Menu MBG SPPG Air Asuk diduga picu keracunan 155 siswa di Anambas

Menu MBG yang disiapkan SPPG Air Asuk diduga menjadi penyebab keracunan 155 siswa di Anambas. (Foto: Dinkes Anambas)

ANAMBAS (marwahkepri.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Anambas mengungkap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi 155 siswa PAUD hingga SMP sebelum diduga mengalami keracunan massal, Rabu (15/4/2026).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Anambas Feri Oktavia mengatakan menu MBG yang dikonsumsi siswa terdiri dari beberapa jenis makanan.

“Menu yang disajikan berupa telur sambal kecap, tempe goreng, tumis sayur (sawi, wortel, dan buncis), serta buah apel dan kelengkeng,” kata Feri, Kamis (16/4/2026).

Berdasarkan flyer dari SPPG Air Asuk, menu tersebut juga dilengkapi informasi kandungan gizi. Untuk porsi kecil, makanan tersebut memiliki energi 427,6 kkal, protein 17,6 gram, lemak 13,8 gram, karbohidrat 62 gram, dan serat 1,5 gram.

Sementara untuk porsi besar, kandungan gizinya mencapai energi 607,3 kkal, protein 20,6 gram, lemak 14 gram, karbohidrat 101,8 gram, serta serat 1,7 gram.

Meski komposisi menu terlihat memenuhi unsur gizi, Dinas Kesehatan menyebut penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam proses penyelidikan.

Baca Juga:  Polsek Lubuk Baja Razia Gelper Superstar 21 di Nagoya, Tak Temukan Praktik Judi dan Miras

“Masih dalam pemeriksaan. Untuk pemeriksaan awal kita menggunakan sanitirian kit, namun selanjutnya sampel akan dikirim ke Batam untuk diperiksa lebih lanjut di BPOM atau Labkesmas,” ujarnya.

Sebelumnya, 155 siswa dari tingkat PAUD hingga SMP di Kabupaten Kepulauan Anambas dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi MBG. Para korban mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.

Feri menambahkan, siswa yang terdampak berasal dari beberapa sekolah dan berbagai jenjang pendidikan. Sumber makanan MBG berasal dari satu SPPG.

“Bukan dari satu sekolah saja, tapi dari beberapa sekolah berbeda. Makanannya dari satu SPPG,” jelasnya.

Selain siswa, sejumlah orang tua murid juga dilaporkan mengalami gejala serupa karena ikut mengonsumsi makanan jatah anak atau cucu yang dibawa pulang.

“Ada juga orang tua yang ikut keracunan karena makan jatah anak atau cucunya yang dibawa pulang,” ujarnya. MK-nang

Redaktur: Munawir Sani