Prototype kapal hybrid layar dan listrik untuk nelayan hasil pengembangan BRIN

BRIN mengembangkan kapal hybrid berbasis angin dan listrik untuk menekan biaya operasional nelayan hingga 76 persen.

JAKARTA (marwahkepri.com) – Di tengah gelombang laut dan ketidakpastian cuaca, nelayan kecil Indonesia masih menghadapi tantangan klasik: bahan bakar. Sekitar 80 persen nelayan tradisional hingga kini masih bergantung pada kapal berbahan bakar fosil. Ketergantungan ini membuat biaya operasional membengkak dan secara langsung memengaruhi kesejahteraan mereka.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Webinar Energi Manufaktur (ENMA) Edisi 03 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rabu (18/2). Melalui Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH), BRIN mendorong lahirnya inovasi kapal perikanan berbasis energi baru terbarukan.

Kepala Pusat Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, menegaskan bahwa tingginya biaya bahan bakar—yang bisa mencapai 70 persen dari total pengeluaran operasional—menjadi beban utama nelayan kecil.

“Untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan mutu hasil tangkap, dibutuhkan kapal dengan teknologi terkini yang mengedepankan energi baru terbarukan serta sistem monitoring digital,” ujarnya.

Menjawab tantangan tersebut, Perekayasa Ahli Muda PRTH BRIN Nanang Setiyobudi memaparkan pengembangan kapal hybrid layar-listrik untuk penangkapan rajungan. Inovasi ini menggabungkan tenaga angin dan listrik sebagai sistem penggerak, sehingga mampu menghemat bahan bakar minyak hingga 76 persen setiap perjalanan.

Baca Juga:  BP Batam dan BRIN Perkuat Riset Ketahanan Air, Dukung Industri Berkelanjutan

Tak hanya hemat energi, kapal ini dirancang mampu beroperasi selama 10 hari di laut dan menampung hasil tangkapan hingga dua ton. Jarak tempuhnya pun lebih jauh dibanding kapal tradisional, yang rata-rata hanya mampu mencapai 12 mil laut dari pesisir.

Nanang menjelaskan, rajungan berukuran lebih dari 13 sentimeter umumnya berada di perairan yang lebih dalam—wilayah yang sulit dijangkau nelayan kecil. Dengan kapal hybrid, akses ke wilayah tangkap yang lebih produktif diharapkan terbuka lebih luas.

Inovasi ini mendapat sambutan positif dari Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia (APRI). Ketua APRI, Kuncoro Catur Nugroho, menyebut bahwa sentra produksi rajungan terbesar berada di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur.

“Kami membutuhkan kapal tangkap yang cepat, efisien, dan menggunakan energi baru terbarukan. Selain itu, sistem penyimpanan hasil tangkapan juga harus modern agar kualitas tetap terjaga,” katanya.

Selain kapal hybrid, BRIN juga mengembangkan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk kapal tangkap rajungan, serta kapal ancak berbahan fiberglass guna mendukung panen rumput laut yang lebih efisien.

Baca Juga:  Penelitian Ungkap Kebiasaan Menghisap Pinang di Sulawesi Sudah Ada Sejak Zaman Es

Webinar tersebut juga menghadirkan perspektif global. Senior Lecturer in Naval Architecture dari Newcastle University, Simon Benson, menyoroti bahwa banyak nelayan dunia masih menggunakan kapal terbuka tradisional yang minim aspek keselamatan.

Karena itu, BRIN mendorong kolaborasi pentahelix—melibatkan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, media, dan komunitas nelayan—untuk memastikan inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan benar-benar aplikatif di lapangan.

Pengembangan kapal berbasis energi terbarukan dinilai sejalan dengan agenda ekonomi biru dan transisi energi bersih. Lebih dari sekadar inovasi teknologi, langkah ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan ekspor perikanan, sekaligus mengangkat kesejahteraan nelayan Indonesia.

Di tengah kebutuhan akan energi yang semakin efisien dan ramah lingkungan, kapal hybrid bukan hanya soal teknologi baru. Ia menjadi harapan baru bagi nelayan kecil untuk melaut lebih jauh, menangkap lebih banyak, dan pulang dengan senyum yang lebih lebar.(*)

Redaktur : Munawir Sani