menteri-perindustrian-muhammad-sarmuji

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji/Foto: Dok. Kemenperin

JAKARTA (marwahkepri.com) – Ekspor tenun ikat Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan pada semester I-2026. Nilainya mencapai US$34.000 atau naik 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$13.600.

Sepanjang 2025, nilai ekspor tenun ikat Indonesia mencapai US$88.000. Peningkatan tersebut menjadi salah satu peluang bagi industri kain tradisional untuk memperluas pasar, termasuk produk tenun ulos khas masyarakat Batak.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, pelestarian ulos tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga keberadaan kain tradisional tersebut. Ulos harus terus digunakan, dikembangkan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama para perajin perempuan.

“Kita tidak cukup hanya menjaga agar ulos tetap ada, tetapi juga harus memastikan agar ulos tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya,” ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2026).

Ulos Punya Potensi Ekonomi Besar

Potensi pengembangan industri tenun ulos didukung keberadaan sentra produksi di sejumlah wilayah Sumatera Utara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 mencatat terdapat 43 sentra tenun ulos di Sumatera Utara. Sentra tersebut tersebar antara lain di Kabupaten Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun.

Menurut Sarmuji, keberadaan sentra produksi tersebut menunjukkan industri kecil dan menengah (IKM) tenun ulos memiliki peluang untuk terus berkembang. Selain memenuhi kebutuhan pasar nasional, produk tenun tradisional juga berpotensi menjangkau konsumen di luar negeri.

Baca Juga:  Kemenperin Gelar Bazar Produk Dalam Negeri Dongkrak Industri Nasional

Ulos sendiri tidak lagi terbatas digunakan sebagai kain tradisional dalam berbagai kegiatan adat masyarakat Batak. Kini, kain tersebut telah dikembangkan menjadi produk busana siap pakai (ready-to-wear), aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata.

“Ulos bukan sekadar kain atau produk budaya, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas, tradisi, dan penghidupan masyarakat Batak, karena di setiap lembar ulos tersimpan ketekunan, keterampilan, serta nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Sarmuji.

Pameran Libatkan 50 IKM dan UMKM

Upaya memperluas pasar produk tradisional tersebut turut dilakukan melalui Pameran Tenun Ulos yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian bersama Forum Konferensi Perempuan Huria Kristen Batak Protestan (FKP-HKBP).

Pameran berlangsung pada 13-15 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian”.

Kegiatan ini menghadirkan produk dari 50 IKM dan UMKM unggulan binaan FKP-HKBP. Produk yang dipamerkan meliputi kain ulos, busana, tas kulit, aksesori, hingga berbagai kuliner khas Batak.

Sarmuji menilai perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi menenun. Selain mempertahankan warisan budaya, kegiatan tersebut juga menjadi sumber penghasilan yang ikut menggerakkan perekonomian keluarga dan daerah.

Kemenperin Dorong Regenerasi Perajin

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengatakan, industri tenun tradisional masih menghadapi sejumlah tantangan.

Baca Juga:  Pemerintah Salurkan Rp369,5 Miliar Stimulan Rumah Rusak di Aceh, Sumut dan Sumbar

Beberapa di antaranya adalah keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, pengembangan desain, serta peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Kementerian Perindustrian berkomitmen penuh untuk terus memperkuat ekosistem industri ulos melalui sejumlah program pengembangan dan pembinaan, seperti penguatan SDM dan kewirausahaan melalui pelatihan, webinar, talkshow, serta penumbuhan wirausaha baru IKM,” kata Reni.

Pemerintah juga berupaya melindungi kekhasan produk daerah melalui sertifikasi Indikasi Geografis. Salah satu produk yang telah memperoleh sertifikat tersebut adalah Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara.

Menurut Reni, sertifikasi itu menjadi aset penting bagi masyarakat setempat, khususnya para perajin ulos, dalam menjaga identitas dan keaslian produk.

Melalui pameran tersebut, Kemenperin berharap minat generasi muda terhadap kain tradisional semakin meningkat. Kegiatan ini juga diharapkan membuka akses pasar lebih luas bagi pelaku IKM serta memperkuat daya saing ulos sebagai produk budaya Indonesia.

Pembukaan pameran turut dihadiri Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, Ketua Umum FKP-HKBP Dra. Sandra Sidabutar, jajaran pejabat Kemenperin, pelaku IKM tenun, dan tamu undangan. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani