Kapolres Natuna Novyan Aries Effendie bahas kesiapsiagaan karhutla

Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Effendie mengikuti rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan karhutla di Kabupaten Natuna, Senin (24/8/2026). (Foto: nang)

‎NATUNA (marwahkepri.com) – Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Effendie menyoroti sejumlah kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Natuna, mulai dari keterbatasan peralatan, sulitnya akses menuju titik api hingga minimnya sumber air.

Hal itu disampaikan Novyan saat mengikuti Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan di ruang rapat lantai II Kantor Bupati Natuna, Bukit Arai, Senin (24/8/2026).

Novyan mengatakan, sehari sebelumnya terjadi kebakaran lahan yang langsung ditangani personel kepolisian bersama Satgas, pemadam kebakaran (Damkar), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala.

“Kemarin ada lokasi terjadi kebakaran lahan. Kami bersama Satgas, Damkar dan BPBD melakukan pemadaman. Memang ada keterlambatan karena keterbatasan alat,” ujar Novyan.

Menurutnya, kondisi di lapangan tidak mudah. Sejumlah titik api berada jauh di dalam kawasan lahan sehingga kendaraan pemadam kesulitan menjangkau lokasi.

Bahkan, dalam penanganan kebakaran sebelumnya, tiga kendaraan sempat terperosok akibat medan yang sulit.

“Makanya kami minta bantuan selang karena titik api masuk ke dalam. Kemarin tiga mobil terperosok karena lokasi kebakaran jauh ke dalam,” katanya.

Untuk memperkuat penanganan, kepolisian akan mengeluarkan sejumlah peralatan yang dapat digunakan dalam penanggulangan karhutla.

Baca Juga:  Polisi Tangkap Dua Pelaku Pencurian di Toko Kawasan PT Logam Mulia, Satu DPO Diburu

Data Polres Natuna menunjukkan kebakaran lahan telah terjadi sebanyak 95 kali sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Rinciannya, Januari sebanyak 14 kejadian, Februari 12 kejadian, Maret 30 kejadian, April 13 kejadian, Mei 17 kejadian, Juni satu kejadian, Juli tiga kejadian dan Agustus lima kejadian.

Sebagian kejadian tersebut terjadi di sejumlah kecamatan di wilayah Bunguran Besar.

Menurut Novyan, tingginya jumlah kejadian menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar. Upaya pencegahan dan deteksi dini harus diperkuat hingga tingkat bawah.

Karena itu, ia meminta Bupati Natuna membentuk satuan tugas di setiap zona untuk mempercepat respons ketika terjadi kebakaran.

“Satgas perlu dibentuk di setiap zona,” tegasnya.

Selain akses dan peralatan, ketersediaan sumber air juga menjadi persoalan serius dalam penanganan karhutla.

Novyan meminta pemerintah daerah menyiapkan titik-titik sumur yang dapat digunakan sebagai sumber air bagi petugas ketika melakukan pemadaman.

Ia menyebut Cemaga dan Padang Hangus sebagai contoh wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber air.

“Cemaga dan Padang Hangus sumber airnya tidak ada. Kalau menggunakan air laut, akan merusak kendaraan kita,” jelasnya.

Baca Juga:  Tekan Angka Pengangguran di Tanjungpinang, Lis Cari Akses Kerja hingga ke Batam-Bintan

Kondisi serupa juga dirasakan di Batubi. Wilayah tersebut relatif jauh dengan infrastruktur yang masih terbatas. Kapasitas tangki air yang tersedia hanya sekitar tiga ton.

Padahal, kebakaran lahan dengan luas hingga 15 hektare membutuhkan dukungan personel, kendaraan, air dan peralatan dalam jumlah besar.

Dengan kondisi tersebut, proses pemadaman tidak hanya berpacu dengan api, tetapi juga dengan jarak, waktu dan kemampuan logistik petugas.

Ancaman kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat Natuna. Salah satu sumber air, Embung Sebayar, disebut mulai mengalami penyusutan debit.

Sejumlah desa bahkan telah menghubungi pihak kepolisian untuk meminta bantuan penyaluran air bersih secara gratis.

“Embung Sebayar airnya sudah mulai surut. Sebagian desa menelepon kami untuk menyalurkan air bersih secara gratis,” ungkap Novyan.

Menghadapi kondisi tersebut, Novyan menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan sejak tahap pencegahan.

Patroli gabungan akan ditingkatkan hingga tingkat desa. Selain melakukan pemantauan wilayah rawan, personel juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla dan mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Langkah tersebut diharapkan dapat menekan potensi kebakaran sekaligus mempercepat penanganan apabila ditemukan titik api. (nang)

Redaktur: Munawir Sani