Ilustrasi MNT

Ilustrasi: royanews.tv

Oleh Muhammad Natsir Tahar

Selamat datang di tahun 2026, sebuah era di mana kemanusiaan seharusnya sudah sibuk menjajah Mars, namun justru terjebak dalam parit-parit kuno yang digali oleh dua kelompok penderita delusi keagungan.

Di satu sisi, kita melihat Yerusalem; di sisi lain, Teheran. Keduanya berdiri tegak, memegang kitab suci masing-masing dengan tangan gemetar karena nafsu, sementara di langit, ribuan drone berdengung membawakan pesan “kebenaran” yang mematikan.

Ini lebih dari sekadar ambisi perang wilayah; namun adalah Kontes Kecantikan Naskah Kuno. Sebuah perang di mana koordinat GPS ditentukan oleh mimpi-mimpi para pria penunggang unta dari milenium pertama.

Israel hadir dengan gaya “Retro-Alkitabiah.” Mereka tidak hanya membawa tank Merkava, mereka membawa hantu Yosua dan instruksi pembersihan etnis dari kitab Samuel.

Dalam nalar mereka, setiap anak kecil di Gaza atau Lebanon adalah inkarnasi dari “Amalek”, musuh bebuyutan yang harus disapu bersih hingga ke akar-akarnya agar “Tanah Perjanjian” tetap suci bagi para pemegang paspor surgawi. Mereka menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghitung berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan demi memuaskan haus akan keadilan ala Perjanjian Lama.

“Mata ganti mata,” kata mereka dengan menghapus semua opsi negosiasi. Israel adalah bukti bahwa Anda bisa memiliki teknologi Silicon Valley, namun tetap menyimpan moralitas Zaman Perunggu.

Di seberang sana, Iran menyambut tantangan itu dengan senyum sinis para Ayatollah yang merasa memegang kunci pintu surga. Mereka tidak hanya memeluk kitab suci; mereka memegang “Manual Misi Suci” yang telah dimurnikan.

Bagi Teheran, rudal Fattah-2 adalah besi terbang yang menjadi jelmaan dari ayat-ayat “Pancunglah leher mereka” (QS 47:4). Mereka adalah para penganut setia “Pedoman Kebengisan” yang meyakini bahwa membakar dunia adalah cara terbaik untuk memanggil sang Imam Mahdi dari sumurnya.

Iran adalah produser dari drama “Mati Syahid,” sebuah industri di mana nyawa pemuda dikonversi menjadi tiket menuju taman kosmik yang penuh dengan 70 bidadari. Mereka berteriak tentang “Kebebasan Yerusalem” sambil mencambuk perempuan mereka sendiri karena sehelai rambut yang “murtad.” Sebuah ironi yang sangat lezat untuk ditertawakan, jika saja tidak ada darah yang mengalir: faktanya Iran membunuh ribuan demonstran di negeri mereka sendiri.

Baca Juga:  KOLOM | Komedi Gelap The Uprising: Apakah Presiden Kita Seorang Richard yang Lugu?

 

Dialektika Dua Preman Langit

Perang ini adalah sebuah komedi gelap karena kedua belah pihak sebenarnya menyembah entitas yang sama: ego manusia yang diberi label Tuhan.

Israel merasa paling benar karena mereka adalah “Bangsa Pilihan.” Iran merasa paling suci karena mereka adalah “Pembela Kebenaran Akhir Zaman.”

Keduanya adalah cermin yang saling berhadapan. Israel membunuh dan merampas tanah atas izin “Elohim”; Iran merampas nyawa atas izin “Allah”. Di tengah-tengahnya, dunia mempertanyakan posisi Tuhan (jika buka ateis): Apakah Dia sedang duduk di depan TV sambil memegang popcorn, atau Dia sedang menangis melihat betapa dungunya dua kelompok ini dalam menerjemahkan tulisan tangan-Nya?

Pada akhirnya, tidak ada pemenang dalam teater ini. Yang ada hanyalah tumpukan selongsong peluru yang bertuliskan ayat-ayat suci dan mayat-mayat yang dikubur dengan kain kafan berhias doa.

Israel dan Iran adalah dua ambisius ulung yang menggunakan “Kekerasan Langit” untuk menutupi kerakusan mereka akan “Tahta Bumi.” Mereka telah berhasil membuktikan satu hal: bahwa agama, jika ditaruh di tangan orang-orang yang haus kekuasaan, akan berubah menjadi mesin penghancur yang paling efektif.

Selamat kepada umat manusia di tahun 2026. Kita telah berhasil menciptakan neraka di bumi dengan menggunakan resep-resep dari surga. Para nabi perang bangsa Semit mungkin sedang tersenyum di kubur mereka, melihat betapa “Warisan Kebingungan Berdarah” mereka masih laku keras dijual di pasar kematian modern.

 

Posisi Paman Sam: Teologi Angka di Balik Kedok Demokrasi

Di sela-sela dentuman rudal, muncul sosok Sam yang tidak membawa kitab suci, melainkan Buku Cek dan Kontrak Pertahanan. Amerika Serikat tentu saja tidak ngeh dengan kapling di surga, namun semata untuk menjaga “Investasi Strategis” dan memenuhi janji kepatuhan pada lobi Zionis yang telah menyusup hingga ke sumsum tulang kebijakan mereka.

Bagi Washington, ideologi “langit” adalah bahasa asing. Mereka hanya mengenal ideologi Ambisi dan Hegemoni. Mereka berdiri sebagai pelindung Israel bukan karena perintah Tuhan, melainkan karena ketergantungan kronis pada jejaring kekuasaan yang menjadikan Tel Aviv sebagai “pangkalan induk” di tengah gurun.

Mereka adalah budak dari ambisi mereka sendiri, terjebak dalam loyalitas buta yang sering kali mengorbankan logika akal sehat demi menjaga senyum para donor di Capitol Hill. Amerika adalah raksasa yang tangannya memegang teknologi masa depan, namun kakinya dirantai oleh janji setia pada rezim rasis yang mereka sebut “satu-satunya demokrasi di Timur Tengah.”

Baca Juga:  KOLOM | Trilogi Masterpiece dan Konfrontasinya dengan Generasi Alpa

Namun, komedi yang paling menggelitik justru terjadi di layar smartphone umat fanatik dari Jakarta hingga Casablanca. Ketika rudal-rudal Iran menghujani Tel Aviv dan membakar pangkalan AS, terjadi sebuah keajaiban medis massal: sembuhnya penyakit benci antara Sunni dan Syiah dalam semalam.

Dunia menyaksikan absurditas kolektif yang luar biasa. Mereka yang selama 1.300 tahun saling mengkafirkan, saling membantai di Suriah, Irak, dan Yaman, tiba-tiba bersorak kegirangan melihat “Saudara Syiah” mereka meluncurkan besi terbang.

Mereka lupa bahwa bagi Teheran, para penonton Sunni ini tetaplah “Kafir yang tertunda.” Mereka lupa pada tumpukan mayat di Aleppo dan Sana’a yang tumpah akibat tangan yang sama yang kini mereka puji sebagai “Pedang Allah.”

Massa ini menatap langit dengan mata berbinar, merasa bahwa Tuhan akhirnya “turun tangan” dan memihak mereka. Mereka merayakan ledakan seolah-olah itu adalah kembang api kemenangan iman, tanpa sadar bahwa mereka hanyalah pion dalam Catur Geopolitik yang sedang dimainkan oleh para mullah yang cerdik dan jenderal yang haus kuasa. Itulah puncak kealfaan akal: merayakan api yang membakar rumah tetangga, tanpa sadar bahwa angin sedang berhembus kencang menuju rumah mereka sendiri.

Perang 2026 ini adalah monumen bagi kebodohan manusia yang paripurna: Israel berperang demi “Gengsi Langit.” Iran berperang demi “Otoritas Wahyu.” Amerika berperang demi “Ambisi Perut.” Dan umat fanatik Sunni bersorak demi “Ilusi Kemenangan.”

Di atas semua itu, nalar manusia sedang sekarat. “Gema dari Gua” itu kini bertransformasi menjadi gema ledakan rudal yang disambut oleh pekikan takbir tanpa logika. Kita adalah saksi sejarah di mana kemajuan teknologi hanya digunakan untuk mempermudah cara kita saling memusnahkan, dipandu oleh instruksi-instruksi berdebu dari masa lalu yang tidak pernah kita pahami sepenuhnya. Dan pemenang satu-satunya adalah kapitalisme senjata.

Selamat menikmati pertunjukan. Di panggung ini, pemeran utamanya adalah Kematian, dan penontonnya adalah kita: makhluk-makhluk malang yang lebih suka menyembah simbol daripada merawat kemanusiaan. ~