Petani sawit sedang beristirahat. (f: mun)
JAKARTA (marwahkepri.com) – Aktivitas panen kelapa sawit di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra mengalami gangguan akibat kenaikan harga bahan bakar serta kelangkaan pasokan solar. Kondisi tersebut membuat petani swadaya mengurangi frekuensi pemanenan dan berpotensi menekan produksi crude palm oil (CPO).
Gangguan panen yang berlangsung berkepanjangan dikhawatirkan berdampak terhadap produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, dua negara yang menjadi produsen utama CPO dunia. Ancaman tersebut semakin besar dengan adanya potensi fenomena El Nino pada semester II 2026 yang diperkirakan dapat mengurangi curah hujan dan hasil panen.
Kondisi ini terjadi ketika harga kontrak berjangka minyak sawit acuan Malaysia telah meningkat lebih dari 15 persen sepanjang tahun ini.
Dampak paling terasa terjadi di Sabah dan Sarawak, Malaysia, yang berada di Pulau Kalimantan. Harga solar nonsubsidi di kedua wilayah tersebut melonjak hampir 120 persen. Sementara di Sumatra, Indonesia, petani menghadapi keterbatasan pasokan bahan bakar.
“Kendala keuangan akan membuat kegiatan panen menjadi tidak layak secara ekonomi bagi petani swadaya, yang berujung pada penelantaran lahan dan penurunan langsung produktivitas minyak sawit wilayah tersebut,” ujar Napolean R Ningkos dari Asosiasi Pekebun Kelapa Sawit Dayak Sarawak, dikutip Minggu (9/8/2026).
Sabah dan Sarawak secara gabungan menyumbang 43,9 persen dari total produksi CPO Malaysia yang mencapai 20,28 juta metrik ton. Sementara Sumatra menyumbang sekitar 55 persen dari produksi minyak sawit Indonesia berdasarkan data Kementerian Pertanian.
Besarnya wilayah perkebunan dan lokasi lahan yang berada di daerah terpencil turut menjadi persoalan. Kondisi geografis tersebut membuat petani membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar untuk mengangkut tandan buah segar menuju titik pengumpulan maupun pabrik pengolahan.
Napolean mengatakan Malaysia memang menyediakan solar bersubsidi dengan harga 2,10 ringgit atau sekitar US$0,66 per liter. Namun, petani dibatasi kuota maksimal 200 liter per bulan.
Menurutnya, jumlah tersebut jauh di bawah kebutuhan operasional rata-rata petani yang dapat mencapai sedikitnya 500 liter per bulan.
“Petani kini telah mengurangi frekuensi panen mereka, dari sekitar 2,5 putaran menjadi dua putaran, bahkan hingga hanya 1,5 putaran atau satu kali panen setiap bulannya,” ungkapnya.
Kondisi geografis Sabah dan Sarawak membuat kebutuhan bahan bakar semakin besar. Kuota subsidi yang diterapkan dinilai lebih sesuai dengan kondisi lahan dan infrastruktur di Malaysia Barat, bukan wilayah pedalaman dengan medan yang lebih berat.
“Perjalanan mereka membutuhkan konsumsi bahan bakar yang besar. Kuota subsidi solar saat ini, yang dirancang untuk kondisi lahan yang relatif datar dan infrastruktur di Malaysia Barat, tidak memadai untuk wilayah pedalaman Sabah dan Sarawak yang memiliki medan berat,” lanjut Napolean.
Gangguan panen tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya harga bahan bakar global dan menipisnya pasokan sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari.
Selain persoalan bahan bakar, industri sawit juga menghadapi ancaman El Nino pada semester II 2026. Fenomena tersebut berpotensi menurunkan curah hujan dan mengganggu produktivitas perkebunan.
Pengalaman El Nino parah pada 2015 dan 2016 menunjukkan dampaknya terhadap industri sawit. Saat itu, produksi minyak kelapa sawit Malaysia disebut turun hingga 18 persen, sedangkan produksi Indonesia mengalami penurunan sekitar 3 persen.
Presiden United Sabah Smallholders Association, Raphael Golout, mengatakan kenaikan biaya operasional tidak hanya berasal dari transportasi. Petani juga harus menanggung biaya lebih besar untuk generator listrik dan mesin-mesin yang membutuhkan bahan bakar.
Napolean dan Raphael kemudian mendesak pemerintah Malaysia menyesuaikan kebijakan subsidi solar agar lebih mempertimbangkan kondisi geografis dan ekonomi petani di Sabah dan Sarawak.
Menurut Napolean, keterlambatan panen dapat memberikan dampak signifikan terhadap produksi. Ia memperkirakan penundaan masa panen berpotensi menurunkan hasil panen di Sarawak sebesar 15 hingga 20 persen.
Di Indonesia, persoalan serupa dirasakan petani sawit di Sumatra. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, mengatakan aktivitas petani terganggu akibat terbatasnya pasokan solar sejak pertengahan Juli.
“Pengangkutan tandan buah petani terdampak karena semua kendaraan dan peralatan menggunakan mesin diesel,” kata Gulat.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, petani terpaksa memperpanjang interval panen. Jika sebelumnya panen dilakukan dalam rentang delapan hingga 10 hari, kini intervalnya menjadi sekitar delapan hingga 12 hari.
Gangguan aktivitas panen di Sumatra dan Kalimantan menjadi perhatian karena kedua kawasan tersebut merupakan bagian penting dari rantai pasok minyak sawit dunia. Jika kondisi berlangsung lama, penurunan frekuensi panen dapat berdampak terhadap volume produksi CPO dan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit global. MK-cnbc
Redaktur : Munawir Sani
