Ilustrasi olahraga terlalu berat menyebabkan sakit ginjal. (f: ai)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Olahraga rutin merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, para ahli mengingatkan bahwa latihan fisik yang dilakukan secara berlebihan atau tanpa adaptasi yang tepat justru dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, termasuk kerusakan ginjal.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah rhabdomyolisis, yaitu kerusakan jaringan otot akibat aktivitas fisik yang terlalu berat. Saat kondisi ini terjadi, otot yang rusak akan melepaskan zat seperti kreatin kinase (CK) dan mioglobin ke dalam aliran darah. Jika jumlahnya berlebihan, zat tersebut dapat membebani hingga merusak fungsi ginjal.
Kasus rhabdomyolisis sempat dialami oleh sejumlah peserta olahraga intensitas tinggi. Seorang wanita di Amerika Serikat dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengikuti kelas bersepeda indoor yang sangat intens. Kasus serupa juga terjadi pada seorang wanita di Malaysia setelah mencoba latihan spinning.
Baca juga : Sering Buka Banyak Tab Browser? Ini 7 Kepribadian yang Mungkin Anda Miliki
Profesor klinis asosiasi nefrologi, Dr. Niloofar Nobakht, menjelaskan bahwa rhabdomyolisis akibat aktivitas fisik dapat muncul setelah olahraga berat atau latihan intensitas tinggi yang memaksa otot bekerja melampaui kemampuannya.
Selain karena olahraga, kondisi tersebut juga dapat dipicu oleh trauma fisik langsung, seperti cedera akibat kecelakaan atau tekanan berat pada otot dalam waktu lama.
Meski dapat dialami siapa saja, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain atlet, pelari, anggota kepolisian, petugas pemadam kebakaran, serta individu yang baru kembali berolahraga setelah lama tidak aktif.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala rhabdomyolisis tidak selalu muncul segera setelah olahraga. Pada beberapa kasus, tanda-tandanya baru dirasakan beberapa jam hingga beberapa hari kemudian.
Beberapa gejala yang umum terjadi meliputi:
- Nyeri otot yang lebih berat dari biasanya.
- Kram atau pegal berkepanjangan.
- Tubuh terasa sangat lemah dan sulit melakukan aktivitas fisik.
- Urine berwarna gelap seperti teh atau cola.
- Penurunan kemampuan berolahraga dibanding biasanya.
Jika mengalami gejala tersebut setelah berolahraga berat, seseorang dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penanganan dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius, termasuk gagal ginjal.
Terapkan Prinsip Bertahap
Praktisi kebugaran dr. Anita Suyani, SpKO, mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip start low, go slow dalam berolahraga. Menurutnya, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap peningkatan intensitas latihan.
Baca juga : Indonesia Bersiap Hadapi El Nino Kuat, Curah Hujan Berpotensi Menurun
Seseorang yang lama tidak berolahraga tidak disarankan langsung kembali ke beban latihan tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya. Intensitas latihan sebaiknya ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
Dorongan untuk melampaui batas kemampuan atau push the limit tetap diperbolehkan selama dilakukan secara aman dan tidak menimbulkan rasa sakit berlebihan maupun cedera.
Dengan memahami batas kemampuan tubuh serta meningkatkan intensitas olahraga secara bertahap, manfaat olahraga dapat diperoleh secara optimal tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang berbahaya. MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
