5b637394-16b3-4356-bf3a-b5b6699b44b3

Ilustrasi. (Foto: AI)

‎NATUNA (marwahkepri.com) – Harga kelapa bulat yang sempat menjadi harapan baru bagi masyarakat Natuna kini kembali terpuruk.
‎
‎Setelah sempat menyentuh harga sekitar Rp5.000 per butir hingga akhir 2025, kini harga komoditas tersebut anjlok berkisar Rp1.200 per butir di tingkat penampung.
‎
‎Penurunan drastis tersebut dikeluhkan masyarakat karena berdampak langsung terhadap pendapatan rumah tangga, terutama warga yang menggantungkan penghasilan dari hasil kebun kelapa.
‎
Keluhan itu disampaikan Kepala Desa Kelarik Utara juga Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Natuna, Zapridin, kepada Bupati Natuna Cen Sui Lan dalam kunjungan kerja di Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, Sabtu (6/6/2026).
‎
‎“Dulu harganya sampai Rp5.000 per butir, sekarang tinggal Rp1.200. Waktu harga naik kemarin masyarakat sangat terbantu,” ujar Zapridin.
‎
‎Menurutnya, kenaikan harga kelapa terjadi pada tahun lalu sempat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Bahkan warga yang hanya memiliki beberapa pohon kelapa di pekarangan rumah tetap dapat merasakan tambahan penghasilan yang cukup berarti.
‎
‎“Kalau kemarin sangat terbantu. Punya lima pokok kelapa saja sudah ada uang,” katanya.
‎
‎Ia menilai kelapa merupakan salah satu komoditas potensial bagi masyarakat Natuna. Karena itu, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah konkret agar harga kembali membaik.
‎
‎“Kami berharap ada solusi dari pemerintah agar harga kelapa bisa kembali naik sehingga ekonomi masyarakat kembali bergerak,” harapnya.
‎
‎Menanggapi hal tersebut, Bupati Natuna Cen Sui Lan mengakui bahwa penurunan harga kelapa tidak hanya terjadi di Natuna, melainkan hampir di seluruh daerah penghasil kelapa di Indonesia.
‎
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi turunnya harga adalah kebijakan pembatasan ekspor kelapa yang menyebabkan permintaan pasar menurun.
‎
“Harga kelapa memang sedang turun secara nasional karena ekspor dibatasi. Tidak seperti sebelumnya yang dibuka besar-besaran,” jelas Cen Sui Lan.
‎
Meski demikian, ia memastikan Pemerintah Kabupaten Natuna tidak akan tinggal diam. Bupati meminta dinas terkait untuk mencari berbagai alternatif solusi guna membantu petani dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas kelapa.
‎
‎“Nanti kita dari Pemda akan upayakan solusinya,” tegasnya.
‎
‎Cen juga mengungkapkan bahwa pemerintah pusat akan memberikan bantuan bibit kelapa untuk pengembangan lahan seluas 500 hektare di Natuna.
‎
‎Program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu upaya jangka panjang dalam memperkuat sektor perkebunan kelapa di daerah.
‎
‎“Pusat juga baru memberikan bantuan bibit kelapa untuk 500 hektare. Ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin,” katanya.
‎
‎Anjloknya harga kelapa menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap pasar bahan mentah masih menjadi tantangan bagi petani.
‎
‎Karena itu, selain menjaga stabilitas harga, pengembangan industri hilir berbasis kelapa dinilai penting agar produk kelapa memiliki nilai tambah dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasar ekspor. MK-nang

Baca Juga:  Polsek Bunguran Timur Sigap Amankan Turnamen Voli HUT ke-108 Desa Kelanga

Redaktur: Munawir Sani