Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat melakukan kunjungan media ke kantor The Jakarta Post di Jakarta Pusat, Kamis (19/02/2026).
JAKARTA (marwahkepri.com) – Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menilai gelombang disinformasi yang semakin masif di ruang digital dapat berdampak serius terhadap persepsi publik dan reputasi Indonesia di tingkat internasional.
Hal tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan media (media visit) ke kantor The Jakarta Post di Jakarta Pusat, Kamis (19/02/2026).
“Kita saat ini berhadapan dengan misinformasi yang sangat tinggi, media arus utama lah yang berperan menjaga profesionalitas dan menyampaikan hal-hal yang benar,” ujar Meutya, mengutip laman Kemenkomdigi.
Menurutnya, maraknya narasi keliru di media sosial memicu kesalahpahaman di masyarakat serta menenggelamkan diskusi-diskusi konstruktif yang sebenarnya berdampak positif bagi publik.
“Kita jadi sulit untuk mendengarkan, mana suara-suara yang memang ingin membangun dan mana yang sifatnya noise saja. Ketika noise-nya tinggi, pasti suara-suara yang baik akan cenderung tenggelam,” jelasnya.
Meutya menyoroti bahwa dalam isu luar negeri, disinformasi bahkan dapat mengganggu posisi tawar Indonesia di forum internasional, salah satunya terkait partisipasi Indonesia dalam Board of Peace.
“Pemerintah dikritik silakan, tapi isu Board of Peace ini juga terkait posisi tawar Indonesia,” katanya.
Ia menegaskan, media tidak hanya berperan menyampaikan kebijakan pemerintah, tetapi juga menjaga akurasi informasi pada isu-isu sensitif yang berdampak pada reputasi dan diplomasi Indonesia.
Meutya menyebut pemerintah membutuhkan media yang argumentatif dan analitis agar publik memperoleh gambaran utuh, bukan potongan informasi yang memicu emosi.
“Hak atas informasi dalam konstitusi itu bermakna informasi yang benar. Informasi yang benar menjadi hak bagi masyarakat untuk tahu, itu yang ingin kita jaga,” tandasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kerja jurnalistik berbasis verifikasi untuk menjaga kualitas informasi di era digital yang serba cepat.(*)
Redaktur : Munawir Sani
