Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf u

Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf. (f: youtube)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam tidak lagi mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf untuk mengisi ceramah keagamaan. Seruan tersebut muncul setelah potongan video ceramah pendakwah itu viral di media sosial dan menuai kritik karena pernyataannya dinilai merendahkan perempuan.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menilai materi ceramah yang disampaikan Habib Alwi tidak mencerminkan etika seorang pendakwah. Ia bahkan mengingatkan masyarakat agar tidak mengikuti majelis yang menghadirkan penceramah dengan gaya penyampaian seperti dalam rekaman tersebut.

“Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya,” tulis Cholil Nafis melalui akun X pribadinya @cholilnafis, sebagaimana dikutip dari laman MUI, Selasa (20/10/2026).

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menegaskan, latar belakang maupun status sosial seseorang tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan ceramah yang dinilai bertentangan dengan kesantunan.

Menurutnya, penyampaian dakwah semestinya menjaga kehormatan agama dan memberikan teladan yang baik kepada masyarakat.

“Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam,” ujar Cholil.

Baca Juga:  Mengapa Banyak Netizen Kini Membenci Messi?

Video Viral Singgung Tarif Ceramah hingga Istri Keempat

Polemik bermula dari beredarnya rekaman video ceramah yang memicu reaksi warganet. Dalam video tersebut, penceramah yang diidentifikasi sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf awalnya membicarakan tarif untuk mengisi ceramah. Ia menyebut tarif terendahnya mencapai Rp75 juta.

Namun, perhatian publik kemudian tertuju pada sejumlah candaan yang disampaikan di hadapan jemaah. Salah satunya ketika ia meminta agar santriwati dihadirkan karena mengaku ingin mencari calon istri keempat.

“Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat,” ucapnya dalam rekaman tersebut.

Pernyataan lain juga menjadi sorotan karena dinilai merendahkan perempuan, khususnya jemaah lanjut usia yang hadir dalam majelis.

“Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda,” katanya.

Potongan video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu kecaman dari sejumlah pengguna internet.

Baca Juga:  Sering "Scroll" Medsos Bisa Tingkat Risiko Penyakit Jantung, Ahli Ingatkan

MUI melalui Cholil Nafis menilai cara penyampaian ceramah seperti itu tidak pantas dijadikan contoh dalam kegiatan dakwah. Ia pun mengimbau masyarakat lebih selektif dalam memilih penceramah yang diundang ke majelis keagamaan.

Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan dakwah tidak hanya membutuhkan kemampuan menyampaikan materi agama, tetapi juga harus disertai sikap santun dan penghormatan terhadap sesama. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani