IFRAME SYNC

Kekerasan Seksual Terhadap Anak Meningkat, Polres Natuna Gelar FGD

Polres Natuna menggelar FGD bersama FKPD dan forum lintas agama, serta berbagai unsur masyarakat, Jumat (11/8/2023) bertempat di Ranai Square. (Foto: nang)

NATUNA (marwahkepri.com) – Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, menjadi perhatian serius Kepolisian Resor (Polres) Natuna.

Untuk itu, digelar Focus Group Discussion (FGD) bersama FKPD dan forum lintas agama serta berbagai unsur masyarakat, Jumat (11/08/2023) bertempat di Ranai Square.

Kasi Humas Polres Natuna, Aipda David Arviad mengatakan, saat ini kepolisian telah meluncurkan program REUNI (Rumah Edukasi Anak di Ujung Negeri).

Program ini dilucurkan karena tingginya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah hukum Polres Natuna.

“Kami mengundang bapak dan ibu hadir disini untuk mencari langkah bagaimana menekan atau kalau bisa menghilangkan kasus ini ditengah masyarakat,” ujar David.

Menurutnya, terdapat 6 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang telah ditangani Polres Natuna. Namun jumlah real di lapangan tidak bisa dipastikan karena belum terungkap.

“Melalui kegiatan ini kita berharap melahirkan komitmen bersama antara pihak kepolisian, TNI, pemda, kejaksaan, insan pers, tokoh agama dan tokoh masyarakat, sehingga dapat memecahkan persoalan ini di Kabupaten Natuna,” sebutnya.

Sementara itu, tokoh agama Tionghoa, Puatenghin alias Cucu mengaku, sangat kaget mendengar kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat.

Persoalan ini menurutnya, tanggungjawab paling besar ada pada keluarga, sebagai orang paling dekat dengan anak.

“Menurut saya, persoalan paling besar ada pada internal keluarga. Jadi orangtua itu harus sensitif terhadap anak,” ujarnya.

Sambungnya, kedepan perlu diundang orangtua murid pada acara FGD seperti ini, sehingga semua pihak mengetahui tanggungjawab masing-masing.

Sedangkan Kepala Dinas Sosial Natuna, Puryanti mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus ini, salah satunya adalah masalah kemiskinan.

Karena kemiskinan, orangtua sibuk mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, sehingga anak terabaikan dan tidak terkontrol.

“Jadi disini kami senang sekali dengan adanya acara ini. Miris sekali melihat data itu, apalagi pelakunya orang terdekat, bukan melindungi malah merusak,” ucapnya.

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan penandatangan komitmen bersama dalam penanggulangan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. MK-nang

Redaktur: Munawir Sani

IFRAME SYNC
-
mgid.com, 846953, DIRECT, d4c29acad76ce94f