Screenshot_20260924_183628

LINGGA – Harga Bright Gas naik. Kabar ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi konsumen yang setiap bulan harus membeli gas untuk kebutuhan rumah tangga, selisihnya mulai terasa.

Mulai 16 September 2026, harga isi ulang Bright Gas mengalami penyesuaian. Untuk kemasan 12 kilogram, kenaikannya mencapai Rp11.000. Jika sebelumnya harga berada di kisaran Rp295.000, kini menjadi sekitar Rp306.000.

Sementara untuk kemasan 5,5 kilogram, harga isi ulang mengalami kenaikan sebesar Rp5.000.

Kenaikan tersebut tercantum dalam surat S.045/GD-CPM.23/09.2026 dan berlaku efektif sejak 16 September 2026 sampai dengan terdapat informasi selanjutnya.

Bagi sebagian warga Kabupaten Lingga, angka Rp11.000 mungkin terlihat kecil jika hanya dilihat dalam satu kali pembelian. Tetapi ketika gas sudah menjadi kebutuhan rutin, selisih itu tentu ikut masuk dalam hitungan belanja rumah tangga.

“Kaget juga, sebelumnya sekitar Rp295 ribu, sekarang naik Rp11 ribu. Kalau dihitung-hitung, lumayan juga kenaikannya,” ujar warga saat membeli gas, Kamis (24/09/2026).

Menurutnya, kenaikan harga gas akan terasa karena Bright Gas bukan barang yang dibeli sekali lalu selesai. Ketika tabung kosong, mau tidak mau harus kembali mengeluarkan uang untuk mengisinya.

Baca Juga:  Melihat, Mendengar, Lalu Bertindak: Maya Sari Penuhi Kebutuhan Rumah Singgah Warga Lingga di Batam

“Gas ini kebutuhan sehari-hari. Jadi kalau harganya naik, otomatis pengeluaran juga ikut bertambah,” katanya.

Kenaikan Rp11.000 memang bukan angka yang membuat orang langsung jatuh dari kursi. Namun, bagi konsumen yang membeli secara rutin, angka tersebut perlahan menjadi tambahan pengeluaran.

Apalagi bagi masyarakat yang menggunakan layanan antar, masih terdapat ongkos kirim sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000, tergantung layanan dan jarak. Dengan begitu, harga yang dirasakan konsumen ketika Bright Gas 12 kilogram sampai di rumah bisa lebih tinggi dari harga isi ulangnya.

Namun, sorotan utamanya tetap pada penyesuaian harga gas itu sendiri.

Dari sebelumnya sekitar Rp295.000 menjadi sekitar Rp306.000, konsumen kini harus menyediakan uang lebih banyak untuk mendapatkan isi ulang dengan ukuran yang sama.

Kalau dihitung setahun dan pembelian dilakukan berulang, selisih Rp11.000 tersebut tentu bukan lagi sekadar angka di atas kertas.

Bagi warga, yang diharapkan bukanlah gas kembali murah secara tiba-tiba, melainkan informasi harga yang jelas dan terbuka, sehingga masyarakat dapat menyesuaikan pengeluaran rumah tangga dengan harga terbaru.

Baca Juga:  Batam Raih Penghargaan Pembangunan Ekonomi Daerah di Pemimpin Daerah Awards 2026

Sebab, kompor tetap harus menyala, dapur tetap harus mengepul, dan ketika harga gas ikut naik, dompet pun mau tak mau harus ikut beradaptasi. (Mk/willy)