Messi Menangis usai Argentina Lolos Dramatis, Ronaldo Kembali Diseret Foto: Catherine Ivill - AMA/Getty Images
JAKARTA (marwahkepri.com) – Lionel Messi menjadi salah satu sosok yang paling banyak disorot sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Kapten Timnas Argentina itu tidak hanya mendapat perhatian karena penampilannya di lapangan, tetapi juga menjadi sasaran kritik dan berbagai narasi negatif yang ramai beredar di media sosial.
Perjalanan Argentina menuju partai final semakin memicu perdebatan. Berbagai keputusan wasit, insiden pelanggaran, selebrasi pemain, hingga potongan video pertandingan ramai dibagikan dengan narasi yang menyebut Argentina, termasuk Messi, mendapat perlakuan istimewa selama turnamen.
Situasi semakin memanas setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara dunia usai kalah 0-1 dari Spanyol pada partai final. Kekalahan tersebut diikuti berbagai kontroversi, mulai dari kericuhan antarpemain hingga sorotan terhadap sikap sebagian pemain Argentina saat Spanyol mengangkat trofi juara.
Meski tidak selalu terlibat langsung dalam berbagai insiden tersebut, Messi tetap menjadi sasaran kritik. Di media sosial, muncul berbagai sebutan negatif seperti “cheat” hingga “villain”, berbeda jauh dibandingkan Piala Dunia 2022 ketika banyak penggemar justru mendukungnya meraih gelar juara dunia.
Algoritma Media Sosial Dinilai Berperan
Rosie, seorang analis sekaligus content strategist di bidang private markets dengan akun @therosieum, mencoba menjelaskan mengapa sentimen terhadap Messi berubah drastis.
Menurutnya, perubahan opini publik tidak semata-mata dipengaruhi performa Messi di lapangan, tetapi juga oleh cara algoritma media sosial bekerja dalam mendistribusikan konten.
“Saya sudah menonton sepak bola seumur hidup, dan pekerjaan saya sehari-hari adalah membentuk narasi. Marketing, positioning, membuat orang merasakan sesuatu terhadap sesuatu. Saya tahu persis berapa biayanya untuk mengubah opini publik,” tulis Rosie.
Ia menjelaskan, empat tahun lalu mayoritas publik menginginkan Messi akhirnya meraih trofi Piala Dunia sehingga narasi yang berkembang cenderung positif.
Namun pada Piala Dunia 2026, situasinya berubah. Konten yang memicu kemarahan, perdebatan, dan konflik lebih mudah mendapatkan interaksi tinggi sehingga lebih sering direkomendasikan oleh algoritma media sosial.
Akibatnya, berbagai unggahan yang menggambarkan Messi sebagai sosok kontroversial lebih cepat menyebar dibandingkan konten yang bersifat netral.
Potongan Video Dinilai Membentuk Persepsi
Rosie juga menilai pembentukan narasi tidak selalu dilakukan melalui informasi yang sepenuhnya salah. Dalam banyak kasus, narasi dibangun dari potongan kejadian nyata yang tidak menampilkan keseluruhan peristiwa.
Misalnya, sebuah video hanya memperlihatkan pelanggaran tanpa memperlihatkan insiden yang terjadi sebelumnya atau keputusan wasit tanpa tayangan ulang secara lengkap.
Potongan video tersebut kemudian diberi judul atau keterangan tertentu sehingga mendorong penonton menarik kesimpulan tertentu.
Sepanjang Piala Dunia 2026, berbagai cuplikan pertandingan Argentina beredar luas dalam beragam versi. Ketika konten serupa terus muncul berulang kali, sebuah tudingan perlahan dapat diterima sebagai kebenaran oleh sebagian pengguna media sosial meskipun mereka tidak menyaksikan pertandingan secara utuh.
Penelitian MIT
Rosie juga mengutip hasil penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) terhadap sekitar 126.000 rangkaian berita di Twitter selama 11 tahun.
Penelitian tersebut menemukan bahwa informasi palsu menyebar lebih cepat, lebih luas, dan memiliki kemungkinan sekitar 70 persen lebih besar untuk dibagikan dibandingkan informasi yang benar.
Temuan itu dinilai menunjukkan bagaimana algoritma media sosial dapat memperkuat penyebaran narasi tertentu, termasuk dalam dunia olahraga, ketika sebuah konten mampu memancing emosi dan interaksi pengguna. MK-dtc
Redaktur : Munawir Sani
