Al Ghazali vs. Ibnu Rusyd. (F: AI Image created by MNT)
Oleh Muhammad Natsir Tahar
Sejarah sering kali menyajikan plot twist yang lebih ganjil daripada fiksi. Dalam narasi intelektual Islam, kita menyaksikan sebuah anti-klimaks yang ironis: bangsa Persia, yang selama berabad-abad menjadi kunci kewaskitaan dan mesin utama peradaban Arya yang gemilang, justru melahirkan sosok yang mematikan lampu nalar itu sendiri. Sementara itu, seorang pria dari klan Arab: bangsa yang sejarah awalnya lebih akrab dengan debu gurun dan sabetan pedang, justru muncul sebagai pembela terakhir kekuatan akal.
Ini adalah kisah tentang bagaimana cahaya berpindah tangan karena satu pihak memilih untuk tidur, sementara pihak lain memutuskan untuk mencuri api.
Biasanya, kita mengasosiasikan intelektualitas dengan Persia dan penaklukan kasar dengan Arab. Namun, Al-Ghazali memutarbalikkan logika ini. Sebagai seorang jenius Arya-Persia, ia melakukan pengkhianatan terhadap darah nalarnya sendiri. Melalui doktrin Okasionalisme, Al-Ghazali melakukan lobotomi massal terhadap kemampuan berpikir umat.
Ia mengajarkan bahwa alam semesta tidak memiliki hukum tetap. Kapas terbakar bukan karena sifat api, melainkan karena Tuhan bertindak sebagai operator manual yang setiap milidetik memutuskan untuk menciptakan pembakaran. Dalam imajinasi Al-Ghazali, alam semesta kehilangan ritmenya; ia menjadi sirkus acak di mana hukum fisika hanyalah algoritma harian Tuhan yang bisa berubah kapan saja.
Sains pun dipancung di tempat tidurnya. Buat apa meneliti termodinamika atau biologi jika Sang Khalik dianggap sebagai entitas plin-plan yang bisa mengubah algoritma-Nya tanpa peringatan? Al-Ghazali sukses menjual kenyamanan kognitif: mengatakan “semua kehendak Allah” jauh lebih mudah dan hemat kalori otak daripada melakukan riset laboratorium selama puluhan tahun.
Ironis, di ujung belahan dunia lain, muncul Ibnu Rusyd (Averroes). Meskipun ia seorang Arab, ia tidak dibesarkan oleh debu gurun penakluk yang fatalis. Ia adalah produk dari Andalusia, metropolis kosmopolitan yang jauh dari pusat puritanisme Hijaz. Di Andalusia, nalar tidak beradu dengan pedang, melainkan dengan diskursus filsafat Yunani.
Ibnu Rusyd mencoba mengingatkan bahwa Tuhan yang Agung mustahil menciptakan alam yang sungsang. Baginya, memahami Sebab-Akibat adalah bentuk ibadah tertinggi, cara manusia membaca kecerdasan Ilahi dalam hukum alam yang presisi. Namun, bagi massa yang sudah terbius nina bobo mistis Al-Ghazali, Ibnu Rusyd adalah pengganggu yang kurang ajar. Ia membawa kalkulator ke pesta doa. Hasilnya? Kitab-kitabnya dibakar, dan ia diusir sebagai zindik.
Mengapa dunia Islam secara kolektif memilih Al-Ghazali dan membuang Ibnu Rusyd? Karena Al-Ghazali adalah instrumen politik terbaik bagi rezim korup. Dengan dua mata pisau yakni matinya akuntabilitas, jika rakyat miskin karena salah urus negara, rezim cukup menyebutnya ujian kesabaran. Di sisi lain terjadi gejala fatalisme massal, rakyat yang terinfeksi virus Al-Ghazali akan sibuk meratap di atas sajadah alih-alih berdemonstrasi menuntut hak mereka yang dirampas pejabat korup. Rezim memelihara kenyamanan ritual, dari kebisingan toa hingga segala hapalan dan festival hampa, untuk memastikan tidak ada ruang bagi heningnya nalar untuk bekerja.
Ending dari drama ini adalah ironi sejarah yang paling menyayat hati. Dunia Islam memeluk erat Al-Ghazali, mengunci pintu ijtihad, dan membiarkan peradaban membeku dalam musim dingin yang abadi. Sementara itu, Eropa yang saat itu masih tertatih dalam kegelapan justru memungut sisa-sisa pemikiran Ibnu Rusyd yang kita buang ke tempat sampah sejarah.
Pemikiran Ibnu Rusyd (Averroisme Latin) menjadi percikan api yang melecut renaisains, meruntuhkan dominasi gereja yang kaku. Lalu melahirkan Galileo dengan keberanian untuk menantang dogma lewat teleskop. Ini juga yang mendasari Newton, membuka jalan bagi perumusan hukum alam yang presisi: sebuah Sunnatullah yang sebenarnya coba dibela Ibnu Rusyd namun dikubur hidup-hidup oleh Al-Ghazali.
Hari ini, kita hidup dalam puncak disonansi kognitif. Kita memegang smartphone (hasil didikan nalar Ibnu Rusyd yang diolah Barat) di tangan kanan, namun menggunakan alat itu hanya untuk menyimak khotbah yang memuja fatalisme Al-Ghazali di tangan kiri. Kita menikmati produk peradaban modern sebagai konsumen, namun tetap memeluk erat kegelapan abad ketujuh sebagai pemuja.
Selama air doa masih dianggap lebih manjur daripada laboratorium, dan selama identitas kita hanya didasarkan pada silsilah darah gurun alih-alih kedaulatan akal, kita akan tetap menjadi penonton di pinggir sejarah. Warisan nalar kita sendiri kini sedang menerbangkan bangsa lain menuju bintang-bintang, sementara kita masih sibuk berdebat tentang batal tidaknya air wudhu’ saat bersentuhan kulit dengan istri sah. ~
