pemimpin-tertinggi-iran-mojtaba-khamenei-

Mojtaba Khamenei. (f: reuter)

WASHINGTON DC (marwahkepri.com) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait kondisi kepemimpinan Iran. Dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Fox News, Trump mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, “90 persen telah tiada (gone)” setelah konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Trump juga mengeklaim sebagian besar petinggi militer Iran telah tewas dan kemampuan pertahanan negara tersebut mengalami kehancuran.

“Mereka tidak memiliki Angkatan Laut. Mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Semuanya sudah lenyap. Pertahanan anti-pesawat mereka sudah musnah. Para pemimpin mereka semuanya telah tewas,” ujar Trump.

Dalam wawancara tersebut, Trump sempat keliru menyebut nama mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai “Khomeini”, yang sebenarnya merujuk pada Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran yang wafat pada 1989.

“Para pemimpin terbaik mereka telah tewas. Mereka sudah habis. Khomeini sudah tiada,” ucap Trump.

Trump kemudian menambahkan klaim lain mengenai kondisi Mojtaba Khamenei.

“Putranya, 90 persen telah tiada,” katanya, merujuk kepada Mojtaba Khamenei yang kini menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Baca Juga:  Fantastis! Uang Korupsi Rp359 Miliar Ditemukan dalam 11 Galon Air

Hingga saat ini, tidak ada bukti independen maupun pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang mengonfirmasi klaim Trump mengenai kondisi Mojtaba Khamenei. Sejak diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada awal Maret 2026, Mojtaba memang belum pernah tampil di hadapan publik.

Sejumlah laporan sebelumnya menyebut Mojtaba Khamenei masih menjalani pemulihan setelah mengalami luka akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Pernyataan Trump tersebut kembali menambah ketegangan narasi terkait konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang hingga kini masih menjadi perhatian dunia internasional. MK-mun

Redaktur : Munawir Sani