Ilustrasi cuaca ekstrem saat masa pancaroba di Indonesia. (Foto: BPBD Jawa TImur)
JAKARTA (marwahkepri.com) – BMKG menyebut kondisi cuaca di Indonesia saat ini memasuki masa peralihan atau pancaroba dari musim hujan ke kemarau.
BMKG menjelaskan, pola cuaca pada masa pancaroba umumnya ditandai perubahan signifikan. Pada pagi hingga menjelang siang, kondisi cenderung cerah dan panas. Sementara hujan berpotensi turun pada siang, sore hingga malam hari.
Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya labilitas atmosfer yang memicu pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 92S turut memberikan dampak tidak langsung terhadap dinamika cuaca di sejumlah wilayah.
“Keberadaan Bibit Siklon Tropis 92S turut berkontribusi secara tidak langsung melalui pembentukan daerah konvergensi dan perlambatan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” jelas Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani dikutip dari Kompas.com, Kamis (16/4/2026).
“Dampak secara tidak langsung terhadap pola angin melalui pembentukan daerah konvergensi dan perlambatan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa Tengah. Juga kombinasi adanya faktor dinamika cuaca lokal yang jturut berkontribusi terhadap potensi cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah tersebut,” tambahnya.
Andri menyebut Bibit Siklon Tropis 92S berasal dari sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat daya Banten yang telah terpantau sejak 6 April 2026. Sistem tersebut memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Bengkulu, Lampung, Banten, dan Jawa Barat sebelum berkembang menjadi bibit siklon pada 14 April 2026 pukul 07.00 WIB di wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.
Analisis terbaru pada Kamis (16/4/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan pusat sistem berada di sekitar 11,0 derajat lintang selatan dan 93,0 derajat bujur timur di Samudra Hindia barat daya Lampung.
Kecepatan angin maksimum tercatat 15 knot atau sekitar 28 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum 1005 hPa. Aktivitas konvektif sistem masih berfluktuasi, namun struktur sirkulasinya dinilai semakin terorganisir dibandingkan hari sebelumnya.
“Namun, dalam 24–48 jam ke depan peluang berkembang menjadi siklon tropis masih tergolong rendah, dengan arah gerak ke barat menjauhi wilayah Indonesia,” jelasnya.
BMKG menyebut dampak yang ditimbulkan bersifat tidak langsung, terutama pada kondisi perairan. Hingga 17 April 2026 pukul 07.00 WIB, BMKG memperkirakan potensi gelombang laut kategori sedang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter di Samudra Hindia barat Kepulauan Nias hingga Lampung serta selatan Banten sampai Nusa Tenggara Barat.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama pancaroba, seperti hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang yang terjadi secara tiba-tiba dengan durasi singkat.
Masyarakat juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon atau baliho saat hujan disertai angin kencang serta mewaspadai potensi genangan, banjir lokal, dan pohon tumbang.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi saat beraktivitas. MK-mun/kom
Redaktur: Munawir Sani
