Gubernur Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura genap satu tahun memimpin Kepulauan Riau dengan capaian ekonomi dan sosial yang meningkat signifikan.
TANJUNGPINANG (marwahkepri.com) – Langit pagi 20 Februari 2025 di halaman Istana Merdeka menjadi saksi babak baru kepemimpinan di Kepulauan Riau. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Ansar Ahmad dan Nyanyang Haris Pratamura resmi mengemban amanah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2025–2030.
Setahun berlalu, duet kepemimpinan ini menandai perjalanan dengan satu narasi besar: membangun Kepri yang maju, makmur, dan merata—bukan sekadar slogan, melainkan angka-angka yang berbicara.
Ekonomi Melaju di Atas Rata-Rata Nasional
Di tengah dinamika global, Kepri justru melesat. Tahun pertama kepemimpinan Ansar–Nyanyang mencatat pertumbuhan ekonomi 6,94 persen (C-to-C). Angka ini melampaui rata-rata Sumatera maupun nasional.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan mencapai Rp224,51 triliun. Kepri pun menjadi provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Sumatera dan peringkat ketiga nasional.
Lonjakan ini ditopang investasi PMA dan PMDN yang meningkat signifikan, geliat manufaktur yang kembali menguat, serta sektor pariwisata yang bangkit. Sepanjang 2025, kunjungan wisatawan mancanegara menembus 2,027 juta orang—naik 22,59 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Capaian ini adalah hasil kolaborasi semua pihak,” ujar Ansar dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya.
IPM Tembus “Sangat Tinggi”
Bukan hanya ekonomi yang tumbuh. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri mencapai 80,53 pada 2025—resmi naik kelas dari kategori “Tinggi” menjadi “Sangat Tinggi”.
Kepri kini berada di peringkat ketiga nasional dan menjadi provinsi dengan IPM tertinggi di luar Pulau Jawa. Pendidikan, kesehatan, dan ekonomi inklusif menjadi fondasi capaian ini.
Kemiskinan Terendah di Sumatera
Maret 2025 mencatat angka kemiskinan 4,44 persen atau 117,28 ribu jiwa—turun signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kepri menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Sumatera dan peringkat keempat terendah secara nasional.
Di saat bersamaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun menjadi 6,45 persen. Pendidikan vokasi dan penguatan konektivitas dunia usaha menjadi strategi utama.
Harmoni Sosial dalam Keberagaman
Kepri tak hanya bertumbuh secara ekonomi, tetapi juga dalam harmoni sosial. Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 mencapai 83,68, menempatkan Kepri konsisten dalam lima besar provinsi terukun nasional selama empat tahun terakhir.
Dialog lintas iman, pembinaan keagamaan, dan pelestarian budaya menjadi pilar penting pembangunan.
Infrastruktur dan Konektivitas Maritim
Sebagai provinsi kepulauan, konektivitas menjadi urat nadi pembangunan. Progres pembangunan Jembatan Batam–Bintan dengan panjang 7,6 kilometer menjadi simbol ambisi besar Kepri memperkuat ekonomi regional.
Revitalisasi Pulau Penyengat, pembangunan Tugu Bahasa, hingga penataan Taman Gurindam 12 memperlihatkan perpaduan pembangunan fisik dan pelestarian sejarah.
Program Kepri Terang mendorong rasio elektrifikasi hingga 99,21 persen. Sementara Kepri Merdeka Sinyal memperluas akses telekomunikasi ke wilayah blank spot.
Kesehatan dan Perlindungan Sosial
Peresmian tujuh gedung baru RSJKO Engku Haji Daud di Tanjunguban memperkuat layanan kesehatan jiwa dan ketergantungan obat. Program Rumah Singgah di Batam dan Jakarta membantu ribuan pasien rujukan.
Nelayan dan petani mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. UMKM didorong naik kelas melalui subsidi bunga 0 persen.
Mendukung Asta Cita Nasional
Sejak awal, Ansar–Nyanyang menegaskan komitmen mendukung visi nasional Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui Asta Cita.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah terealisasi 79,32 persen dengan lebih dari 506 ribu penerima manfaat. Sebanyak 407 Koperasi Merah Putih terbentuk di desa dan kelurahan. Rehabilitasi rumah tidak layak huni menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk komunitas adat Orang Laut.
Di sektor pangan, indeks ketahanan pangan meningkat menjadi 71,96 persen. Nilai tukar petani pun naik menjadi 108,01 persen.
Setahun pertama bukanlah garis akhir. Bagi Ansar dan Nyanyang, ini adalah fondasi. Di negeri maritim yang tersebar dalam gugusan pulau-pulau, pembangunan bukan hanya soal pertumbuhan angka, tetapi memastikan manfaatnya terasa hingga ke tepian desa dan pulau terluar. Dan di sana, masa depan Kepri sedang ditenun—perlahan, namun pasti.MK-YR
Redaktur : Munawir Sani
