siswa-sd-diserang-monyet

Foto: Monyet-monyet di lingkungan SD Negeri 2 Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng. (Tangkapan layar Facebook I Wayan Sumerta Yasa)

BULELENG (marwahkepri.com) – Seorang siswa SD Negeri 2 Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, mengalami luka setelah diserang seekor monyet di lingkungan sekolah.

Siswa kelas III bernama Gusti Kopang Merta Wijaya (9) itu diserang ketika hendak menuju toilet pada Rabu (7/10/2026) sekitar pukul 13.00 Wita. Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka pada bagian tangan dan pinggang.

Saat itu, korban sedang berjalan menuju toilet. Namun, tiba-tiba seekor monyet datang dan menyerangnya.

Perbekel Wanagiri Made Suparanton membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, keberadaan monyet di wilayah Wanagiri sebenarnya sudah lama menjadi persoalan bagi masyarakat.

“Dari dulu sudah rusuh ngerusak-ngerusak. Tapi nggak pernah gigit, baru-baru ini digigit,” kata Suparanton saat dikonfirmasi, Rabu.

Korban Dapat Vaksin Anti Rabies

Setelah diserang, korban langsung dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Korban telah menerima vaksin anti rabies (VAR).

Selain vaksinasi, luka korban juga mendapat penanganan medis berupa dua jahitan dan pemasangan tampon.

Kasus tersebut sebelumnya ramai setelah diunggah oleh akun Facebook Wayan Sumerta Yasa. Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 56 detik, terlihat kondisi setelah kejadian. Unggahan itu juga menyebut keberadaan monyet di sekitar sekolah telah meresahkan dan berpotensi membahayakan siswa.

Baca Juga:  Tercium Bau Busuk dari Rumah di Canggu, Warga Temukan Jasad Bule Ukraina

Monyet Rusak Atap Sekolah hingga Ganggu Warga

Suparanton mengatakan persoalan monyet di Wanagiri bukan hanya berkaitan dengan serangan terhadap warga. Satwa tersebut juga kerap merusak bangunan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Bahkan, Kantor Desa Wanagiri pernah mengalami kerusakan pada bagian plafon akibat aktivitas monyet.

Kondisi serupa terjadi di SDN 2 Wanagiri. Monyet disebut pernah merusak bagian atap sekolah hingga aktivitas belajar mengajar sempat terganggu.

“Di sekolah juga seperti itu. Atapnya dirusak, sehingga siswa tidak bisa belajar dan akhirnya mendapat bantuan rehabilitasi atap,” ujarnya.

Menurut Suparanton, populasi monyet di wilayah tersebut kini semakin meningkat. Sebelum ada kasus siswa digigit, monyet lebih sering dilaporkan merusak fasilitas dan mengganggu kegiatan warga, termasuk ketika masyarakat sedang bersembahyang.

Pemdes Koordinasi dengan BKSDA

Pemerintah Desa Wanagiri sebelumnya telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan yayasan terkait untuk mencari langkah penanganan populasi monyet.

“Kami dulu pernah koordinasi dengan BKSDA dan yayasan, apakah bisa dikendalikan supaya populasinya tidak pesat,” kata Suparanton.

Baca Juga:  Polisi Ungkap Riwayat Gangguan Kecemasan Pria Australia yang Diduga Bunuh Dua Anak di Bali

Pasca kejadian, Pemdes Wanagiri bersama relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), komite sekolah, serta wali murid melakukan gotong royong membersihkan semak-semak di sekitar SDN 2 Wanagiri.

Pembersihan tersebut dilakukan untuk mengurangi area yang berpotensi menjadi tempat persembunyian monyet di sekitar sekolah.

“Kami dari pemdes dan relawan sudah bertindak, membersihkan bagian depan kantor untuk menghilangkan sarang monyet. Namun, karena populasinya meningkat drastis, kami berharap ada solusi dari pihak terkait,” ujarnya.

Pemdes Wanagiri berharap BKSDA maupun pihak yang memiliki perhatian terhadap satwa dapat membantu mencari solusi jangka panjang. Menurut pemerintah desa, penanganan persoalan tersebut perlu dilakukan untuk mengurangi risiko konflik antara monyet dan masyarakat.

“Harapan kami kepada pihak terkait, BKSDA maupun pecinta binatang, agar bisa memberikan solusi,” pungkasnya. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani