Alvin Tedjo terpilih menjadi Walikota Kanada

Alvin Tedjo, politisi keturunan Indonesia, berhasil memenangkan pemilihan Wali Kota Mississauga, Ontario, Kanada, pada 26 Oktober 2026. (f: net)

MISSISSAUGA (marwahkepri.com) – Politisi keturunan Indonesia, Alvin Tedjo, berhasil memenangkan pemilihan Wali Kota Mississauga, Ontario, Kanada, yang digelar pada Senin (26/10/2026). Kemenangan tersebut terbilang mengejutkan karena sejak awal ia tidak diunggulkan dalam persaingan.

Alvin harus menghadapi dua pesaing berpengalaman, yakni wali kota petahana Carolyn Parrish dan mantan Wali Kota Mississauga Bonnie Crombie. Keduanya telah lebih dahulu dikenal masyarakat dan memiliki rekam jejak dalam memimpin kota tersebut.

Dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com, Kamis (29/10/2026), Alvin mengaku sempat meragukan peluangnya untuk memenangkan kontestasi politik tersebut.

“Pemilihan ini susah sekali. Ya, sangat sulit untuk mengalahkan mereka. Jadi, saya mencalonkan diri melawan wali kota Mississauga saat ini. Lalu saya juga mencalonkan diri melawan wali kota Mississauga sebelumnya,” kata Alvin.

Menurutnya, menghadapi satu mantan atau petahana wali kota saja sudah menjadi tantangan besar. Apalagi, dalam pemilihan kali ini ia harus bersaing dengan keduanya sekaligus.

“Jadi, dua orang itu sudah berpengalaman. Ya, termasuk sang wali kota. Mengalahkan salah satu dari mereka saja sudah sangat sulit. Mengalahkan keduanya jauh lebih sulit lagi,” ujarnya.

Sempat Terpuruk di Posisi Keempat dalam Jajak Pendapat

Keraguan Alvin semakin besar ketika melihat hasil sejumlah jajak pendapat selama masa kampanye. Ia mengungkapkan, namanya tidak pernah menempati posisi pertama hingga menjelang hari pemungutan suara.

Baca Juga:  Pesawat Ethiopian Airlines Ditolak Mendarat di Israel, Pilotnya Ternyata WNI

Bahkan, pada awal masa kampanye, Alvin sempat berada di posisi keempat sebelum perlahan naik ke peringkat ketiga dan kedua.

“Dari semua polling, saya yang di awal posisi empat, terus tiga, terus dua, tapi enggak pernah pertama sampai malam pemilihan,” tuturnya.

Namun, hasil akhir justru berbanding terbalik dengan gambaran jajak pendapat tersebut. Alvin berhasil meraih hampir 40 persen suara, sedangkan dua pesaingnya masing-masing memperoleh sekitar 20 persen.

“Dan kemudian terus malam pemilu saya menang banyak sepertinya hampir 40 persen. Dan dua kandidat lainnya masing-masing memperoleh 20 persen. Jadi, kami tahu sejak awal bahwa perjuangan ini akan sulit,” katanya.

Alvin mengakui kemenangannya mengejutkan banyak pihak. Meski tidak diunggulkan, ia bersama tim kampanye tetap bekerja keras karena merasakan adanya keinginan masyarakat untuk menghadirkan perubahan di Mississauga.

Menurutnya, para pemilih mulai menginginkan pilihan baru dan tidak ingin terus-menerus memilih dua tokoh yang sebelumnya sudah pernah memimpin kota tersebut.

“Kami tahu kami telah bekerja keras dan mampu meraih kemenangan, rasanya cukup optimistis karena kami bisa merasakan bahwa masyarakat menginginkan perubahan. Para pemilih memang menginginkan perubahan. Mereka tidak ingin terus-menerus memilih dua kandidat yang sudah ada sebelumnya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Taufik Hidayat Apresiasi Leo/Daniel Usai Sabet Emas Asian Games 2026

Anak Imigran Indonesia, Dekat dengan Keberagaman Warga

Alvin menilai latar belakang keluarganya sebagai imigran turut menjadi salah satu kekuatan dalam kampanye. Ia lahir di Kanada dari pasangan orang tua asal Indonesia. Ibunya berasal dari Jakarta, sementara ayahnya berasal dari Padang. Keduanya pindah ke Kanada pada 1977.

Pengalaman tumbuh sebagai anak imigran membuat Alvin merasa memiliki kedekatan dengan banyak warga Mississauga yang juga berasal dari berbagai negara.

Ia menyebut lebih dari 50 persen penduduk Mississauga lahir di luar Kanada. Kota dengan populasi sekitar 750.000 jiwa itu juga memiliki sekitar 150.000 penduduk Muslim.

Kondisi tersebut menjadikan Mississauga sebagai salah satu kota dengan keberagaman budaya dan latar belakang masyarakat yang tinggi.

“Saya rasa, yang dilihat oleh banyak pemilih dalam kampanye saya adalah kesempatan untuk memilih seseorang yang memiliki pengalaman sebagai generasi pertama, seseorang yang orang tuanya merupakan imigran. Sebab, banyak imigran di Kanada yang menghadapi tantangan serupa,” ujarnya.

Alvin juga menceritakan perjuangan ayahnya ketika pertama kali menetap di Kanada. Sebelum pindah, sang ayah bekerja sebagai dokter gigi di Indonesia. Namun, kualifikasi dan gelar profesinya tidak langsung diakui di negara tersebut.

Baca Juga:  Indonesia Lanjutkan Kontribusi US$1,2 Juta untuk UNRWA, Sugiono Dorong Negara Lain Ikut Tingkatkan Dukungan

Akibatnya, sang ayah harus kembali menempuh pendidikan dan membangun karier dari awal.

“Jadi, dia harus pergi ke sekolah lagi, dan kamu tahu mulai dari tahun pertama seperti semuanya dari awal. Susah kan?” kata Alvin.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami berbagai tantangan yang dihadapi para pendatang ketika membangun kehidupan di negara baru.

Menurut Alvin, warga Mississauga berasal dari beragam latar belakang, mulai dari China, Timur Tengah, Afrika, hingga kawasan lainnya. Karena itu, pengalaman keluarganya sebagai imigran memberinya perspektif tersendiri dalam memahami kebutuhan masyarakat.

Saat ini, Alvin berusia 43 tahun dan memiliki tiga anak berusia 11, 13, dan 15 tahun. Di sisi lain, orang tuanya juga telah memasuki usia lanjut. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat ia memahami kebutuhan berbagai kelompok usia dan generasi.

“Anda tahu, itu memberi kami banyak perspektif untuk membantu orang yang berbeda dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya mengerti apa yang mereka alami karena saya juga mengalaminya, kan?” tambahnya.

Kemenangan Alvin menjadi catatan tersendiri bagi komunitas Indonesia di Kanada. Ia menyebut dirinya sebagai wali kota pertama keturunan Indonesia di Mississauga sekaligus orang pertama nonkulit putih yang terpilih memimpin kota tersebut. MK-komp

Redaktur : Munawir Sani