Wisatawan mancanegara berkunjung ke Kepulauan Riau

Aktivitas wisatawan mancanegara di Pulau Penyengat yang merupakan salah satu destinasi wisata Kepulauan Riau. (Foto: kepriprov)

TANJUNGPINANG (marwahkepri.com) – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepulauan Riau pada Januari 2026 menunjukkan tren penurunan dari sejumlah negara utama penyumbang turis.

Menurut Sekretaris Komisi II DPRD Kepri Wahyu Wahyudin, pelemahan kunjungan dari sebagian besar negara penyumbang utama bukan sekadar fluktuasi musiman, tetapi dapat menjadi peringatan awal bagi arah kebijakan promosi pariwisata dan daya saing destinasi di daerah tersebut.

Berdasarkan data BPS, wisatawan asal Singapura masih mendominasi kunjungan dengan jumlah 68.413 wisatawan atau sekitar 43,21 persen dari total kedatangan wisman ke Kepulauan Riau.

Dominasi ini menegaskan posisi strategis Kepri sebagai destinasi wisata lintas batas yang didukung kedekatan geografis, kemudahan akses pelabuhan internasional, serta konektivitas transportasi laut yang relatif stabil.

Di posisi berikutnya, wisatawan dari Malaysia tercatat sebanyak 42.911 kunjungan. Kemudian disusul wisatawan dari Tiongkok sebanyak 7.169 kunjungan, India sebanyak 4.184 kunjungan, serta Korea Selatan sebanyak 2.921 kunjungan.

Sementara itu, wisatawan dari Filipina tercatat sebanyak 1.982 kunjungan, Australia sebanyak 1.894 kunjungan, Myanmar sebanyak 1.505 kunjungan, Jepang sebanyak 1.449 kunjungan, serta Inggris sebanyak 1.440 kunjungan. Negara lainnya secara kumulatif menyumbang sekitar 24.470 kunjungan.

Baca Juga:  Ahmad Muzani Kunjungi Sekolah Rakyat Natuna, Pesan Siswa Rajin Belajar

Sementara itu, Tanjungpinang mencatat 4.030 kunjungan wisman atau sekitar 2,55 persen dari total wisatawan yang masuk ke Kepulauan Riau pada Januari 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ibu kota provinsi masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya tarik wisata dibandingkan pintu masuk utama lainnya di kawasan perbatasan.

Kepala BPS Kepri Haryanto menyebutkan sebagian besar dari sepuluh negara penyumbang wisman terbanyak mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Wahyu Wahyudin menilai kondisi tersebut harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi sektor pariwisata daerah.

Menurutnya, ketergantungan tinggi terhadap pasar Singapura berpotensi menimbulkan risiko struktural apabila terjadi gangguan ekonomi, perubahan kebijakan perjalanan, atau perubahan tren wisata di negara tersebut.

Ia menilai diversifikasi pasar wisata menjadi langkah penting agar fondasi sektor pariwisata Kepri lebih tangguh.

Selain itu, strategi promosi yang lebih tersegmentasi dan berbasis data perilaku wisatawan dinilai perlu diperkuat melalui kampanye digital lintas platform.

Event berskala internasional yang konsisten dan terkurasi juga dinilai dapat menjadi magnet baru untuk menarik wisatawan dari negara dengan potensi pertumbuhan tinggi seperti Tiongkok, India, dan Korea Selatan.

Baca Juga:  Apel Gabungan Pemko-BP Batam, Amsakar Tekankan Percepatan Asta Cita Presiden

Selain promosi, Wahyu juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas layanan destinasi wisata.

Standar kebersihan kawasan wisata, kepastian harga, kemudahan pembayaran digital, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata menjadi faktor penting untuk mempertahankan kunjungan wisatawan.

Sebagai daerah yang bertumpu pada sektor jasa dan pariwisata, Kepulauan Riau dinilai perlu bergerak adaptif menghadapi dinamika global seperti fluktuasi ekonomi, geopolitik, hingga perubahan tren perjalanan wisata.

Sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, asosiasi pariwisata, serta masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing pariwisata daerah.

Penurunan kunjungan wisman pada Januari 2026 mungkin belum menjadi krisis, namun menjadi indikator penting arah kebijakan ke depan agar Kepulauan Riau tetap relevan sebagai gerbang wisata internasional di wilayah barat Indonesia. MK-mun

Redaktur: Munawir Sani