siswa-sd-di-pandeglang-belajar-di-perpustakaan-karena-kelas-terbatas

Siswa SD di Pandeglang belajar di perpustakaan karena kelas terbatas (Foto: Aris Rivaldo/detikcom)

PANDEGLANG (marwahkepri.com) – Persoalan kekurangan ruang kelas di SD Negeri (SDN) Banjarwangi, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten, belum sepenuhnya teratasi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang mengakui sekolah tersebut masih membutuhkan tambahan tiga ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih layak.

Pengakuan itu disampaikan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Pandeglang, Rifa’i, setelah pihaknya melakukan asesmen langsung ke sekolah tersebut.

Rifa’i menjelaskan, SDN Banjarwangi sebelumnya telah menerima bantuan program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat. Namun, bantuan tersebut hanya mencakup enam ruang kelas sehingga belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan sekolah.

Akibatnya, sejumlah siswa masih harus menggunakan fasilitas lain untuk mengikuti pelajaran, termasuk musala dan perpustakaan.

“Memang dari awal itu kaitan jumlah rombel di Banjarwangi kekurangan ruang tiga kelas,” kata Rifa’i kepada detikcom, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, persoalan tidak hanya terletak pada kekurangan ruang kelas. Kondisi perpustakaan dan musala yang belum tersentuh program revitalisasi juga menjadi perhatian pemerintah daerah.

Perpustakaan Rusak Jadi Prioritas Perbaikan

Baca Juga:  Dorong Kualitas Guru, PGRI Lingga Sampaikan Masukan Strategis ke Disdikpora

Pemkab Pandeglang berencana memetakan kebutuhan perbaikan fasilitas sekolah pada awal tahun anggaran mendatang. Salah satu yang akan diprioritaskan adalah bangunan perpustakaan karena kondisinya dinilai cukup mengkhawatirkan.

Rifa’i mengatakan pemerintah daerah akan mendorong perbaikan ruangan tersebut agar dapat kembali digunakan sebagaimana mestinya.

“Yang mengkhawatirkan yang belum terintervensi ruang perpustakaan dan musala. Kami coba nanti petakan di awal tahun anggaran baru karena kami melihat urgent perlu kita dorong diperbaiki untuk ruangan perpustakaan,” ujarnya.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan ruang kelas baru (RKB), Dindikpora mempertimbangkan pembangunan gedung bertingkat dua. Skema tersebut dinilai dapat menjadi alternatif apabila keterbatasan anggaran dan lahan menjadi kendala.

Namun, rencana pembangunan itu masih bergantung pada kemampuan keuangan daerah melalui APBD Kabupaten Pandeglang.

“Kalau anggarannya ada di Pemda Kabupaten Pandeglang, kita mencoba perbaikan ruang kelas dengan menggunakan struktur untuk lantai dua. Itu harus ada dulu anggarannya, baru setelah itu kebutuhan ruang kelas bisa di atasnya bertahap,” jelas Rifa’i.

Siswa Sudah Bertahun-tahun Belajar di Musala dan Perpustakaan

Baca Juga:  Andien Bangun Sekolah Gratis Kelima, Modal Awal dari Royalti Lagu

Sebelumnya, kondisi keterbatasan ruang belajar di SDN Banjarwangi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejumlah siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di musala dan perpustakaan karena ruang kelas yang tersedia tidak mencukupi.

Kepala SDN Banjarwangi, Alis Syarah, mengungkapkan kondisi tersebut sudah terjadi sejak sekitar 10 tahun lalu, bahkan sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah.

Ia mengatakan, selama empat tahun memimpin sekolah tersebut, persoalan itu belum sepenuhnya terselesaikan.

Menurut Alis, terdapat tiga rombongan belajar yang harus menggunakan ruangan selain kelas. Siswa kelas satu dan kelas dua yang masuk pada sesi siang belajar di musala, sedangkan siswa kelas empat menempati perpustakaan.

Keterbatasan fasilitas juga membuat sebagian siswa harus belajar tanpa menggunakan meja dan kursi yang memadai.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan sarana pendidikan di SDN Banjarwangi. Pemkab Pandeglang kini berencana memetakan kebutuhan perbaikan dan pembangunan secara bertahap, menyesuaikan ketersediaan anggaran daerah. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani