Pemko Batam dan BP Batam siapkan roadmap pengelolaan air bersih

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam Amsakar Achmad ditemui usai rapat paripurna di DPRD Batam, Rabu (7/10/2026). (Foto: mun)

BATAM (marwahkepri.com) – Pemerintah Kota Batam dan BP Batam menyiapkan roadmap pengelolaan air bersih untuk mengatasi persoalan distribusi air dalam jangka panjang. Roadmap tersebut mencakup revitalisasi jaringan pipa, pemenuhan ketersediaan air baku, serta pembangunan sistem pemantauan distribusi secara real time.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan selama ini penanganan persoalan air masih dilakukan secara parsial. Karena itu, dirinya bersama Wakil Wali Kota Batam mendorong adanya solusi jangka panjang yang dituangkan dalam roadmap berbasis kajian akademik.

“Saya ingin, saya sama wakil ingin ada solusi jangka panjang yang ditampilkan. Setidaknya roadmap itu harus menggambarkan tiga hal,” kata Amsakar, Rabu (7/10/2026).

Tiga hal yang menjadi fokus roadmap tersebut yakni revitalisasi jaringan pipa, pemenuhan ketersediaan air baku, serta pembangunan sistem pemantauan distribusi air secara real time.

Untuk revitalisasi jaringan pipa, Amsakar mengatakan sejumlah jaringan di Batam telah berusia rata-rata di atas 25 hingga 50 tahun.

Revitalisasi jaringan pipa, kata Amsakar, membutuhkan data kondisi jaringan yang akurat untuk menentukan pipa yang harus diprioritaskan.

“Revitalisasi ini membutuhkan data yang betul-betul kuat karena tidak semua pipa-pipa itu dapat dideteksi,” katanya.

Persoalan kedua yang menjadi perhatian adalah ketersediaan air baku. Kebutuhan air Batam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perumahan, aktivitas ekonomi dan investasi.

Saat ini Batam memiliki delapan waduk, namun satu di antaranya sudah tidak beroperasi. Sementara tujuh waduk lainnya masih bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan.

Baca Juga:  Momentum Cap Go Meh, Li Claudia Ajak Masyarakat Menjaga Kelestarian Alam

Pemerintah kemudian mengkaji sumber air baku alternatif untuk menjamin kebutuhan air dalam jangka panjang. Dua wilayah yang pernah dikaji sebagai sumber air baku alternatif yakni Kabupaten Lingga dan Kabupaten Bintan.

“Di Lingga, sumbernya banyak, debit airnya tinggi, tapi costnya besar. Di Bintan, sumbernya terbatas, costnya murah,” jelasnya.

“Kalau kita memilih dua opsi itu, kalau memang ada investor yang sanggup atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga. Karena ini memiliki ketersediaan jangka panjang relatif lebih menjamin,” katanya.

Amsakar mengatakan kajian mengenai sumber air di Kabupaten Lingga sebenarnya pernah dilakukan oleh perusahaan pengelola air sebelumnya dan diperkirakan dibuat pada 1991.

Kajian tersebut akan disesuaikan dengan kondisi dan harga terkini. Namun, kebutuhan investasi untuk mendatangkan air baku dari luar Batam diperkirakan cukup besar.

“Itu sudah ada, file itu kita akan lakukan penyesuaian dengan harga terkini. Tetapi angkanya cukup besar,” katanya.

Besarnya kebutuhan investasi menjadi salah satu tantangan apabila proyek tersebut menggandeng investor. Investor perlu menghitung kelayakan proyek, termasuk waktu pengembalian modal.

“Kalau kita mau gandeng investor, mereka harus mempertimbangkan dengan cermat soal break-even point-nya, kapan akan kembali ke titik pengembalian modal,” ujarnya.

Selain mencari sumber air baku alternatif, Pemko Batam juga mempertimbangkan pembangunan waduk baru. Namun, opsi tersebut membutuhkan waktu cukup panjang dan diperkirakan baru dapat beroperasi paling cepat tujuh tahun.

Baca Juga:  Turnamen Pulau Muda Cup 2026 Resmi Dibuka, Camat Meranti Dorong Bibit Muda Berprestasi

Karena itu, pencarian sumber air baku alternatif menjadi salah satu opsi yang dikaji untuk memenuhi kebutuhan air Batam dalam jangka panjang.

Pemko Batam juga telah beberapa kali bertemu dengan pemerintah daerah terkait untuk membahas kemungkinan kerja sama serta skema pembiayaan.

“Kami juga sudah tiga kali bertemu dengan bupati dan wali kota. Ini hanya memikirkan bagaimana skema pembiayaan yang paling mungkin, mitra yang paling mungkin untuk masuk ke situ,” ujarnya.

Fokus ketiga dalam roadmap adalah pembangunan sistem pemantauan distribusi air secara real time. Amsakar mengatakan sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) perlu dibangun kembali agar persoalan distribusi dapat dipantau secara cepat.

Tim saat ini masih menyiapkan roadmap tersebut sembari menangani persoalan distribusi air di sejumlah wilayah.

Di tengah penyusunan roadmap jangka panjang, Pemko Batam juga menjalankan langkah cepat untuk mengatasi persoalan di 18 wilayah yang masuk dalam kategori stress area.

Amsakar mengatakan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dijanjikan telah masuk dalam perencanaan. Salah satunya peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air (IPA) dari sekitar 2 liter per detik menjadi 5 liter per detik. Selain itu, pekerjaan pipanisasi disebut telah mencapai kawasan Sengkuang. (mun)

Redaktur: Munawir Sani