manusia-purba-sulawesi-konsumsi-pinang-zaman-es

Biji pinang yang mulai kering setelah dijemur tiga hari di Sentra Agribisnis Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/10/2021). (f: komp)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Indonesia ternyata memiliki sejarah panjang dalam penggunaan zat psikoaktif dari tumbuhan. Sebuah penelitian mengungkap bahwa manusia di Sulawesi Selatan telah mengonsumsi pinang atau jambe sejak sekitar 16.000 hingga 25.000 tahun lalu, pada masa Zaman Es.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang manusia di wilayah Indonesia telah mengenal efek zat aktif dari tanaman jauh sebelum manusia mengenal pertanian.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances itu melibatkan Adam Brumm dan Carney D. Matheson dari Griffith University, Fakhri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Melandri Vlok dari Charles Sturt University, serta Roger Papke dari University of Florida.

Penemuan bermula ketika tim peneliti menemukan gigi manusia purba di Sulawesi Selatan dengan bentuk lekukan bulat dan dalam yang tidak biasa.

Setelah menganalisis pola kerusakan tersebut, para ilmuwan menduga bahwa lekukan pada gigi terbentuk akibat kebiasaan menempatkan benda keras dan berbentuk bulat di antara gigi, kemudian mengisapnya secara berulang dalam waktu yang sangat lama.

Benda tersebut kemudian diidentifikasi sebagai biji pinang utuh.

Kebiasaan Menghisap Biji Pinang

Selama ini, para ilmuwan telah mengetahui bahwa tradisi mengunyah pinang atau betel quid yang biasanya melibatkan pinang, daun sirih dan kapur telah berlangsung selama ribuan tahun di sejumlah wilayah Asia dan Pasifik.

Namun, temuan di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa praktik mengonsumsi pinang ternyata jauh lebih tua.

Baca Juga:  Remaja di Tana Toraja Bacok Ibu Kandung Usai Tak Temukan Makanan

Manusia pada masa itu diduga belum mencampurkan pinang dengan bahan lain. Mereka cukup menempatkan biji pinang utuh di antara gigi dan mengisapnya untuk mendapatkan zat aktif yang terkandung di dalamnya.

Peneliti menemukan jejak arekolin, salah satu senyawa aktif utama dalam pinang, pada gigi manusia purba tersebut. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa biji pinang memang dikonsumsi secara berulang dalam kehidupan mereka.

Adam Brumm menjelaskan bahwa zat aktif dari pinang dapat dilepaskan dan masuk ke tubuh melalui proses mengisap, sehingga tidak membutuhkan campuran bahan lain.

Dengan demikian, manusia pada masa itu diperkirakan telah merasakan efek dari zat yang memengaruhi sistem saraf jauh sebelum manusia mengenal kegiatan bercocok tanam dan membuat tembikar.

Pinang Diduga Digunakan untuk Meredakan Sakit Gigi

Menariknya, kedua manusia purba yang giginya diteliti ternyata mengalami kerusakan gigi cukup parah.

Peneliti menduga efek dari zat aktif pinang yang dapat memberikan sensasi mati rasa atau meredakan rasa sakit kemungkinan menjadi salah satu alasan mereka mengonsumsi biji tersebut.

Kebiasaan itu kemudian berpotensi membentuk sebuah siklus.

Semakin sering pinang digunakan, semakin besar kerusakan pada gigi. Ketika rasa sakit muncul, pinang kembali digunakan untuk membantu meredakannya.

Dengan kata lain, kebiasaan tersebut kemungkinan terus berulang selama bertahun-tahun dan meninggalkan jejak yang jelas pada gigi.

Temuan ini juga memberikan gambaran bahwa manusia prasejarah telah memanfaatkan tumbuhan di lingkungan sekitarnya bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga untuk memperoleh efek tertentu bagi tubuh.

Baca Juga:  BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Berakhir Oktober, El Nino Bertahan hingga 2027

Pinang Termasuk Zat Psikoaktif yang Banyak Dikonsumsi

Saat ini, pinang masih dikonsumsi oleh ratusan juta orang di berbagai wilayah Asia dan Pasifik. Penggunaannya biasanya berkaitan dengan tradisi mengunyah pinang yang melibatkan campuran bahan tertentu.

Pinang mengandung arekolin, senyawa yang bekerja pada sistem saraf dan dapat memberikan efek stimulan serta perubahan sensasi pada penggunanya. Karena itu, penggunaan pinang secara rutin juga dapat menimbulkan ketergantungan.

Penelitian terbaru tersebut menunjukkan bahwa sejarah konsumsi pinang ternyata memiliki akar yang sangat panjang.

Adam Brumm menilai temuan di Sulawesi Selatan dapat mengubah pemahaman mengenai sejarah penggunaan zat psikoaktif oleh manusia.

Sebelumnya, penggunaan zat yang memengaruhi kesadaran sering dikaitkan dengan periode setelah manusia mulai mengenal pertanian, sekitar 12.500 tahun lalu.

Namun, bukti dari Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa manusia telah memanfaatkan tumbuhan yang memberikan efek psikoaktif jauh sebelum periode tersebut.

Temuan ini sekaligus menambah bukti bahwa wilayah Indonesia memiliki sejarah panjang dalam interaksi manusia dengan tumbuhan dan lingkungan alamnya.

Jauh sebelum munculnya peradaban besar di berbagai belahan dunia, manusia yang hidup di Sulawesi ternyata telah memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan, termasuk membantu mengatasi rasa sakit dan memperoleh efek tertentu dari tanaman. MK-cnbc

Redaktur : Munawir Sani