MARWAHKEPRI.COM – Aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil diduga telah menghentikan proses alami menuju zaman es berikutnya di Bumi. Kesimpulan tersebut muncul dari penelitian terbaru terhadap perubahan tutupan es di kawasan Arktik Kanada yang dipublikasikan dalam jurnal Science.

Penulis studi sekaligus ahli geokimia di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia Climate School, Nicolas Young, menjelaskan bahwa sistem iklim Bumi sebenarnya memiliki mekanisme alami yang dapat mengarah pada periode zaman es. Namun, proses tersebut diduga terganggu akibat pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia.

“Pada dasarnya, semuanya baru saja dimulai. Semuanya berjalan normal dan periode zaman es berikutnya akan terjadi. Namun, kemudian proses itu terhenti,” ujar Young, seperti dikutip CNN, Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, temuan tersebut menjadi bukti kuat betapa besar pengaruh manusia terhadap sistem planet.

Tutupan Es Barnes Jadi Petunjuk Perubahan Iklim

Penelitian ini berfokus pada Tutupan Es Barnes di Pulau Baffin, wilayah Nunavut, Kanada. Luasnya diperkirakan mencapai 5.700 hingga 6.000 kilometer persegi, atau hampir sebanding dengan luas Pulau Bali.

Tutupan Es Barnes merupakan salah satu sisa terakhir Lembaran Es Laurentide, lapisan es raksasa yang sekitar 20.000 tahun lalu membentang dari kawasan Lingkar Arktik hingga Illinois, Amerika Serikat. Di sejumlah bagian, ketebalannya bahkan mencapai sekitar dua mil.

Dalam rentang jutaan tahun, Bumi secara alami mengalami siklus perubahan iklim yang membawa planet ini masuk dan keluar dari periode zaman es. Perubahan tersebut antara lain dipengaruhi oleh variasi orbit Bumi terhadap Matahari.

Baca Juga:  Penelitian Ungkap Kebiasaan Menghisap Pinang di Sulawesi Sudah Ada Sejak Zaman Es

Sekitar 3.000 tahun lalu, Tutupan Es Barnes mencapai ukuran minimumnya. Namun, sekitar 2.000 tahun lalu, lapisan es tersebut mulai meluas kembali seiring penurunan suhu.

Para peneliti menilai perluasan itu dapat menjadi indikasi dimulainya proses menuju periode zaman es baru. Akan tetapi, tren tersebut berubah drastis sekitar 1960, ketika peningkatan suhu musim panas akibat perubahan iklim yang dipicu manusia membuat tutupan es kembali menyusut.

Young menilai perubahan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akibat aktivitas manusia.

“Kami menilai bukan suatu kebetulan bahwa hal itu terjadi pada waktu yang sama saat kita memompa sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer,” kata Young.

Ia menjelaskan, emisi dari pembakaran bahan bakar fosil telah mengalahkan mekanisme pendinginan alami yang sebelumnya mendorong perluasan es di kawasan tersebut.

Lumut Mati dan Isotop Batuan Ungkap Sejarah Es

Untuk merekonstruksi perubahan Tutupan Es Barnes selama ribuan tahun, para peneliti memanfaatkan karakteristik lapisan es yang membeku hingga ke batuan dasar dan tidak mengalami pergerakan berarti.

Kondisi tersebut memungkinkan sisa tumbuhan yang tertimbun di bawah es tetap terawetkan ketika lapisan es meluas.

Tim peneliti kemudian mengumpulkan dan menganalisis lumut mati di sekitar tepi tutupan es. Melalui penanggalan radiokarbon, mereka memperkirakan kapan tumbuhan tersebut terakhir hidup.

“Kami sebenarnya bisa melacak perluasan batas es seiring kemajuannya yang menutupi dan mematikan lumut-lumut tersebut,” terang Young.

Selain sampel tumbuhan, para ilmuwan juga menguji batuan di sekitar tutupan es. Pengujian dilakukan dengan mengukur isotop radioaktif langka yang terakumulasi ketika batuan terpapar udara.

Baca Juga:  Laporan Ilmiah Prediksi Sungai Eufrat Mengering pada 2040, Hadis Nabi Pernah Menyinggungnya

Metode tersebut membantu peneliti memperkirakan berapa lama suatu wilayah berada dalam kondisi bebas es. Dengan menggabungkan kedua pendekatan itu, mereka dapat menyusun rekonstruksi sejarah maju dan mundurnya Tutupan Es Barnes.

Tidak Semua Ilmuwan Sepakat

Meski memberikan gambaran baru mengenai perubahan iklim jangka panjang, kesimpulan penelitian tersebut mendapat tanggapan beragam dari kalangan ilmuwan.

Profesor ilmu bumi dari Dartmouth College, Meredith Kelly, yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai studi tersebut berhasil menggambarkan perubahan luas tutupan es melalui penanggalan radiokarbon terhadap tumbuhan.

Kelly menganggap kesimpulan bahwa perluasan Tutupan Es Barnes menandai awal zaman es baru mungkin saja benar. Namun, ia menilai diperlukan perbandingan dengan gletser di wilayah lain yang mengalami perluasan pada periode serupa.

Perbandingan tersebut penting untuk memahami apakah perubahan di Pulau Baffin benar-benar mencerminkan dimulainya siklus zaman es secara lebih luas.

Pandangan berbeda disampaikan fisikawan dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Andrey Ganopolski.

Berdasarkan penelitian pemodelan yang dilakukannya bersama tim, zaman es berikutnya diperkirakan baru akan terjadi sekitar 50.000 tahun lagi, bahkan tanpa memperhitungkan dampak pemanasan global.

Ganopolski menilai pertumbuhan Tutupan Es Barnes saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa siklus zaman es baru telah dimulai dan kemudian dihentikan oleh aktivitas manusia.

Menanggapi perbedaan pandangan tersebut, Young dan timnya berpandangan bahwa proses pembentukan kembali Lembaran Es Laurentide sudah dapat dianggap sebagai tahap awal zaman es. Mereka tidak harus menunggu hingga terbentuk lapisan es raksasa di berbagai belahan Bumi untuk menyatakan proses tersebut telah dimulai.

Baca Juga:  Super El Nino Ancam 900 Ribu Nyawa, Indonesia Masuk 5 Negara Paling Berisiko

Mengungkap Kembali Perdebatan Zaman Es pada 1970-an

Penelitian ini juga memberikan perspektif baru terhadap perdebatan ilmiah pada dekade 1970-an, ketika sejumlah ilmuwan sempat memperkirakan Bumi berpotensi memasuki periode pendinginan atau zaman es baru.

Salah satu pemberitaan yang banyak disorot kala itu adalah artikel The Cooling World yang diterbitkan majalah Newsweek. Artikel tersebut memperingatkan kemungkinan dampak pendinginan global, termasuk ancaman terhadap pasokan pangan.

Prediksi pada masa itu kemudian kerap digunakan oleh kelompok skeptis perubahan iklim untuk menuding ilmuwan terlalu berlebihan dalam menyampaikan peringatan mengenai perubahan iklim.

Namun, Young menilai temuan terbaru ini menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai kemungkinan dimulainya periode pendinginan pada masa itu tidak sepenuhnya keliru.

“Periode zaman es baru sebenarnya memang telah dimulai; itu baru saja berjalan, dan sekarang terhenti,” ungkapnya.

Meski demikian, Young mengingatkan agar hasil penelitian tersebut tidak ditafsirkan sebagai kabar baik bahwa pemanasan global telah menyelamatkan manusia dari zaman es.

Siklus zaman es berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang, hingga ribuan tahun sebelum dampaknya terasa secara langsung dalam kehidupan manusia.

Sebaliknya, temuan tersebut memperlihatkan besarnya campur tangan manusia terhadap keseimbangan sistem Bumi. Aktivitas manusia bukan hanya diduga menghambat proses pendinginan alami yang sedang berlangsung, tetapi juga berpotensi mengubah peluang terjadinya zaman es pada masa depan dalam jangka waktu yang sangat panjang. MK-mun

Redaktur : Munawir Sani