian khusus karena merupakan peringatan pertama selama eskalasi konflik terbaru di kota yang menjadi lokasi Masjidil Haram dan tempat-tempat suci umat Islam.
Sehari setelah peringatan tersebut, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone yang disebut diluncurkan kelompok Houthi sebelum memasuki wilayah udara terbatas di sekitar Makkah. Houthi membantah tuduhan bahwa mereka menargetkan kota suci tersebut.
Houthi Perluas Pengaruh di Laut Merah
Situasi keamanan Saudi semakin rumit setelah Houthi meningkatkan aktivitas militernya di wilayah pesisir barat Yaman.
Kelompok tersebut dilaporkan telah merebut sejumlah wilayah strategis di sekitar Laut Merah, termasuk kawasan dekat Selat Bab el-Mandeb. Pergerakan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan ekspor energi dari kawasan Teluk.
Dalam sepekan terakhir, Houthi juga mengumumkan sejumlah serangan terhadap wilayah Saudi. Salah satunya menyasar pangkalan udara pada Senin (14/9), yang oleh Houthi disebut sebagai balasan atas serangan udara Saudi dan pasukan yang didukung Riyadh terhadap wilayah Yaman.
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan serangkaian serangan Houthi sebelumnya telah melukai 13 warga sipil dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah serta kendaraan.
Pipa Minyak Saudi Ikut Terdampak
Ancaman terhadap Saudi tidak hanya datang dari serangan udara. Infrastruktur energi negara tersebut juga terdampak konflik.
Jalur utama yang menjadi perhatian adalah East-West Pipeline, pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang menghubungkan ladang minyak di kawasan timur Saudi dengan pelabuhan di Laut Merah.
Pipa tersebut menjadi semakin penting ketika lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Serangan terhadap fasilitas pipa membuat operasional jalur tersebut dihentikan sementara. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan perbaikan diperkirakan memungkinkan aliran minyak kembali dalam hitungan hari, meskipun laporan lain menyebut pemulihan penuh dapat membutuhkan waktu lebih lama.
Gangguan berkepanjangan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak dunia karena East-West Pipeline dapat mengalihkan sebagian ekspor Saudi menuju Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.
Bab el-Mandeb Jadi Titik Panas Baru
Perkembangan Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah juga meningkatkan perhatian terhadap Selat Bab el-Mandeb.
Selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia. Gangguan terhadap jalur itu dapat memengaruhi perdagangan internasional dan distribusi energi.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membahas memburuknya situasi di sekitar Bab el-Mandeb pada Selasa.
Perwakilan AS di PBB memperingatkan bahwa perkembangan Houthi di dekat selat tersebut dapat mengancam keamanan energi dan perdagangan internasional. Washington juga menuduh Iran memberikan dukungan kepada Houthi, sementara Teheran berulang kali membantah terlibat langsung dalam keputusan militer kelompok tersebut.
Arab Saudi sendiri menuduh Houthi menggunakan jalur pelayaran internasional sebagai alat tekanan terhadap perekonomian global.
Riyadh Perkuat Koordinasi dengan Negara Arab
Di tengah meningkatnya ancaman, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman melakukan pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Kairo pada Selasa.
Kedua pihak menekankan pentingnya menjaga kebebasan dan keamanan navigasi di Bab el-Mandeb serta Laut Merah.
Sehari sebelumnya, Mohammed bin Salman juga bertemu dengan komandan militer regional AS Laksamana Brad Cooper di Jeddah.
Arab Saudi disebut telah meminta dukungan militer Washington menghadapi meningkatnya serangan Houthi. Namun, dukungan AS sejauh ini dilaporkan lebih banyak berupa bantuan intelijen dibandingkan keterlibatan militer langsung.
Eskalasi terbaru menunjukkan bahwa konflik yang sebelumnya berpusat di sekitar Iran dan Selat Hormuz kini memiliki dampak yang semakin luas ke Laut Merah, Yaman, Arab Saudi, dan jalur perdagangan energi internasional.
Bagi Arab Saudi, ancaman tersebut datang bersamaan dari dua jalur strategis sekaligus, yakni Selat Hormuz di sebelah timur dan Bab el-Mandeb di sebelah barat. Gangguan terhadap kedua jalur tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap keamanan dan ekspor energi kawasan. MK-cnbc
Redaktur : Munawir Sani
