Peternakan ayam petelur yang dikelola BUMDes Desa Pesisir Timur, Kecamatan Siantan, sebagai upaya mengatasi kelangkaan telur di Anambas.(foto/batampos)
ANAMBAS (marwahkepri.com) – Kelangkaan telur ayam yang kerap terjadi di Kabupaten Kepulauan Anambas mendorong Desa Pesisir Timur, Kecamatan Siantan, mengembangkan peternakan ayam petelur secara mandiri melalui BUMDes sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan.
Kelangkaan telur ayam yang sering terjadi di Kabupaten Kepulauan Anambas mendorong desa-desa mulai membangun peternakan ayam petelur secara mandiri.
Jarak Anambas yang cukup jauh dari daerah penghasil telur membuat distribusi sangat bergantung pada kondisi laut. Saat gelombang tinggi, pengiriman dari luar daerah kerap terhambat dan memicu kenaikan harga di tingkat masyarakat.
Salah satu desa yang memulai terobosan tersebut adalah Desa Pesisir Timur, Kecamatan Siantan. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemerintah desa membangun usaha peternakan ayam petelur sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
Pada tahap awal, BUMDes mendatangkan 400 bibit ayam petelur yang dipelihara sejak usia dini, bukan dalam kondisi siap produksi. Namun, dalam proses pemeliharaan, tidak seluruh bibit mampu bertahan. Dari 400 ekor yang didatangkan, kini tersisa 333 ekor ayam.
Pengelola peternakan ayam petelur Desa Pesisir Timur, Yoga Syahputra, mengatakan kematian ayam sebagian besar disebabkan faktor teknis, terutama perubahan suhu kandang dan seringnya pemadaman listrik.
“Yang mati banyak di bawah umur satu bulan. Faktor suhu dan sering mati lampu sangat berpengaruh. Kita beternak dari bibit, bukan indukan siap bertelur, jadi perawatannya memang lebih ekstra,” ujarnya, Kamis (19/2).
Menurutnya, kestabilan listrik sangat penting untuk menjaga suhu kandang tetap hangat, khususnya bagi anak ayam. Saat listrik padam, suhu turun drastis sehingga ayam rentan sakit hingga mati.
Meski menghadapi kendala, peternakan tersebut kini telah berjalan selama empat bulan. Sejumlah ayam bahkan mulai memasuki masa produksi dan menghasilkan telur.
“Sudah ada beberapa ayam yang mulai bertelur. Memang belum maksimal, tapi ini jadi tanda awal yang baik,” katanya.
Produksi telur saat ini masih terbatas karena belum seluruh ayam memasuki masa produktif. Namun, hasil diperkirakan meningkat secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala Desa Pesisir Timur, Sabli, mengatakan program ini menjadi langkah awal desa untuk mewujudkan kemandirian pangan, khususnya komoditas telur.
Selama ini, pasokan telur banyak bergantung dari Bintan. Saat cuaca buruk dan gelombang tinggi, distribusi kerap tersendat.
“Telur di tempat kita sering putus karena faktor cuaca. Pengiriman dari Bintan terhambat, sehingga kita buat terobosan dengan beternak sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, program peternakan ayam petelur tersebut dibiayai dari Dana Desa, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mengalokasikan 20 persen Dana Desa untuk mendukung program ketahanan pangan.
“Ini bagian dari kebijakan pusat agar desa lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada pasokan luar,” tegasnya.(*)
Redaktur : Munawir Sani
