Tim gabungan melakukan pemadaman kebakaran lahan di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga. (Foto: BPBD Lingga)
LINGGA (marwahkepri.com) – Kebakaran lahan seluas lebih kurang 30 hektare di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga belum sepenuhnya padam setelah berlangsung sejak 22 Agustus 2026. Kondisi lahan yang kering akibat sekitar tiga bulan tanpa hujan serta angin kencang menjadi kendala utama proses pemadaman.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lingga Oktanius Wirsal mengatakan kebakaran telah berlangsung selama 14 hari. Dari total lahan yang terbakar, tim gabungan sejauh ini baru berhasil memadamkan sekitar 10 hektare.
“Mulai 22 Agustus sampai sekarang masih belum padam,” kata Oktanius, Jumat (4/9/2026).
Menurut Oktanius, kebakaran bermula ketika seorang warga melakukan kegiatan manduk, yakni mengumpulkan bekas tebasan dalam proses pembukaan lahan. Setelah menyelesaikan satu manduk, warga tersebut kemudian membakarnya.
Api kemudian merambat ke bagian lahan lainnya. Kondisi cuaca panas, lahan yang kering, serta angin kencang membuat api cepat meluas.
“Warga awalnya berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya, seperti ember yang diisi air dari parit di sekitar lahan. Namun api tidak terkendali,” jelasnya.
Berdasarkan laporan BPBD Lingga, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lebih kurang 30 hektare. Pemadaman masih dilakukan secara bertahap oleh personel gabungan dengan menggunakan air dari parit sekitar lokasi.
Air tersebut disemprotkan menggunakan mesin Robin milik PT CSA.
“Personel yang terlibat antara lain BPBD, Polsek Daik Lingga, Yonif TP 849/Beladau Sakti, Koramil, Pos AL, pekerja PT CSA, serta masyarakat Desa Kudung,” ujarnya.
Selain pemadaman, petugas melakukan pemantauan di sejumlah titik api dan area bekas kebakaran untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Lokasi kebakaran menjadi perhatian karena berada tidak jauh dari area perkebunan milik masyarakat.
“Jarak lokasi kebakaran dengan permukiman warga diperkirakan sekitar 1 kilometer. Sementara titik kebakaran berjarak sekitar 1,5 kilometer dari bibir jalan,” ujarnya.
Akses menuju lokasi juga menjadi kendala dalam proses pemadaman. Petugas harus melewati jalan setapak untuk mencapai titik kebakaran sekaligus membawa peralatan dan air.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran api merambat ke perkebunan sagu milik masyarakat di dua desa.
“Kita takutkan kalau api sampai ke kebun sagu warga dua desa yang jumlahnya lebih dari 800 hektare,” ujarnya.
Oktanius mengatakan kondisi lahan yang sangat kering turut memperbesar risiko kebakaran meluas. Wilayah tersebut disebut telah sekitar tiga bulan tidak mendapatkan hujan.
“Sudah tiga bulan juga belum hujan,” ujarnya.
Lahan yang terbakar sebelumnya dibuka untuk rencana pengembangan kebun kelapa hibrida yang merupakan bagian dari program Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
BPBD menduga kebakaran terjadi akibat kelalaian saat pembukaan lahan dengan metode pembakaran. Api kemudian merambat akibat kondisi cuaca panas dan angin kencang.
“Selain keterbatasan sarana dan prasarana, kendalanya juga faktor kondisi lahan yang kering,” jelas Oktanius.
Hingga Jumat (4/9/2026), tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pemantauan untuk memastikan seluruh titik api benar-benar padam.
“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sementara kerugian materiil masih dalam proses pendataan,” ujarnya.
Oktanius berharap dukungan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau maupun pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan kebakaran lahan tersebut.
Dukungan yang diharapkan antara lain berupa water bombing, operasi modifikasi cuaca, serta tambahan peralatan pemadaman.
“Harapan kita kiranya ada dukungan water bombing atau modifikasi cuaca untuk di daerah Kabupaten Lingga, serta dukungan alat dari BPBD Provinsi dan BNPB,” ujarnya. (willy)
Redaktur: Munawir Sani
