Gedung Bank Indonesia di Jakarta terkait data Utang Luar Negeri RI

Utang Luar Negeri RI naik jadi US$ 431,7 miliar pada triwulan IV-2025. (f: ai)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan IV-2025 mencapai US$ 431,7 miliar atau setara Rp 7.298 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.906. Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan III-2025 sebesar US$ 427,6 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan kenaikan posisi ULN terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN sektor publik.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” kata Denny dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).

Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,9% pada triwulan IV-2025. ULN didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 85,7% dari total utang.

ULN pemerintah pada triwulan IV-2025 tercatat sebesar US$ 214,3 miliar, naik dari posisi triwulan III-2025 sebesar US$ 210,1 miliar. Kenaikan dipengaruhi aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

“Seiring tetap baiknya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” jelas Denny.

ULN pemerintah sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diarahkan untuk mendukung program prioritas dan menjaga keberlanjutan fiskal. Penggunaannya difokuskan pada sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,1%, Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 19,8%, Jasa Pendidikan 16,2%, Konstruksi 11,7%, serta Transportasi dan Pergudangan 8,6%.

Baca Juga:  Ironis, Indonesia Jadi Negara dengan Belanja Pendidikan Terendah di Daftar UNESCO, Hanya 1,3 Persen dari PDB

“ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur dan akuntabel. Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah,” ungkap Denny.

Sementara itu, ULN swasta menurun menjadi US$ 192,8 miliar pada triwulan IV-2025, dipengaruhi penurunan utang perusahaan bukan lembaga keuangan.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa 79,9% dari total ULN swasta.

“ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,3% terhadap total ULN swasta,” beber Denny.

BI bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN guna menjaga struktur utang tetap sehat dan meminimalkan risiko terhadap stabilitas perekonomian.

“Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” pungkas Denny. MK-dtc

Redaktur : Munawir Sani