Iran-ONLINE

Ilustrasi: seattletimes.com

Oleh Muhammad Natsir Tahar

Secara psikologis, Trump bukanlah seorang ideolog agama seperti para mullah di Iran, juga bukan seorang pengemban misi teologis-historis seperti zionisme ortodoks di Israel. Trump adalah atavisme transaksional.

Ia adalah sekuler murni dalam arti yang paling mentah: baginya, dunia hanyalah arena perebutan sumber daya. Jika Iran digerakkan oleh delusi surgawi dan Israel oleh trauma teritorial, Trump digerakkan oleh ego-sentrisme teritorial. Ia memandang diplomasi bukan sebagai dialektika kemanusiaan, melainkan sebagai zero-sum game: permainan di mana satu pihak harus menjadi abu agar pihak lain menjadi raja. Inilah yang secara filosofis kita sebut sebagai nihilisme narsistik.

Untuk memahami mengapa Trump dan kebijakan “Polisi Dunia” Amerika tetap eksis, kita harus melihat peta evolusi di dalam tempurung kepala manusia.

Secara neurosains, ada tiga lapisan otak manusia. Pertama, otak reptil (kompleks basal ganglia). Ini adalah warisan purbawi makhluk bumi yang merangkak di rawa-rawa. Fungsinya hanya tiga: bertahan hidup, reproduksi, dan agresi teritorial. Ia tidak mengenal empati, hanya mengenal kawan atau lawan, makan atau dimakan. inilah gen primitif yang mendikte perang.

Kemudian otak mamalia (sistem limbik). Di sinilah letak afeksi, kasih sayang, dan pengasuhan. Ini adalah derajat kemanusiaan awal yang memungkinkan kita membentuk komunitas dan merasakan penderitaan orang lain.

Terakhir adalah neokorteks (otak modern). Yang adalah puncak evolusi yang memungkinkan logika, etika, dan kemampuan untuk membayangkan masa depan tanpa kekerasan.

Baca Juga:  KOLOM | Israel vs. Iran: Ketika Dua Tangan Tuhan Saling Melempar Bintang

Trump telah membuat kekacauan, sebut saja sebagai Tragedi Trumpisme. Ia adalah manusia dengan akses teknologi nuklir abad ke-21, namun dikendalikan oleh kompleks reptil. Kebijakan luar negeri Amerika yang intervensionis di Timur Tengah dan Amerika Latin hanyalah perluasan dari insting menandai wilayah yang dilakukan oleh reptil purba.

Perang adalah pengakuan dosa tertinggi bahwa akal manusia telah bangkrut. Sejarah membuktikan bahwa perang hanyalah “upacara darah” bagi mereka yang gagal berevolusi melampaui insting predatornya.

Fenomena agama pedang sebagai legasi padang pasir ketika fondasi iman yang dibangun dari darah dan ekspansi (Yahudi, Kristen Konstantinian, Islam Khilafah) adalah bentuk patologi evolusi. Mereka menguduskan insting membunuh dengan label perintah Tuhan. Ini adalah upaya otak reptil untuk mencari legitimasi dari otak mamalia.

Dalam logika ultra-modern seharusnya, manusia sudah menyadari bahwa keamanan sejati tidak ditemukan di ujung tombak, melainkan dalam interdependensi ekonomi.

Kita perlu membaca fakta historis tentang ekonomi abu dan produsen senjata. Perang Dunia I dan II bukanlah kejayaan; keduanya adalah kebangkrutan moral dan finansial. Perang Dunia I, menghancurkan empat imperium besar dan meninggalkan Eropa dalam melankolia ekonomi. Sementara Perang Dunia II hanya menyisakan abu dan trauma nuklir, sambil melahirkan monster baru bernama kompleks industri militer (military-industrial complex).

Dalam perspektif ekonomi makro yang dingin, perang adalah sebuah stimulus buatan. Ketika sebuah negara memiliki industri pertahanan yang masif, mereka membutuhkan “permintaan” (konflik) agar “pasokan” (produksi senjata) tetap berjalan. Tanpa musuh, pabrik peluru akan tutup, dan ribuan teknisi akan menganggur.

Baca Juga:  KOLOM | Al Ghazali vs. Ibnu Rusyd: Drama Kosmik Kematian Akal dalam Sejarah Islam

Perang hari ini bukan lagi tentang membela nilai, melainkan tentang efisiensi penjualan senjata. Para pemimpin yang masih berpikir tentang perang sebenarnya hanyalah salesman bagi produsen misil. Mereka menukar nyawa manusia dengan angka-angka di bursa saham pertahanan. Yang menang menjadi abu karena biaya pemulihan yang mustahil, dan yang kalah menjadi melarat selamanya.

Seorang pemimpin yang masih menggetarkan pedang di era digital adalah seorang anakhronisme yang berbahaya. Trump, dengan tabiat agresifnya, adalah pengingat bahwa kita belum sepenuhnya menjadi ‘Manusia.’ Kita masihlah kera-kera bersenjata nuklir yang dikendalikan oleh sisa-sisa otak buaya yang super primitif.

Manusia ultra-modern harus melakukan eksisi intelektual terhadap gen primitif ini. Kita harus menyadari bahwa kemanusiaan sejati baru dimulai ketika kemampuan kita untuk mengasihi (otak mamalia) dan berpikir (neokorteks) mampu merantai nafsu teritorial (otak reptil). Perang bukan lagi tentang siapa yang benar, tapi tentang siapa yang masih tersisa, dan biasanya, yang tersisa hanyalah kehampaan. ~