Ilustrasi kutu pembawa virus SFTS yang dapat menularkan penyakit berbahaya melalui gigitan.
MARWAHKEPRI.COM – Kutu pembawa virus menjadi ancaman serius setelah dilaporkan telah menyebabkan 422 kematian di Korea Selatan. Penyakit ini terkait dengan infeksi Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome yang terus muncul sejak pertama kali terdeteksi pada 2013.
Data dari Korea Disease Control and Prevention Agency menyebutkan, rata-rata terdapat sekitar 180 kasus setiap tahun dengan tingkat kematian mencapai 18 persen.
Apa Itu SFTS dan Cara Penularannya
SFTS merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui gigitan kutu yang hidup pada hewan seperti sapi, anjing, dan rusa. Virus ini dapat berpindah ke manusia saat terjadi kontak langsung atau saat kutu menempel di kulit.
Kutu biasanya hidup di area rumput tinggi dan hutan, sehingga risiko penularan meningkat saat seseorang beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala awal SFTS sering menyerupai penyakit ringan, seperti:
- Demam tinggi
- Muntah
- Diare
Namun dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi serius hingga menyebabkan kegagalan organ. Masa inkubasi berkisar antara 5 hingga 14 hari setelah gigitan.
Belum Ada Vaksin atau Obat Khusus
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk SFTS. Penanganan medis lebih difokuskan pada perawatan gejala untuk mencegah komplikasi.
Karena itu, deteksi dini dan penanganan cepat menjadi sangat penting untuk menekan risiko kematian.
Cara Mencegah Gigitan Kutu
Untuk menghindari paparan kutu pembawa virus, masyarakat disarankan:
- Menggunakan pakaian tertutup saat aktivitas outdoor
- Menghindari area rumput tinggi atau hutan
- Segera memeriksakan diri jika menemukan kutu menempel di tubuh
- Tidak melepas kutu secara sembarangan
Langkah pencegahan sederhana ini sangat efektif untuk mengurangi risiko infeksi. MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
