Langit Batam tampak putih diduga kabut asap. (f: mun)
BATAM (marwahkepri.com) – Kabut asap kembali terlihat menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Batam, Kepulauan Riau. Kondisi tersebut membuat jarak pandang dan pemandangan sejumlah gedung dari kejauhan tampak lebih samar dibandingkan kondisi normal.
Meski demikian, aktivitas masyarakat di Batam hingga saat ini masih berlangsung seperti biasa. Warga tetap beraktivitas di luar rumah, berkendara, maupun menjalankan kegiatan sehari-hari.
Munculnya kabut asap tersebut menjadi perhatian karena adanya potensi penurunan kualitas udara dan dampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama apabila konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 meningkat.
Sebelumnya, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam mendeteksi adanya sebaran asap dari wilayah Sumatera yang memasuki Kepulauan Riau. Pada 4 September 2026, BMKG menyebut asap terdeteksi memasuki wilayah Kepri dan bergerak ke arah utara-timur laut.
Kondisi kualitas udara Batam juga sempat mengalami peningkatan konsentrasi PM2.5. Data pemantauan BMKG pada 8 September 2026 pukul 08.00 WIB, misalnya, menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 46 µg/m³ dan masuk kategori sedang.
Sementara itu, secara nasional kondisi kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian. BMKG pada 7 September 2026 menyatakan kondisi kering, pengaruh El Niño, serta tingginya jumlah titik panas membuat September masih menjadi fase kritis karhutla. Potensi karhutla terutama berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan, disertai mulai terdeteksinya sebaran asap di sejumlah wilayah.
Data terbaru juga menunjukkan kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia sedang mengalami peningkatan. Laporan Reuters yang mengutip data Copernicus menyebut emisi kebakaran Indonesia pada 1–7 September 2026 mencapai 19,7 juta ton CO₂, dengan peningkatan aktivitas kebakaran terutama di Kalimantan dan Sumatera.
Namun, belum dapat dipastikan bahwa kabut yang terlihat di Batam saat ini berasal dari Kalimantan. Asal dan jalur pergerakan asap sangat bergantung pada lokasi titik api serta arah dan kecepatan angin. Karena itu, diperlukan analisis citra satelit dan data BMKG untuk memastikan sumber asap yang mencapai Batam.
Masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi kualitas udara. Jika kabut semakin pekat, jarak pandang menurun, atau muncul keluhan seperti batuk, iritasi mata, maupun sesak napas, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi dan penggunaan masker dapat dipertimbangkan.
BMKG menyediakan pemantauan konsentrasi PM2.5 secara mendekati waktu nyata serta informasi prediksi sebaran partikulat akibat kabut asap. MK-mun
Redaktur: Munawir Sani
