b50-resmi-berlaku-1-juli-2026-hasil-uji-coba-positif

Seorang pekerja mengoperasikan unit pencampur bahan bakar portabel selama acara pengujian biodiesel 50%, seiring Indonesia berencana untuk menaikkan tingkat pencampuran wajib untuk biodiesel berbasis sawit dari 40% menjadi 50%, standar yang dikenal sebagai B50, yang merupakan bagian dari rencana pemerintah yang lebih luas untuk mengurangi risiko yang timbul dari perang Iran, di Lembang, Provinsi Jawa Barat, 21 April 2026. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan program Biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak (BBM) solar dengan campuran 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Peluncuran tersebut menandai peningkatan mandatori biodiesel dari B40 yang telah diterapkan sejak awal 2025 menjadi B50.

Peresmian dilakukan pada Kamis (9/7/2026). Dengan kebijakan tersebut, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50 secara nasional.

“Dengan diluncurkannya program ini, Indonesia resmi menjadi negara di dunia yang menerapkan mandatori Biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini bukti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kepentingan rakyat sendiri,” kata Prabowo.

Hemat Devisa Rp170 Triliun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun per tahun.

Nilai tersebut meningkat dibandingkan penghematan devisa saat penerapan B40 yang mencapai Rp133,3 triliun.

“Dengan implementasi B50 ini kita tidak impor solar lagi. Ini pertama kali. Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi ini soal kedaulatan dan kemandirian energi bangsa,” ujar Bahlil.

Baca Juga:  Forbes Ungkap 10 Kreator Konten Berpenghasilan Tertinggi 2026, MrBeast Tak Tertandingi

Menurutnya, peningkatan campuran biodiesel juga memberikan dampak positif terhadap industri kelapa sawit nasional.

Penerapan B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah industri crude palm oil (CPO) menjadi Rp23,49 triliun, naik dibandingkan Rp20,92 triliun pada saat B40.

Selain itu, program tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja sekaligus menurunkan emisi karbon secara signifikan.

“B50 bukan hanya campuran bahan bakar fosil dan nabati, tetapi keputusan untuk rakyat bahwa Indonesia mampu berdiri di atas sumber daya sendiri,” tegasnya.

Kebutuhan FAME dan CPO Meningkat

Dengan penerapan B50, kebutuhan biodiesel atau FAME meningkat menjadi sekitar 16,7 hingga 18 juta kiloliter, naik dibandingkan kebutuhan saat B40 yang mencapai 14,9 juta kiloliter.

Sementara kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan meningkat menjadi 15,2 hingga 16,3 juta ton, dari sebelumnya sekitar 13,6 juta ton.

Dari sisi lingkungan, kebijakan B50 diproyeksikan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂, meningkat dibandingkan pengurangan emisi sebesar 39,66 juta ton CO₂ saat penerapan B40.

Harga Biosolar B50 Tetap

Meski kandungan biodiesel meningkat menjadi 50 persen, pemerintah memastikan harga Biosolar subsidi di SPBU tidak mengalami perubahan.

Baca Juga:  Menkeu Siapkan Tambahan Rp20 Triliun untuk BPJS Kesehatan

Bahlil menegaskan harga Biosolar B50 tetap Rp6.800 per liter.

“Untuk B50 yang dikonsumsi masyarakat penerima subsidi tetap harganya Rp6.800 per liter. Tidak ada penambahan harga. Ini bagian dari strategi menuju net zero emission karena mampu menurunkan emisi CO₂ sekitar 44 juta metrik ton,” jelasnya.

B50 berlaku untuk berbagai sektor, mulai dari transportasi darat, pertambangan, pertanian, perikanan dan kelautan, perkeretaapian hingga transportasi laut.

Harga Keekonomian

Untuk BBM subsidi, harga tetap mengikuti ketetapan pemerintah. Sementara produk non-subsidi akan mengikuti formula harga yang berlaku.

Saat ini, harga keekonomian solar berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp21.000 per liter, sedangkan harga biodiesel ditetapkan pemerintah setiap bulan.

Kementerian ESDM menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel untuk Juli 2026 sebesar Rp14.562 per liter ditambah ongkos angkut.

Perhitungan HIP tersebut mengacu pada harga rata-rata CPO periode 25 Mei hingga 24 Juni 2026 sebesar Rp15.217 per kilogram, ditambah faktor konversi bahan baku biodiesel dan kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.895 per dolar AS. MK-cnbc

Redaktur : Munawir Sani