Kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia. (f: ai)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Pemerintah Iran dikabarkan akan mengizinkan kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz dengan syarat khusus, yakni menggunakan mata uang China, Yuan, dalam transaksi minyak.

Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menyerang infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg.

Ancaman tersebut dilontarkan jika Teheran tetap memblokir kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Seorang pejabat senior yang dikutip dari CNN menyebutkan bahwa Iran tengah mempertimbangkan skema baru pengelolaan lalu lintas kapal tanker minyak di kawasan tersebut.

Dalam skema itu, hanya kapal tertentu yang diizinkan melintas, dengan syarat muatan minyaknya diperdagangkan menggunakan yuan China.

Selama ini, perdagangan minyak global umumnya menggunakan dolar AS. Namun, beberapa negara seperti Rusia mulai menggunakan mata uang alternatif seperti rubel dan yuan akibat sanksi internasional.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan menjadi salah satu titik paling penting dalam distribusi energi dunia.

Baca Juga:  Iran Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait dengan Drone, Perang Timur Tengah Kembali Memanas

Kekhawatiran terhadap potensi gangguan di selat ini telah mendorong harga minyak global meningkat ke level tertinggi sejak 2022.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa pembatasan arus kapal di Selat Hormuz dapat berdampak luas, tidak hanya pada energi, tetapi juga pada distribusi kebutuhan dasar.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menyebutkan bahwa terganggunya jalur ini akan membuat distribusi makanan, obat-obatan, dan logistik lainnya menjadi lebih sulit dan mahal.

Situasi ini terjadi di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Kebijakan penggunaan yuan dalam transaksi minyak dinilai sebagai langkah strategis Iran untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan China. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani