Foto : Tom Reuen (CCO)
MARWAHKEPRI.COM – Para astronom menemukan objek langit misterius yang diduga kuat merupakan planet kerdil baru di wilayah terluar Tata Surya. Benda langit yang diberi nama 2026 ED138 tersebut diperkirakan memiliki diameter antara 600 hingga 1.500 kilometer dan berada di kawasan luar orbit Neptunus.
Penemuan ini menjadi perhatian karena objek tersebut selama ini belum terdeteksi, meskipun berada di lingkungan Tata Surya yang sama dengan Pluto dan sejumlah planet kerdil lainnya.
Dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (29/10/2026), objek tersebut ditemukan menggunakan Observatorium Vera C. Rubin. Pengamatan awal menunjukkan karakteristiknya mengarah pada kategori planet kerdil, meskipun penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan ukuran, bentuk, serta orbitnya.
Jika statusnya terkonfirmasi, 2026 ED138 berpotensi menambah daftar planet kerdil yang telah diketahui para ilmuwan, seperti Pluto, Eris, Haumea, Makemake, dan Ceres.
Objek ini berada di kawasan Sabuk Kuiper, wilayah yang dipenuhi benda-benda es dan batuan di luar orbit Neptunus. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu fokus penelitian astronomi karena menyimpan banyak petunjuk mengenai pembentukan dan perkembangan Tata Surya.
Astreofisikawan Matthew Holman dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics mengaku sempat tidak percaya ketika pertama kali melihat hasil pengamatan objek tersebut.
“Reaksi pertama saya adalah tak percaya. Objek seperti ini sangat jarang, saya langsung mengecek apa saya melakukan kesalahan,” kata Holman.
Mengapa Planet Kerdil Ini Baru Ditemukan?
Ada sejumlah faktor yang membuat objek 2026 ED138 sulit terdeteksi selama ini.
Salah satunya karena jaraknya yang sangat jauh dari Matahari. Kondisi tersebut membuat permukaan objek hanya menerima sedikit cahaya sehingga sinar yang dipantulkan menuju Bumi juga sangat lemah.
Pengamatan menggunakan inframerah pun tidak mudah dilakukan karena suhu objek yang sangat dingin.
Selain itu, posisi benda langit tersebut terus berubah mengikuti pergerakan orbitnya. Teleskop harus diarahkan ke lokasi dan waktu yang tepat agar objek bisa tertangkap kamera.
Karakteristik orbitnya juga menjadi tantangan tersendiri. Objek yang berada di wilayah luar Neptunus dapat memiliki lintasan dengan kemiringan dan pola pergerakan yang berbeda dari planet-planet utama di Tata Surya.
Kondisi tersebut membuat pencarian benda langit di kawasan terluar Tata Surya membutuhkan pengamatan yang lebih teliti dan berulang.
Peran Observatorium Vera C. Rubin
Keberhasilan mendeteksi 2026 ED138 tidak terlepas dari kemampuan Observatorium Vera C. Rubin yang dilengkapi kamera digital berteknologi tinggi untuk pengamatan astronomi.
Kamera tersebut dirancang untuk menangkap objek-objek langit dalam skala luas dan melakukan pengamatan secara berulang.
Kemampuan ini memungkinkan para astronom mengidentifikasi benda langit yang sebelumnya luput dari pengamatan teleskop lain, termasuk objek dengan tingkat kecerahan sangat rendah.
Data hasil pengamatan juga membantu peneliti melacak perubahan posisi objek dari waktu ke waktu sehingga karakteristik dan jalur orbitnya dapat dipelajari lebih lanjut.
Masih Perlu Penelitian Lanjutan
Meski telah terdeteksi, status 2026 ED138 sebagai planet kerdil belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Para peneliti masih perlu mengukur diameter, bentuk, serta karakteristik orbitnya secara lebih akurat. Pengamatan lanjutan juga diperlukan untuk mengetahui apakah lintasannya stabil dan bagaimana posisinya dalam struktur Tata Surya.
Dalam klasifikasi astronomi, sebuah benda langit tidak otomatis disebut planet kerdil hanya karena ukurannya besar. Objek tersebut juga harus mengorbit Matahari, memiliki gravitasi yang cukup untuk membentuknya menjadi hampir bulat, bukan satelit, serta belum membersihkan lingkungan orbitnya dari benda-benda lain.
Penemuan ini kembali menunjukkan bahwa Tata Surya masih menyimpan banyak objek yang belum teridentifikasi.
Wilayah terluar di sekitar Sabuk Kuiper, khususnya, masih belum dipetakan secara menyeluruh. Para ilmuwan memperkirakan masih terdapat banyak benda langit yang menunggu untuk ditemukan melalui pengamatan astronomi generasi terbaru. MK-cnbc
Redaktur : Munawir Sani
