CEO Apple Tim Cook tiba di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/4/2024). Tim Cook tiba pukul 08.55 WIB untuk bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan menaiki mobil Mercy pelat B-227-MPM. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Jakarta – Tim Cook resmi meninggalkan jabatan CEO Apple setelah memimpin perusahaan selama 15 tahun. Mulai 1 September 2026, tongkat kepemimpinan Apple beralih kepada John Ternus, sementara Cook menempati posisi sebagai Executive Chairman.
Di bawah kepemimpinan Cook, Apple berkembang menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Kapitalisasi pasar Apple tumbuh dari sekitar US$350 miliar saat Cook mengambil alih pada 2011 menjadi sekitar US$4,5 triliun pada akhir masa jabatannya.
Namun, perjalanan Cook tidak sepenuhnya diwarnai kesuksesan. Sejumlah produk dan proyek Apple mengalami kegagalan, sementara perusahaan juga menghadapi persoalan hukum dan tekanan regulasi yang cukup besar.
Berikut sejumlah blunder dan tantangan terbesar yang mewarnai 15 tahun kepemimpinan Tim Cook.
1. Apple Vision Pro
Apple Vision Pro menjadi salah satu pertaruhan terbesar Cook di pasar perangkat wearable. Headset spatial computing tersebut meluncur pada 2024 dengan harga US$3.499 atau sekitar Rp55 juta.
Harga tinggi dan penggunaan yang dinilai masih terbatas membuat Vision Pro kesulitan menarik konsumen massal. Apple kemudian memangkas produksi dan pemasaran perangkat tersebut setelah penjualan dinilai lemah.
Pada 2026, Apple juga memangkas lebih dari 200 posisi di tim Siri dan Vision Pro. Pemangkasan tersebut mencakup pengurangan tim konten imersif dan hampir seluruh tim pengembangan gim untuk Vision Pro.
2. Proyek Mobil Listrik Apple
Ambisi Apple masuk ke industri otomotif melalui Project Titan juga berakhir tanpa produk yang pernah dipasarkan.
Proyek mobil listrik dan kendaraan otonom itu dikembangkan selama bertahun-tahun sejak sekitar 2014. Setelah menghabiskan miliaran dolar dan melalui sejumlah perubahan strategi, Apple akhirnya membatalkan proyek tersebut pada 2024.
Pembatalan Project Titan menjadi salah satu kegagalan proyek terbesar Apple di era Cook. Reuters menyebut proyek tersebut sebagai salah satu tonggak inovasi yang tidak berhasil diwujudkan selama masa kepemimpinannya.
3. Drama Siri dan Apple Intelligence
Siri juga menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Apple dalam beberapa tahun terakhir.
Asisten virtual yang diperkenalkan pada era awal kepemimpinan Cook dinilai tertinggal dibandingkan perkembangan teknologi AI dari perusahaan seperti Google, OpenAI, dan Anthropic.
Upaya Apple menghadirkan Siri generasi baru melalui Apple Intelligence pun mengalami penundaan. Apple kemudian mengumumkan kerja sama dengan Google untuk menggunakan model Gemini sebagai fondasi bagi Siri yang diperbarui.
Persoalan tersebut bahkan berujung pada gugatan konsumen. Pada Mei 2026, Apple menyepakati penyelesaian senilai US$250 juta terkait gugatan yang menuduh perusahaan menyesatkan konsumen mengenai ketersediaan fitur AI Siri yang sebelumnya dijanjikan. Apple tidak mengakui kesalahan dalam penyelesaian tersebut.
4. Perseteruan App Store dan Regulasi
Kebijakan Apple dalam mengendalikan App Store juga menjadi sumber persoalan selama era Cook.
Apple terlibat perseteruan hukum dengan Epic Games setelah pengembang Fortnite tersebut menentang sistem pembayaran dan komisi App Store. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai kendali Apple terhadap ekosistem aplikasinya.
Di Eropa, Apple juga menghadapi tekanan dari regulasi Digital Markets Act (DMA). Regulasi tersebut memaksa Apple melakukan sejumlah perubahan terhadap aturan App Store dan ekosistem iOS.
Masalah App Store menjadi salah satu tantangan terbesar Cook karena menyangkut model bisnis layanan Apple sekaligus hubungan perusahaan dengan pengembang.
5. Peluncuran Apple Maps
Apple Maps menjadi salah satu blunder perangkat lunak paling terkenal pada awal masa kepemimpinan Cook.
Aplikasi tersebut diluncurkan pada 2012 sebagai pengganti Google Maps di perangkat Apple. Namun, versi awalnya dikritik karena banyaknya kesalahan data lokasi, informasi yang tidak akurat, hingga masalah navigasi.
Kontroversi tersebut bahkan membuat Cook menyampaikan permintaan maaf kepada pengguna dan menyarankan mereka menggunakan layanan peta alternatif.
Seiring waktu, Apple terus memperbaiki Maps hingga menjadi layanan navigasi yang jauh lebih matang. Namun, kegagalan pada peluncuran awalnya tetap menjadi salah satu noda dalam sejarah Apple di era Cook.
Tugas Baru Cook: Menjaga Hubungan Politik Apple
Selain persoalan produk dan teknologi, Cook juga meninggalkan warisan kontroversial dalam hubungan Apple dengan pemerintah dan para pembuat kebijakan.
Selama berhadapan dengan pemerintahan Donald Trump, Cook dikenal mengambil pendekatan pragmatis untuk melindungi kepentingan bisnis Apple dari ancaman tarif dan perubahan kebijakan perdagangan.
Langkah tersebut membuat Cook mampu menjaga hubungan dengan pemerintahan AS, tetapi juga memunculkan kritik karena dinilai berseberangan dengan sebagian nilai yang selama ini dikampanyekan Apple.
Kini, meski tidak lagi menjabat CEO, Cook belum sepenuhnya meninggalkan panggung strategis Apple. Sebagai Executive Chairman, ia tetap akan membantu perusahaan dalam sejumlah urusan, termasuk berinteraksi dengan para pembuat kebijakan di berbagai negara. Hal tersebut memang menjadi bagian dari peran baru Cook yang diumumkan Apple.
Sementara itu, John Ternus mewarisi perusahaan raksasa dengan posisi finansial yang sangat kuat, tetapi juga menghadapi sejumlah pekerjaan rumah besar, terutama dalam bidang kecerdasan buatan.
Tantangan Ternus adalah mempertahankan mesin bisnis yang dibangun Cook sekaligus menjawab pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab Apple: apa inovasi besar berikutnya setelah era iPhone? MK-mun
Redaktur : Munawir Sani
