presiden-putin

Presiden Rusia Vladimir Putin. (f: reuters)

WASHINGTON (marwahkepri.com) – Pernyataan Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Steve Witkoff, yang menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai sosok kemanusiaan menuai kecaman di Washington. Pujian tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah senator Partai Republik karena dinilai tidak pantas disampaikan kepada pemimpin Rusia di tengah perang yang masih berlangsung di Ukraina.

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Witkoff saat melakukan kunjungan ke Rusia untuk mengurus pembebasan Stephen Hubbard, warga negara AS berusia 74 tahun yang ditahan otoritas Rusia sejak 2022.

Mengutip laporan The Wall Street Journal, Rabu (21/10/2026), Witkoff menyampaikan apresiasi kepada Putin setelah proses pembebasan Hubbard berhasil dilakukan.

“Presiden (Trump) mengirimkan ucapan terima kasihnya. Seluruh bangsa kami juga berterima kasih. Karena Anda, dia akan pulang ke keluarganya,” ujar Witkoff kepada Putin.

Namun, pernyataannya kemudian menjadi sorotan ketika ia memberikan pujian langsung kepada pemimpin Rusia tersebut.

“Anda banyak berbicara tentang presiden saya, Presiden Trump, sebagai seorang humanitarian. Anda juga seorang humanitarian, Tuan, dan saya menghormati hal itu. Saya memuji Anda,” lanjutnya.

Ucapan tersebut mengejutkan Ukraina dan negara-negara yang selama ini mendukung Kyiv. Pasalnya, Putin masih menjadi sorotan internasional atas invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 2022.

Senator AS Kecam Pujian untuk Putin

Pernyataan Witkoff langsung memancing reaksi keras dari sejumlah anggota Senat AS, termasuk politikus Partai Republik.

Senator John Cornyn dari Texas secara terbuka menolak penilaian Witkoff terhadap Putin. Melalui unggahan di media sosial, ia menyebut Presiden Rusia tersebut sebagai pembunuh berdarah dingin.

” Tidak. Putin adalah pembunuh berdarah dingin,” tulis Cornyn.

Baca Juga:  Timnas Spanyol Diduga Hapus Donald Trump dari Foto Juara Piala Dunia 2026

Kritik lebih tajam disampaikan Senator Thom Tillis dari Carolina Utara. Ia mempertanyakan bagaimana Witkoff bisa menyebut Putin sebagai sosok kemanusiaan di tengah berbagai tuduhan terkait perang Ukraina.

“Sungguh hal yang memalukan dan keterlaluan untuk dikatakan. Anda sebaiknya kembali ke Ukraina dan bertanya kepada keluarga anak-anak yang diculik dan dibunuh oleh Putin apakah mereka setuju bahwa teman Anda, Putin, adalah seorang ‘humanitarian’,” tulis Tillis.

Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di internal politik AS mengenai pendekatan pemerintahan Trump terhadap Moskwa.

Trump Tak Ingin Rusia Menjauh dari Meja Perundingan

Menanggapi kontroversi tersebut, Trump memilih tidak memberikan penilaian langsung terhadap pujian Witkoff kepada Putin.

Dalam sesi tanya jawab pada sebuah acara keamanan siber di Gedung Putih, Trump mengatakan dirinya lebih memprioritaskan keberhasilan pembebasan Hubbard.

Menurut Trump, langkah Witkoff harus dilihat dalam konteks misi khusus untuk membawa pulang warga AS yang sebelumnya terancam menghabiskan sisa hidupnya di penjara Rusia.

Sikap tersebut sejalan dengan pendekatan Trump yang belakangan berupaya membangun hubungan lebih baik dengan Putin demi membuka peluang penyelesaian perang Rusia-Ukraina.

Dalam unggahan media sosial pekan ini, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mengambil langkah yang justru membuat Rusia meninggalkan proses negosiasi.

“Saya sedang dalam proses menegosiasikan perdamaian dalam perang antara Rusia dan Ukraina, dan tidak ingin melakukan apa pun yang dengan bodohnya akan menjauhkan Rusia dari meja perundingan,” tulis Trump.

Strategi Trump Mulai Longgarkan Tekanan terhadap Moskwa

Sejumlah mantan pejabat AS yang mengikuti hubungan Washington dan Moskwa menilai pernyataan Witkoff merupakan bagian dari perubahan pendekatan pemerintahan Trump terhadap Rusia.

Baca Juga:  Trump Tuntut Iran Bayar Kompensasi Perang, Negosiasi Damai Terancam Makin Sulit

Alih-alih hanya mengandalkan tekanan ekonomi dan sanksi, pemerintahan Trump dinilai berupaya menggabungkan tekanan dengan tawaran insentif agar Putin bersedia bekerja sama.

Thomas Graham, mantan pejabat senior Dewan Keamanan Nasional AS yang menangani urusan Rusia, mengatakan pendekatan tersebut memang mengandalkan kombinasi tekanan dan peluang perbaikan hubungan.

“Pemerintahan dan Witkoff beroperasi dengan asumsi bahwa Anda memerlukan sejumlah tekanan, tetapi perlu menawarkan insentif juga,” ujar Graham.

Ia menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas dan telah dipertimbangkan secara matang oleh pemerintahan Trump.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dilaporkan mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia. Di antaranya terkait pembelian solar dari Rusia serta penundaan sanksi terhadap impor solar Rusia hingga awal April.

Trump juga menahan penerapan sanksi baru terhadap Rusia berdasarkan undang-undang yang baru disahkan Kongres AS dan dinamai dari mendiang Senator Lindsey Graham.

Pendekatan serupa terlihat dalam pertemuan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dengan Menteri Keuangan Rusia pada KTT G20 di Carolina Utara pada akhir Agustus dan awal September. Penyambutan tersebut memicu kritik dari sejumlah pejabat Eropa yang sebelumnya mendukung upaya mengisolasi Rusia akibat invasi ke Ukraina.

Perubahan pendekatan Washington terhadap Moskwa kini menjadi perhatian para pendukung Ukraina di AS maupun Eropa. Mereka khawatir pelonggaran tekanan ekonomi dapat mengubah posisi tawar Rusia dalam konflik tersebut.

Meski mendapat kritik, Trump tetap mempertahankan strateginya. Ia menegaskan bahwa prioritas pemerintahannya saat ini adalah mendorong tercapainya perdamaian tanpa mengambil langkah yang berpotensi menggagalkan perundingan dengan Kremlin. MK-komp

Redaktur : Munawir Sani