Kepala BP Batam, Amsakar Achmad meninjau pekerjaan pemasangan penguatan jaringan pipa distribusi air minum masyarakat Batam, Selasa (19/5/2026). (Foto: BP Batam)
BATAM (marwahkepri.com) – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus memperkuat langkah strategis untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat di tengah minimnya curah hujan dan potensi dampak musim kemarau 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi pengelolaan air baku, penguatan interkoneksi jaringan, perlindungan daerah tangkapan air, serta pengembangan sumber air alternatif.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen BP Batam dalam menjaga kontinuitas pelayanan air minum bagi masyarakat dan sektor industri, sekaligus mengantisipasi peningkatan kebutuhan air seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi Batam.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip dalam bahan sumber, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026, dengan puncak tertinggi diperkirakan berlangsung pada Agustus. Analisis musim kemarau Dasarian II Juli 2026 juga mencatat 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut mendorong BP Batam melalui Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) bersama PT Air Batam Hilir (ABH) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ketersediaan air baku, mengingat waduk masih menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan air di Batam.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan pemantauan dan pengelolaan sumber air perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga.
“Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi. Untuk itu, BP Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air bersih dan mengoptimalkan pengelolaan yang ada agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, terutama ketika kita menghadapi periode kemarau,” ujar Denny, Selasa (11/8/2026).
Empat Langkah Antisipasi Jaga Ketahanan Air
Dalam menghadapi potensi penurunan ketersediaan air baku, BP Batam menyiapkan empat langkah antisipatif. Pertama, melakukan pemantauan kondisi air baku secara real-time bersama PT ABH. Informasi mengenai level dan kondisi air menjadi dasar dalam menentukan langkah operasional, termasuk menyeimbangkan ketersediaan air baku, kapasitas produksi, dan kebutuhan pelanggan.
Kedua, mengoptimalkan sistem interkoneksi jaringan antarwaduk agar distribusi air dapat disesuaikan dengan kondisi sumber air dan kebutuhan masing-masing wilayah. Sistem ini diharapkan mendukung fleksibilitas penyaluran air ketika suatu sumber mengalami penurunan debit.
Ketiga, memperkuat upaya reboisasi serta perlindungan dan pelestarian daerah tangkapan air (DTA). Langkah ini mencakup penghijauan, peningkatan kepedulian terhadap kawasan resapan, dan pencegahan aktivitas yang berpotensi mengurangi fungsi lingkungan sebagai daerah tangkapan air.
Keempat, mengembangkan infrastruktur dan sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Selain mengoptimalkan fasilitas yang sudah tersedia, BP Batam turut menyiapkan pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yaitu teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar, sebagai salah satu opsi untuk memperkuat ketahanan air Batam.
“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur. Kita juga harus menjaga lingkungan di sekitar sumber air. Ini merupakan tanggung jawab bersama karena keberlanjutan air Batam sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga alam hari ini,” pesannya.
Waduk Nongsa Jadi Perhatian, Interkoneksi Dioptimalkan
Di tengah langkah antisipasi tersebut, kondisi Waduk Nongsa menjadi salah satu perhatian BP Batam. Rendahnya curah hujan di daerah tangkapan air menyebabkan volume waduk menurun dan berdampak pada kapasitas produksi Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Nongsa.
Meski demikian, instalasi pengolahan air tetap dioperasikan secara optimal. Proses pengolahan dan distribusi air tetap mengacu pada standar baku mutu yang berlaku.
Denny menjelaskan, BP Batam bersama PT ABH mengoptimalkan pasokan dari instalasi pengolahan air lainnya melalui interkoneksi jaringan untuk membantu menjaga kontinuitas distribusi kepada pelanggan, termasuk di wilayah ujung jaringan. Dalam kondisi tertentu, penyesuaian distribusi dapat memengaruhi perubahan jam layanan.
“BU SPAM BP Batam dan PT Air Batam Hilir terus mengoptimalkan sistem pelayanan agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap menjadi prioritas,” ujar Denny di Batam Centre, Sabtu (8/8/2026).
Denny juga menjelaskan bahwa kawasan Nongsa Digital Park (NDP) tidak bergantung pada Waduk Nongsa. Pasokan utama kawasan tersebut berasal dari jaringan Waduk Duriangkang, sedangkan Waduk Nongsa berfungsi sebagai sumber penunjang.
“Kami terus mengoptimalkan seluruh sumber dan jaringan yang tersedia untuk menjaga pelayanan air bersih, khususnya bagi kebutuhan rumah tangga maupun industri,” tegasnya.
Perkuat Infrastruktur dan Kembangkan Sumber Air Alternatif
Selain mengoptimalkan pengelolaan sumber air yang tersedia, BP Batam terus memperkuat infrastruktur penyediaan air bersih. Upaya tersebut dilakukan melalui perluasan jaringan pipa distribusi, peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air, dan pengembangan sumber air baru.
Pada 2026, BP Batam membangun instalasi pengolahan air (IPA) baru berkapasitas 50 liter per detik di Sei Ladi. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pelayanan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
BP Batam juga terus mengkaji potensi sumber air di luar waduk yang telah ada, termasuk melalui teknologi SWRO. Pengembangan alternatif tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional serta mendukung kebutuhan air dalam jangka panjang.
Penguatan interkoneksi antarwaduk juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi, distribusi air diharapkan dapat lebih fleksibel dan stabil, terutama ketika kondisi cuaca memengaruhi ketersediaan air baku di wilayah tertentu.
Masyarakat Diajak Hemat Air dan Jaga Lingkungan
BP Batam menegaskan bahwa upaya menjaga ketahanan air tidak hanya bergantung pada infrastruktur dan pengelolaan teknis. Partisipasi masyarakat juga diperlukan untuk memastikan ketersediaan air dapat dimanfaatkan secara bijak.
Denny mengajak masyarakat menggunakan air sesuai kebutuhan, memeriksa instalasi rumah secara berkala untuk mencegah kebocoran, serta menghindari pemborosan selama periode cuaca kering.
Masyarakat juga diimbau menjaga lingkungan di sekitar daerah tangkapan air dan menghindari tindakan yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan vegetasi yang mengalami kondisi kering.
“Kami mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air Batam. Tidak harus dengan langkah yang besar. Menggunakan air seperlunya, memastikan tidak ada kebocoran di rumah, dan mematikan keran ketika tidak digunakan merupakan langkah sederhana yang dampaknya sangat berarti apabila dilakukan bersama-sama,” pungkasnya.
Melalui optimalisasi sumber air, penguatan jaringan distribusi, pengembangan infrastruktur, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan, BP Batam terus berupaya memastikan pelayanan air bersih tetap terjaga di tengah tantangan musim kemarau 2026. Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan air Batam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendukung pertumbuhan kawasan pada masa mendatang. (mun)
Redaktur: Munawir Sani
