Presiden Amerika Serikat Donald Trump memarahi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (f: ai)
BATAM (marwahkepri.com) – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target militer Iran setelah Teheran memutuskan menarik diri dari memorandum kesepahaman (MoU) damai yang sebelumnya disepakati di Islamabad.
Laporan CNBC International, Minggu (19/7/2026), menyebutkan operasi militer tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan tempur Iran sekaligus menghantam kekuatan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Trump mengaku tidak mempermasalahkan keputusan Iran yang membatalkan komitmen dalam perjanjian damai tersebut.
“Saya sama sekali tidak peduli,” kata Trump saat ditanya wartawan mengenai langkah Iran.
Keputusan Washington melancarkan serangan terjadi di tengah memanasnya konflik yang telah berlangsung sejak Februari lalu. Situasi semakin memburuk setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi seorang personel militernya kembali tewas akibat serangan drone Iran di Irak.
Dengan tambahan korban tersebut, jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik dimulai kini mencapai 17 orang.
Trump menyebut insiden tersebut menjadi salah satu alasan kuat bagi Amerika Serikat untuk meningkatkan operasi militernya terhadap Iran.
“Sangat menyedihkan. Kita benci melihat hal itu terjadi. Mereka gugur demi negara,” ujar Trump.
Meski korban terus bertambah, Trump tetap menilai operasi militer Amerika Serikat berjalan sesuai rencana dan berhasil mencapai sasaran strategis.
Sementara itu, eskalasi konflik di Timur Tengah turut mengguncang pasar energi global. Kekhawatiran terhadap potensi terganggunya jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melonjak tajam.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak mentah dunia naik sekitar 16 persen. Minyak Brent kontrak September tercatat berada di level US$88,10 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik menjadi US$82,49 per barel.
Analis menilai pasar masih akan bergerak fluktuatif selama ketegangan antara Washington dan Teheran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. MK-cnbc