Amran, Pemimpin Redaksi Koranperbatasan.com.
NATUNA (marwahkepri.com) – Pemimpin Redaksi koranperbatasan.com, Amran, menyampaikan keberatan atas pernyataan Anna Chapman di grup WhatsApp Berita Natuna Grup,,CCTV-NYA Masyarakat Natuna, Sabtu, 14 Februari 2024.
Dalam pernyataannya, Anna Chapman (+84 35 515 2051) sekitar pukul 09.07 WIB, menyebutkan :
“SECARA BERANGSUR ANGSUR OKNUM WARTAWAN ABAL ABAL AKAN TERGERUS OLEH SITUASI DAN KEMAJUAN IT KE DEPANNYA. SEMAKIN MAJU NATUNA, OKNUM WARTAWAN ABAL ABAL YANG MERUSAK DAN MENGHAMBAT PEMBANGUNAN NATUNA AKAN BERKURANG SEIRING DENGAN SEMAKIN TERBUKA DAN SEMAKIN BERSIHNYA PEMKAB NATUNA. SEKARANG LAHAN UNTUK MEREKA SEMAKIN SEMPIT DAN SEMAKIN TIDAK ADA, KARENA PENGELOLAAN PEMKAB SEMAKIN BERSIH. MUDAH MUDAHAN ORANG YANG PUNYA KEPEDULIAN UNTUK KEMAJUAN NATUNA SEMAKIN BANYAK. DAN OKNUM OKNUM PEMKAB YANG REZIM LAMA YANG KORUP TIDAK ADA TEMPAT LAGI BAGI MEREKA TERMASUK OKNUM OKNUM WARTAWAN ABAL ABAL ITU. REZIM LAMA ITU TERLALU KORUP SEHINGGA KEMAREN ITU OKNUM WARTAWAN ABAL ABAL MENDAPAT TEMPAT. SEJAK PEMERINTAHAN BU CEN SUI LAN, BAIK ITU OKNUM KORUP DI PEMKAB NATUNA DAN OKNUM WARTAWAN ABAL ABAL TIDAK ADA TEMPAT UNTUK MEREKA. NATUNA MAJU: NATUNA MILIK KITA BERSAMA”.
Menurut Amran, percakapan yang menyebut “wartawan abal-abal” dalam narasinya, bukan hanya menyerang individu, tetapi berpotensi menggeneralisasi dan merendahkan profesi insan pers di Natuna secara keseluruhan.
“Ketika menyebut wartawan abal-abal tanpa menyebut oknum atau identitas jelas, itu sama saja menuduh satu wadah besar insan pers Natuna tidak profesional,” ujarnya.
Ia menilai, pernyataan semacam itu dapat mencederai nilai demokrasi, mengingat Pers merupakan salah satu pilar demokrasi yang memiliki fungsi kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan daerah.
Selain itu, ia juga menilai narasi tersebut berpotensi menjadi provokasi terbuka karena disampaikan di dalam grup dengan jumlah ribuan anggota.
“Pernyataan itu disampaikan secara terbuka di grup, sehingga berpotensi membentuk opini negatif terhadap profesi wartawan,” katanya.
Wartawan yang mengaku telah aktif menulis di Natuna sejak 2004 itu menyebut, selama lebih dari dua dekade berkarier, baru kali ini ada pihak yang secara terbuka menyebut wartawan di Natuna sebagai abal-abal.
Ia juga menegaskan bahwa mayoritas wartawan di Natuna telah mengikuti dan lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
“Dibandingkan sejumlah daerah lain, wartawan di Natuna hampir seluruhnya sudah mengikuti UKW sebagai bentuk komitmen profesionalisme,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut karya jurnalistik wartawan Natuna juga telah beberapa kali meraih penghargaan dalam lomba karya jurnalistik tingkat nasional, yang menjadi bukti bahwa kualitas pers di daerah tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.
Terkait polemik yang muncul di grup What’sApp tersebut, ia meminta admin grup untuk turut bertanggung jawab atas konten atau narasi dimuat oleh anggotanya agar tidak berkembang menjadi informasi liar merugikan pihak tertentu.
Selain itu, Amran mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak memiliki dasar jelas.
“Saya berharap masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan sepihak tanpa bukti dan data yang dapat merusak citra pers Natuna,” katanya.
Ia juga meminta aparat penegak hukum untuk segera mengungkap identitas akun anonim tersebut.
“Saya berharap aparat penegak hukum mengusut siapa ‘Anna Chapman’ agar tuduhan tersebut dapat diklarifikasi secara terbuka,” pungkasnya.mk-nang
